Mulanya Tipuan di Anjungan Polisi menangkap komplotan pembobol kartu ATM. Inilah modus kejahatan mereka. |
INI peringatan buat Anda yang sering mengambil uang melalui anjungan tunai mandiri (ATM). Berhati-hatilah saat menggunakan kartu ATM karena nomor kartu dan nomor identifikasi pribadi (PIN) Anda bisa saja diintip para penjahat. Dengan nomor curian ini, mereka bisa menggandakan kartu Anda, lalu menguras duitnya.
Modus baru itu terungkap setelah Kepolisian Daerah Metro Jaya membeberkan pengakuan dua tersangka pelaku pembobol ATM, Eng King Hong dan John Petrus, akhir Januari silam. Keduanya sudah lama diincar polisi karena meresahkan sejumlah nasabah yang mengaku dana di rekeningnya raib meskipun mereka tak pernah mengambilnya lewat ATM.
Eng, 40 tahun, yang ditangkap pada 22 Desember lalu di anjungan uang BII di Cideng, Jakarta Pusat, adalah warga Malaysia. Rekannya, John, 43 tahun, yang diciduk lusanya di kompleks Mal Kelapa Gading, Jakarta Utara, mengaku sebagai warga Kelurahan Sei Putih Tengah, Kecamatan Medan Petisah, Medan, Sumatera Utara. Dia memiliki istri warga negara Thailand, yang dijadikan sebagai salah satu anggota komplotan.
Aksi mereka sangat terencana. Biasanya komplotan itu berpura-pura ikut antre di depan ATM bersama nasabah yang akan mengambil uang. Antrean dibuat sedemikian rupa sehingga posisi si calon korban berada di tengah-tengah. Anggota komplotan yang berdiri paling depan akan berpura-pura mengambil uang tapi gagal. Ia lalu minta tolong kepada calon korban yang antre di belakangnya dan meminta korban mencoba memasukkan kartunya sendiri ke mesin.
Kalau korban bersedia melakukannya, tersangka diam-diam memperhatikan dan mencatat PIN serta nomor kartu ATM itu, terutama 8 digit dari belakang. Soalnya, cuma delapan nomor terakhir yang diperlukan untuk menggandakan kartu ATM. Tipuan semacam ini dilakukan di banyak ATM sampai mereka mendapatkan cukup banyak nomor curian.
Setelah memperoleh segepok nomor kartu dan PIN ATM para korbannya, Eng dan komplotannya bertemu di sebuah tempat. Di situ mereka sudah menyiapkan sejumlah peralatan canggih yang katanya dibeli di Singapura dengan harga puluhan juta rupiah. Alat tersebut terdiri atas laptop, mesin encoding (alat untuk memasukkan PIN dan nomor kartu ATM korban ke magnet di kartu ATM yang telah disiapkan), serta puluhan kartu mirip ATM yang juga dibeli di Singapura. Kartu ini akan dijadikan sebagai kartu kloning milik para korban yang sudah dicuri nomornya.
Caranya? Nomor-nomor curian itu dimasukkan ke dalam program komputer, lalu dipindahkan ke mesin encoding yang berfungsi seperti alat kloning. Dengan menggesekkan kartu ATM ke mesin encoding, otomatis semua PIN dan nomor kartu ATM korban digandakan ke kartu ATM kosong. Setelah itu, para penjahat leluasa kapan saja mengambil uang di ATM seperti layaknya pemegang kartu asli. Karena ada batasan pengambilan uang tunai melalui ATM per hari, komplotan itu biasa memilih melakukan proses transfer antar-rekening. Dengan demikian, dalam waktu sekejap mereka bisa menyedot uang korban dan kemudian memindahkannya ke nomor rekening mereka.
John mengaku mendapat ilmu memalsukan PIN dan kartu ATM melalui internet. "Kita coba-coba saja buka-buka internet dan di situ ada program atau cara membuat kartu ATM," ujarnya. Alat kloning (mesin encoding) dibelinya di Singapura yang memang dijual bebas. Harganya bervariasi, dari Rp 27 juta sampai Rp 1 miliar.
Buat menampung hasil kejahatannya, komplotan tersebut memiliki 10 buku tabungan dan 11 kartu ATM atas nama John Petrus di bank seperti BCA, BII, Danamon, BNI, HSBC, Bank Mandiri, dan Lippo Bank. Mereka memakai identitas asli ataupun palsu untuk membuka rekening.
Menurut Kepala Unit Reserse Perbankan Polda Metro Jaya, Komisaris Polisi Aris Munandar, selain di Jakarta, John dan Eng sempat beraksi di Medan dan Batam. Kerugian nasabah akibat ulah mereka mencapai Rp 1,6 miliar. Sejauh ini, belum diketahui ada komplotan lain dengan kasus serupa.
Kini John dan Eng meringkuk di tahanan, menghadapi ancaman hukuman 6 tahun penjara. Tapi itu bukan berarti aksi pembobolan ATM bakal berhenti. Bisa saja modus mereka ditiru oleh penjahat lain. Karena itu, sekali lagi, berhati-hatilah menggunakan kartu ATM Anda.
Wicaksono, Tempo News Room
|