|
Karena satu dan lain hal, teks Catatan Pinggir kadang-kadang mengandung kekurangan ketika terbit. Versi yang benar sebab itu akan diterbitkan kembali dalam bentuk buku.
Dalam ”Perang” (TEMPO, Edisi 9 Februari 2003), misalnya, terdapat kekeliruan. Empat alinea terakhir seharusnya sebagai berikut:
Para juru bicara ”perang yang adil”, seperti Weigel, memang cenderung bertolak dari anggapan bahwa manusia dapat terjun ke medan tempur dengan ”kejelasan moral”. ”Perang yang adil”, begitulah inti argumen mereka, adalah tindak kekerasan oleh sebuah subyek yang berniat adil. Tapi benarkah dalam perang sang ”subyek” hadir bak sang ethikus di depan meja yang rapi? Bukankah selalu ada keretakan dalam ”sebuah subyek”? Bukankah tiap kita terdiri dari akal budi yang tampaknya lurus, tapi mungkin bertaut dengan nafsu yang terpendam? Apalagi jika ”kita”, sang ”subyek”, adalah sebuah bangsa, yang beragam dan berjuta-juta?
Dalam Alkitab kita baca bagaimana Yosua menggepuk Kota Yerikho. ”Mereka menumpas dengan mata pedang segala sesuatu yang di dalam kota itu, baik laki-laki maupun perempuan, baik tua maupun muda….” Bahwa kebuasan ini tak dikutuk sebagai ”perang yang tidak adil”, jawabnya jelas: karena nilai-nilai saat itu hanya ditentukan oleh Yahweh, sebuah sumber yang dinyatakan tunggal. Di bawah ketertiban-Nya, tak kita temukan cerita tentang bawah sadar yang payau dalam diri para pendekar Bani Israel.
Namun kita hidup di zaman pasca-Yosua. Sejarah makin bisa bercerita tentang kekejian yang dilakukan ”dengan perkenan” Yang Mahabenar, dan Yang Mahabenar kini tampak hadir dalam pelbagai tafsir. Yang esa telah mati. Di masa seperti ini, adakah ”kejelasan moral” yang sejernih cermin di salon kecantikan? Saya ragu. Yang ada akhirnya ”kejelasan” yang dinilai oleh diri sendiri.
Dari risalah Weigel kita peroleh kesan yang kuat bahwa ”kejelasan” itu dimiliki Amerika—seakan-akan negeri itu tak terdiri dari pelbagai suara yang bertentangan dan pelbagai kepentingan yang saling berkontradiksi. Seakan-akan negeri itu, dengan kekuasaan yang mutlak atas senjata nuklir, dengan pandangan yang syak dan angkuh ke seluruh dunia, akan dengan sendirinya bisa melihat jernih apa yang moral dan yang tidak, dan merasa berhak untuk tiap saat angkat senjata.
Betapa menakutkan….
Saya teringat akan secarik kertas. Saya melihatnya tersampir di bawah lengkung gerbang Washington Square, New York, sehari setelah 11 September 2001. Mungkin untuk mengingatkan sebuah bangsa yang tengah merasa marah dan sedang merasa benar, di sana tersurat tulisan tangan yang mengutip Nelson Mandela: ”Adalah cahaya terang kita, bukan kegelapan kita, yang paling menakutkan kita.”
Terima kasih—Red
|