Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 51/XXXI/17 - 23 Februari 2003
   
Nasional

Mega Menunggu Juru Bicara

Diamnya Megawati bisa ditutupi dengan juru bicara. Tapi Mega sendiri merasa tak perlu.

Bapaknya singa podium, anaknya murai pendiam. Tapi peruntungan politiklah yang mendudukkan mereka di kursi yang sama: menjadi Presiden Republik Indonesia. Cuma, pendiamnya Megawati Soekarnoputri, sang murai, kini disoroti banyak kalangan.

Dewan Perwakilan Rakyat bahkan meminta Megawati mengangkat juru bicara kepresidenan. Menurut Syamsul Muarif, Menteri Informasi dan Komunikasi, permintaan itu telah disampaikan Komisi Pertahanan dan Keamanan DPR.

Megawati Soekarnoputri memang tak mewarisi bapaknya, Sukarno, yang terampil memilih dan menjalin kata. Sebaliknya, Megawati lebih banyak mematung atau tersenyum tanpa suara. Bahkan pada saat-saat yang sangat ditunggu masyarakat secara ritual, katakanlah saat perayaan hari keagamaan. Ini menjadi tidak lazim mengingat kedudukannya sebagai presiden.

Pendiamnya Megawati sudah tampak ketika ia menjadi wakil presiden mendampingi Presiden Abdurrahman Wahid. Pada hari-hari pertama berkuasa, Oktober 1999, Gus Dur menyebut dirinya dan Megawati sebagai tim yang komplet: "Saya tidak bisa melihat dan Megawati tidak bisa bicara." Selama menjadi wakil presiden, Megawati memang selalu tampil seperti patung. Sebaliknya, Gus Dur yang ceplas-ceplos malah mengangkat tiga juru bicara, yakni Adhi Massardi, Yahya C. Staquf, dan Wimar Witoelar.

Gus Dur kemudian terjungkal dan Megawati pun naik menjadi presiden. Ternyata, di tampuk presiden pun Mega tetap pelit bicara. Istana benar-benar hening dari suara sahibul bait. Tak ada juru bicara sebiji pun.

Pendapat-pendapat Megawati memang selalu keluar, tapi lewat mulut orang lain: lewat pengurus PDIP, menteri, atau tetamu yang datang ke Istana. Sesekali, Megawati bicara di luar negeri, dalam kunjungan kenegaraan.

Beberapa jam setelah bom Bali meledak pada tengah malam 12 Oktober 2002, untuk pertama kalinya Mega tampil di depan wartawan. Ia berbicara selama beberapa menit. Rasanya, Mega siuman dari koma bertahun-tahun. Toh, ia langsung melengos begitu wartawan hendak bertanya tentang bom yang menewaskan ratusan turis itu.

Setelah itu, Megawati kembali berdiam diri. Belakangan, seiring dengan meningkatnya unjuk rasa menentang kebijakan pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak dan tarif listrik, Mega malah berpidato lepas di tengah pendukungnya sendiri, massa PDI Perjuangan. Dia mengecam pers yang disebutnya jomplang.

Sebuah media menulis, dengan gaya seperti itu, Megawati bukanlah Presiden RI, tapi Presiden PDI Perjuangan. Padahal, di masa Orde Baru, PDI Pro-Megawati, yang tertindas, menjadi anak emas pers dalam negeri dan internasional. Pers bagai tidak pernah surut membelanya.

Diam tak benar, bicara pun salah. Pada akhirnya, Megawati butuh penyambung lidahnya sendiri. "Sudah tiga kali saya membawa usul membentuk juru bicara khusus Presiden di sidang kabinet," kata Syamsul Muarif.

Di lingkungan PDI Perjuangan sendiri, soal juru bicara ini kerap dibicarakan dalam rapat pimpinan partai. Menurut Mangara Siahaan, Wakil Sekjen PDIP, beberapa pengurus partai pernah mengusulkan secara langsung kepada Mega. Tapi Megawati balik bertanya, "Siapa orangnya?" "Ya, sampai di situ saja karena kami tidak menyebut nama," kata Mangara.

Mungkin itu kendalanya, siapa orangnya. Beberapa tokoh kini digadang-gadang untuk jabatan itu. Ada nama Pramono Anung dari PDI Perjuangan, kerabat dekat Megawati, Rizal Mallarangeng, wartawan senior Susanto Pudjomartono, serta diplomat muda Dino Patty Djalal.

Menurut Susanto Pudjomartono, usianya yang kini di ambang 60 tahun itu tidak cocok sebagai juru bicara presiden. "Usianya sebaiknya 40-an tahun," kata bekas Pemimpin Redaksi Harian The Jakarta Post ini. Syarat lain, menurut dia, adalah tokoh yang punya integritas, independen, menguasai banyak hal, memiliki kemampuan bicara yang bagus, bergaul luas dengan kalangan media massa, dan yang penting lagi, mendapat kepercayaan dari Megawati.

Adapun Dino Patti Djalal mengaku telah mendengar kabar yang ia anggap gosip itu. Yang jelas, menurut Direktur Amerika Utara dan Tengah Departemen Luar Negeri ini, ia juga menganggap Mega memerlukan seorang juru bicara.

Yang meragukan kabar Megawati akan mengangkat juru bicara adalah Rizal Mallarangeng. "Setahu saya, dia merasa menteri-menteri itulah yang jadi juru bicaranya," kata orang Bugis yang dikenal dekat dengan keluarga Presiden ini.

Kalau begitu, Mega masih akan lama berdiam diri, dan biarlah rakyat hanya menafsirkan gerak air mukanya.

Tomi Lebang, Wuragil (Tempo News Room)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data