PT Kereta Api Lagi-lagi Merugi |
TARIF boleh saja naik, tapi bukan berarti kualitas pelayanan PT Kereta Api Indonesia (KAI) juga membaik. Selama tahun lalu, kinerja finansial perusahaan maupun kualitas pelayanan dan keselamatan penumpang tidak menunjukkan peningkatan. Begitulah kesimpulan Indonesian Railway Watch (IRW) yang disiarkan Selasa pekan lalu.
Tahun lalu, perusahaan kuda besi itu tampaknya lebih besar pasak daripada tiang. Lihat saja, pendapatan PT KAI tercatat Rp 1,905 triliun, tapi pengeluarannya mencapai Rp 1,953 triliun. Ini berarti perusahaan negara itu merugi Rp 48 miliar. Hal ini diakui Direktur IRW, Taufik Hidayat, yang mengatakan, "Itu hasil terburuk sejak tahun 1993."
Selain kerugian finansial, kualitas pelayanan kereta api juga menurun. Jadwal kereta sering terlambat karena lokomotif rusak. Selama setahun, lokomotif mogok 1.726 kali. Keterlambatan itu pula yang sering menyebabkan kecelakaan. Sepanjang tahun lalu, kereta api tak ubahnya jalur maut dengan 231 kali kecelakaan. Angka itu naik tajam dari tahun 2001, sekitar 155 kali. "Nilai rapornya merah semua," ujar Taufik. Ditambahkannya, kinerja buruk PT KAI menyebabkan restrukturisasi usaha kereta api terasa kian mendesak. Dalam konteks ini, perlu dipikirkan untuk membuka peluang bisnis kereta api bagi swasta.
|