Chikungunya 'Strikes Back' Ratusan orang di tiga daerah serempak terserang demam chikungunya. Pemerintah kurang sigap bertindak menahan epideminya? |
Sepanjang dua pekan lalu seratusan warga Mandalamukti dan Ciptagumati, Cikalong Wetan, Bandung, terserang demam. Tua-muda mengalami demam tinggi mendadak, diikuti sakit linu, tulang persendian serasa copot. Warga panik dan paramedis di puskesmas setempat kewalahan. Banyak yang dilarikan ke Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung.
Hingga Jumat pekan lalu, korban yang berobat ke Puskesmas Cikalong Wetan mencapai 231 orang. Dokter yang mengepalai puskesmas, Hajah Nur Listyaningsih, mengakui angka itu berdasarkan warga yang berobat ke tempatnya. Tapi syukurlah, kondisi para warga yang mendapat perawatan tampak mulai membaik, kendati banyak yang belum bisa berjalan normal.
Serangan penyakit serupa itu sebelumnya menyebar di daerah Jember, Jawa Timur, awal Januari lalu. Di Desa Balung Lor, Kecamatan Balung, sedikitnya 200 warga terserang wabah yang ditandai gejala yang sama serta timbulnya bercak-bercak merah di kulit, dan 86 warga di antaranya menderita lumpuh persendian. Di Kabupaten Bolaang Mongondow, kondisi lebih parah. Hingga Kamis pekan lalu, di Provinsi Gorontalo tersebut tercatat 608 orang terkapar, meliputi tiga desa.
Thomas Suroso, Direktur Pemberantasan Penyakit Bersumber Binatang Direktorat Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan, memastikan: itulah demam "chikungunya". Saat ini penyakit itu memang tengah berjangkit di beberapa desa di tiga provinsi tersebut. Departemen Kesehatan sudah mengirimkan satu tim ke Bolaang Mongondow sejak akhir dua pekan lalu untuk menyelidikinya.
"Pola serangan penyakit ini khas sekali. Selain serangannya cepat dan mendadak, chikungunya memang menginfeksi penderitanya selama 7-14 hari," kata Hari Setiawan kepada Mahbub Djunaidy dari Tempo News Room Senin pekan lalu. Hari adalah ketua tim investigasi yang dikirim oleh Partai Keadilan untuk menyelidiki penyakit itu di Jember selama empat hari.
Sejatinya, chikungunya bukan penyakit misterius. Penyakit demam lumpuh ini pertama kali dilaporkan pada 1952 di Tanzania, Afrika Timur. Nama chikungunya berasal dari bahasa Swahili, yang berarti sesuatu yang menimbulkan kejang. Ia virus yang termasuk kelompok besar togaviridae, genus alphaviruses. Penyebarannya seperti demam berdarah, mendompleng gigitan nyamuk.
Dari data situs Universitas Stanford, California, Amerika Serikat, tampaklah bahwa chikungunya menyebar luas di Afrika dengan karakteristik di kawasan pedesaan. Virus ini lalu menimbulkan epidemi di wilayah tropis Asia Tenggara seperti Malaysia, Thailand, dan Vietnam.
Di Indonesia, demam chikungunya dilaporkan pertama kali di Samarinda pada tahun 1973. Kemudian ia berjangkit di Kuala Tungkal, Jambi, pada 1980. Tahun 1983, ia merebak di Martapura, Ternate, dan Yogyakarta. Setelah vakum 20 tahun, awal 2001 kejadian luar biasa demam chikungunya terjadi di Muara Enim, Sumatera Selatan, dan Aceh, kemudian disusul Bogor pada Oktober. Demam chikungunya berjangkit lagi di Bekasi di Jawa Barat, serta Purworejo dan Klaten di Jawa Tengah pada tahun 2002.
Chikungunya lebih jinak ketimbang demam berdarah (lihat: Waspadai Chikungunya). Namun, menurut Prof. Dr. Umar Fahmi dari Kantor Wilayah Departemen Kesehatan Jawa Barat, hingga kini obat penawar virus tersebut yang paling ampuh belum ditemukan. Satu-satunya cara, masyarakat harus bisa menghindari gigitan nyamuk Aedes albophictus pada siang hari dan sering melakukan pembasmian terhadap sarang nyamuk.
Berulangnya kasus menunjukkan penyakit ini bisa muncul di mana saja. Sayangnya, pemerintah terkesan kurang sigap. Di Jember, pihak Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur terlambat mendirikan posko penanganan. Warga dan para perangkat Desa Balung Lor sempat mengeluhkan lambannya penanganan. "Masa, hanya penyuluhan dan pengasapan. Itu pun masih tak berjalan baik," ujar seorang perangkat desa yang enggan disebut namanya.
Hal tersebut memang berbeda di Jawa Barat. Penanganan yang dilakukan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat dan Bandung lebih rapi. Di antaranya melakukan pembasmian sarang nyamuk. Dalam beberapa pekan ini, paramedis setempat juga membagikan obat Abate secara berkala dan melakukan kampanye sanitasi kesehatan lingkungan. Tanpa mengecilkan pentingnya masyarakat menjaga lingkungannya, jajaran pemerintah daerah mestinya lebih sigap mengantisipasi agar epidemi tak meluas.
Dwi Arjanto dan Upiek Supriyatun (Bandung)
|