Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 51/XXXI/17 - 23 Februari 2003
   
Kesehatan

Tes DNA di Kampung Kita

Uji DNA sangat populer belakangan ini. Kebanyakan menempuh cara ini untuk pembuktian selingkuh.

Bejo Taruno, sebut saja begitu, sungguh bukan sopir biasa. Putra Tulungagung, Jawa Timur, itu sangat peduli dengan kebersihan nasab alias garis keturunannya. Pertengahan bulan lalu, dengan tergopoh-gopoh ia datang ke Seksi Serologi Forensik dan Biomolekuler, Ilmu Kedokteran Forensik, Fakultas Kedokteran Unair-RSUD Dr. Soetomo, Surabaya. Dan Bejo tak sendirian. Ia muncul bersama istri keduanya, dan seorang balita.

"Dok, saya mau melakukan tes DNA!" ujar Bejo, pendek, kepada Soekry Erfan Kusuma dan Indrayana Noto Soehardjo, keduanya dokter di Bagian Serologi. Mereka terperangah, tapi mencoba telaten melayani. Bejo berterus terang ingin mengetahui: benarkah anak yang dilahirkan istrinya itu darah dagingnya? Selama 14 tahun menikah dengan istri pertamanya?bahkan hingga pernikahan berakhir dengan perceraian?ia tak dikaruniai momongan. Bejo menatap anak yang lelap di pelukan sang istri dengan seribu pertanyaan. Jangan-jangan?.

Ia tak keberatan mengeluarkan Rp 5 juta untuk mendapatkan jawab. Ia harus menunggu seminggu setelah sampel darahnya diambil, untuk diolah dengan metode PCR (Polymerase Chain Reaction), suatu metode amplifikasi DNA secara in vitro dengan menggunakan enzim polimerase. Dan hasilnya membuat hati Bejo bak disiram air dingin: anak itu asli made in Bejo.

Memang mengejutkan menyaksikan Bejo memilih jawab ilmiah. Tapi begitulah yang terjadi setelah penyibakan kasus pengeboman Bali melibatkan uji DNA (deoxyribonucleic acid atau asam deoksiribonukleat). Usaha forensik itu ikut serta menyuntikkan kesadaran akan manfaat uji DNA yang luas. Seperti terbaca di media massa, polisi telah melakukan uji DNA terhadap potongan tubuh Iqbal, pelaku bom bunuh diri yang menewaskan hampir 200 orang itu. Iswari Setyaningsih, dokter di Konsultan Genetika Klinik Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Jakarta, mengakui peran media massa?di samping rekomendasi dari dokter dan website?dalam "pencerahan" ini.

Popularitas uji DNA mencelat, melintasi batas-batas kelas dan ras. Di sepanjang 2000-2001, laboratorium tempat Indrayana bekerja hanya melakukan delapan kali uji DNA. Tapi, setelah bom Bali, mereka harus melayani dua permintaan tiap-tiap minggu. Dan Bejo hanya satu dari sejumlah orang yang membutuhkan uluran tangan tim dokter Ilmu Kedokteran Forensik FK Unair-RSUD Dr. Soetomo. Ada pasangan pria Hong Kong dan wanita Wlingi, Blitar, atau pria Inggris dan wanita Surabaya, yang membutuhkan klarifikasi tes DNA. Begitu pula seorang lelaki 70-an tahun yang menginginkan kepastian tentang hak waris anaknya yang masih balita.

Kebanyakan orang digerakkan dengan satu motivasi: uji DNA bisa membuktikan dugaan selingkuh. Djaja Surya Atmadja, dokter ahli DNA dari Bagian Forensik FK Universitas Indonesia-RSCM, Jakarta, mengakui adanya mayoritas yang ingin menjaga kebersihan garis keturunan. "Kalau kasus kriminal, masih jarang," katanya.

Urusan selingkuh, menurut Djaja, masuk dalam kategori forensik klinik. Dalam kategori ini, para ahli juga bisa menelisik kasus-kasus lain yang melibatkan orang yang masih hidup, seperti bayi tertukar, pemeriksaan korban pemerkosaan atau kekerasan seksual, korban penganiayaan, keracunan, atau korban yang menyangkal atau meragukan identitas seseorang. Kategori adalah forensik patologi. Di sini, yang diperiksa adalah orang mati: bagian tubuh mayat atau kerangka. Biasanya, polisi mengajukan bukti ini untuk mengungkap kasus kematian tak wajar atau tak jelas penyebabnya.

Di samping keduanya, masih ada tes DNA forensik laboratoris, yang melibatkan pemeriksaan benda-benda biologis seperti rambut, kuku, darah, bercak darah, cairan mani, liur, dan serpihan jaringan. Heboh skandal Bill Clinton-Monica Lewinsky, misalnya, membutuhkan kerja ahli forensik laboratoris. Tentu manfaat uji DNA tidak sebatas urusan selingkuh. Klinik genetika kini dapat memeriksa berbagai penyakit yang ngendon di tubuh manusia. Uji DNA dapat mengendus keberadaan bibit penyakit asma, toksoplasma, penyakit infektif virus, atau kanker. Laboratorium uji DNA sebenarnya ibarat sebuah dapur yang dapat menggodok aneka masakan?untuk setiap tujuan, para ahli menggunakan bahan yang spesifik.

Sekadar informasi, klinik genetika Lembaga Biologi Molekuler Eijkman sanggup melayani tes tingkat lanjut untuk talasemia. Maklum, selain penderitanya cukup banyak, risiko terjangkit penyakit ini di Indonesia terhitung tinggi. Dengan memeriksa darah tepi lengkap, analisis Hb (hemoglobin), dan analisis DNA, Iswari dan kawan-kawan bisa mendiagnosis pembawa sifat talasemia. Talasemia beta dapat dideteksi dengan pemeriksaan darah tepi lengkap dan analisis Hb. Dan terakhir, pemeriksaan pre-natal?mencakup pemeriksaan bagian rahim (vili choriales), darah tepi lengkap, dan analisis DNA pasangan?bagi ibu menjelang melahirkan.

Tes-tes yang dijalankan klinik ini bisa rampung dari satu hari hingga dua minggu. Selain dipengaruhi jenis tes, faktor penyulit juga tak bisa dinafikan. Misalnya, bahan konsentrasinya tak betul, penyimpannya rusak, mesin sedang error, atau karena penelitinya kurang cermat. Untunglah, sejauh ini kesulitan-kesulitan itu bisa diatasi, bahkan bisa dijadikan pengalaman. "Kami juga akan mengembangkan pelayanan-pelayanan genetik yang menyebabkan penyakit berat pada anak," ujar Iswari.

Era genetika?boleh disebut revolusi genetika, ditandai dengan usaha pemetaan gen sepuluh tahun lalu?memang telah datang, dan saat ini kita merasakan embusan anginnya ke pelosok-pelosok tak terduga. Dan Bejo termasuk di antara orang-orang yang cepat memetik manfaatnya. Memang itulah sebuah tes di laboratorium dengan tingkat akurasi mengesankan: 99,99 persen.

Dwi Wiyana, Sunudyantoro (Surabaya), Hilman Hilmansyah (Jakarta)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data