Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 51/XXXI/17 - 23 Februari 2003
   
Musik

Bait-Bait di Hari Valentine

Menyambut Hari Valentine, penyanyi tenor Christopher Abimanyu dan gitaris Sudirman Leman membawakan sejumlah art song. Temanya tiga: cinta, melankoli, dan derita.

Beloved, hear me!

Trembling, I wait for you

Come, please

Bait di atas sesungguhnya dilantunkan dalam bahasa Jerman: dalam nada-nada minor yang sendu, tapi penuh harap. Dan hampir tiap-tiap dua baris sekali, gitar pengiring terdengar mengulangi melodi yang telah dinyanyikan lirih. Suara si tenor dan instrumen petik itu sambung-menyambung, seolah memang ingin menegaskan suatu kesinambungan antara nada-nada dan kata-kata. Mungkin menjalin dialog, tapi mungkin pula menyelaraskan dua dunia yang berbeda (musik dan puisi).

Repetisi nada-nada sederhana bertaburan di sepanjang art song itu, tapi karya Franz Schubert ini terhindar dari kesan membosankan. Penyanyi tenor Christopher Abimanyu dan gitaris Sudirman Leman memang pantas merasa berutang pada Schubert (1797-1828) malam itu. Dan kita pun tahu, di ruang pertunjukan Erasmus Huis Kamis pekan lalu, tak ada tepuk penonton menggemuruh yang menyambut berakhirnya Standchen op. 13/1—dikenal juga sebagai Serenade. Tapi itulah Standchen op. 13/1, sebuah art song yang memiliki pembawaan seringan lagu pop, namun menyimpan satu "keabadian" yang kerap dijumpai di musik klasik. Musik berhenti, tapi dalam kesunyian nada-nada yang berbicara tentang cinta dan penantian itu seakan masih mengalun.

Duet Christopher Abimanyu dan Sudirman Leman tidak teramat istimewa malam itu. Ketika membawakan O ich sah auf dieser Welt hohe Hauser buah karya komponis Mario Castelnuovo Tedesco (1895-1968), Abimanyu tak cermat menangkap permainan ritme dalam partitur. Namun Standchen op. 13/1 menyediakan sebuah komposisi hebat, komposisi yang memberi ruang bagi seorang tenor macam Abimanyu yang telah menguasai anatomi karya yang populer itu sebaik-baiknya.

Art song, seperti produk-produk musik klasik lainnya, adalah produk yang tentu saja banyak mewakili masa penciptaannya: masa lalu. Karya-karya komponis John Dowland (1563-1626) yang juga sempat dibawakan Abimanyu-Leman, lahir di zaman Renaisans. Saat itu sebuah karya dianggap bagus apabila memenuhi cita rasa bangsawan, kaum yang perlahan-lahan menyusutkan pengaruh gereja. John Dowland menggubah karyanya di istana milik seorang aristokrat Inggris. Hidupnya terjamin, komposisinya terasa simetris: musik sekuler memang mulai tumbuh, tapi individualisme belum mendapat tempat.

Sebaliknya karya-karya Franz Schubert, anak zaman Romantik, produk abad ke 18-19 yang ingar-bingar, gegap-gempita. Kebebasan individu meranggas cepat, namun ketidakstabilan politik merebak di mana-mana. Karya-karya Schubert, seperti halnya Beethoven, Schumann, Tzchaikovsky, dan rekan segenerasinya, menyodorkan sesuatu yang dramatis. Para komponis pemberontak mengungkapkan pikiran atau suasana batinnya yang bergelora tanpa merasa risi. Karya Dowland dan Schubert yang dibawakan Abimanyu-Leman mengutarakan rasa cinta dengan cara berbeda, tapi dalam "bahasa" yang sama: art song.

Secara sederhana, art song dapat dilukiskan sebagai puisi yang dinyanyikan. Art song sebuah bentuk yang mendekati lagu rakyat. Keduanya diiringi instrumen, tapi lagu rakyat berangkat dari tradisi lisan, sedangkan art song dari tradisi tulisan alias partitur. Tapi apa sebenarnya yang mengilhami kelahiran art song? Mungkin para komponis menyadari keterbatasan bahasa musiknya, sehingga mereka terpaksa mengalihkan perhatiannya pada dunia para penyair? Tampaknya mustahil. Atau sebaliknya: mereka melakukan pemekaran wilayah ke dunia sastra dengan tujuan "ekspansionis": memusikkan puisi? Tak selamanya mereka berhasil, tapi di Erasmus Huis kita melihat komposisi bagus yang bersandar pada sebuah puisi bersahaja.

Ale mi tante Lagrima, bagian dari Cavatina op. 39 karya Mauro Giuliani (1781-1829), bergerak lambat dalam nada-nada minor. Suara tenor Abimanyu memimpin di depan: mengungkapkan hati yang putus asa, nada-nada yang tidak patuh pada ritme bermunculan, dan terasa diseret-seret oleh satu kekuatan besar. Jatuhnya ketukan bukan lagi sesuatu yang bisa ditentukan oleh metronom. Sementara gitar Sudirman Leman terdengar mengiringi dari kejauhan dengan akor minor, suara Abimanyu bergerak maju, kadang lambat, sangat lambat, tapi sesekali cepat—karena ia hanya mengikuti irama hatinya sendiri.

Idrus F. Shahab


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data