|
BAIK belum tentu benar. Itulah gambaran yang terjadi sekarang dengan adanya kenaikan bahan bakar minyak (BBM). Sebagaimana dikatakan pemerintah, kenaikan BBM demi mengurangi beban APBN dan mengembalikan dana subsidi ke masyarakat kecil.
Masalah subsidi BBM memang dilematis. Persoalannya, masyarakat yang tergolong mampu pun ikut menikmati subsidi. Di sini terlihat kondisi ketidaktepatan sasaran kebijakan subsidi. Karena itu, pencabutan subsidi bisa dinilai cukup tepat, apalagi adanya kompensasi bagi lapisan yang tak mampu. Ini diwujudkan dalam bentuk biaya gratis untuk pengobatan dan keringanan biaya pendidikan.
Presiden Megawati Soekarnoputri pernah menandaskan bahwa kenaikan itu merupakan pilihan terbaik jika bangsa ini mau mengurangi ketergantungannya dari bantuan luar negeri. Ini adalah pilihan terbaik. Ditegaskan, Presiden mengambil pilihan yang tidak populer karena dia yakin dalam jangka panjang keputusan itu akan dapat memperbaiki kehidupan bangsa.
Namun, hal baik tersebut belum tentu benar. Kebijakan tersebut dianggap oleh sebagian masyarakat sebagai kebijakan anti-rakyat. Selain itu, kenaikan BBM ternyata juga diikuti dengan kenaikan tarif dasar listrik dan telepon.
Andaikata kebijakan itu mengarah pada injeksi spirit nasionalisme dan itu memberikan makna konstruktif bagi bangsa ini, selayaknya direspons secara positif-proporsional. Jika tidak setuju atas kenaikan tersebut, hendaknya dilakukan dengan cara-cara demokratis dan tidak harus demonstratif-destruktif karena hal ini akan mengakibatkan kerugian bagi semua pihak.
DADANG ISKANDAR
Jalan Menteng Granit 4, Menteng Atas
Jakarta Selatan
|