|
Ada nasihat terbaik buat menghadapi chikungunya: jangan panik. Sekalipun sangat menyiksa, demam chikungunya tidak mematikan? paling tidak hingga saat ini tidak ada prevalensi meninggal akibat chikungunya. Demam tinggi dan kelumpuhan itu akan hilang dengan sendirinya. Sebab, serangan virus yang berasal dari gigitan nyamuk Aedes albophictus ini bersifat self limiting disease alias hilang dengan sendirinya.
Setelah melewati masa inkubasinya dan masa kritisnya selama sekitar sepuluh hari itu, kelumpuhan itu berangsur reda. Harus diakui bahwa perkiraan waktu tersebut relatif. Sirnanya kelumpuhan bisa terjadi sebulan, bahkan lebih, setelah gejala pertama. Dengan kata lain, waktu penyembuhan tergantung daya tahan tubuh penderita.
Menurut Thomas Suroso, seorang ahli kesehatan masyarakat yang juga Direktur Penyakit Bersumber Binatang (P2B2) Departemen Kesehatan, jenis toksin (racun) yang dikeluarkan oleh virus chikungunya tidak menimbulkan gangguan perdarahan hebat atau tekanan darah anjlok (shock). Tapi, di laboratorium, virus ini terbukti membikin volume sel darah putih turun. Penderita kadang mengalami reaksi alergi, di samping radang persendian.
Bahkan, kata Thomas Suroso lebih jauh, tubuh penderita penyakit epidemi 20 tahunan ini akan mengembangkan antibodi atau kebal terhadap chikungunya sendiri di kemudian hari. Jadi, kecil kemungkinan akan terjangkit lagi, dan perlu waktu panjang bagi penyakit ini menjangkiti tubuh yang sama.
Endah W.S.
|