Yang Tersembunyi di Hamparan Azalea Korea Utara mengatakan reaktor 5 megawatt di Yongbyon memproduksi listrik. Padahal reaktor sekecil itu hanya cukup untuk menyalakan "lilin". |
PANDANGAN lelaki berusia 61 tahun itu menerawang keluar dari jendela kantornya di Kota Seoul, Korea Selatan. "Setiap kali mendengar Yongbyon, generasi seangkatan saya langsung ingat sebuah puisi," ujar Kim Myong-sik, bekas juru bicara pemerintah Korea Selatan yang kini menjadi praktisi media.
Yongbyon, daerah di bagian utara Pyongyang, Korea Utara, yang kini ramai dibicarakan orang itu, memang menjadi setting puisi berjudul Azalea karya Kim So-wol yang diterbitkan tahun 1922. Myong-sik pernah tinggal di situ pada masa pendudukan Jepang di Semenanjung Korea, dan saat itu ia sering membaca puisi tersebut. Waktu itu Yongbyon sangat terkenal dengan keindahan bunga azalea yang berwarna-warni dan terhampar di sepanjang kaki Pegunungan Yak.
Saat ini, tak banyak orang tahu apakah azalea masih bermekaran di kota itu. Sejak awal 1980, Yongbyon jadi kawasan tertutup?bahkan untuk orang Korea Utara sendiri?karena dijadikan lokasi pembangunan sejumlah reaktor nuklir. Reaktor-reaktor itu kemudian ditutup pada tahun 1994 setelah adanya perjanjian dengan Amerika Serikat, yang saat itu sedang giat mengkampanyekan pelarangan penggunaan senjata nuklir.
Nyatanya, cerita Yongbyon belum tamat. Pekan-pekan ini kota tersebut menjadi berita dunia karena para analis intelijen AS meyakini sejumlah reaktor sudah diaktifkan kembali. Ada bukti rekaman gambar dari satelit. Pyongyang sendiri sudah mengakui kegiatan itu, tapi berkilah bahwa hal itu dilakukan bukan untuk memproduksi senjata nuklir melainkan untuk memproduksi listrik. Selain di Yongbyon, Korea Utara juga memiliki fasilitas yang sama di Taechon, Pyongyang, dan Kumho, yang hingga kini belum ada tanda-tanda diaktifkan.
Sebagai negara yang mengalami embargo bahan bakar minyak hingga kini, memang tidak banyak pilihan bagi Korea Utara dalam mencari sumber energi untuk membangkitkan listrik. Menurut Presiden Korea Atomic Energy Research Institute, In-Soon Chang, Korea Utara berkeinginan memenuhi 70 persen kebutuhan listriknya dengan memanfaatkan tenaga nuklir sebagai substitusi petroleum yang sudah sangat langka.
Masalahnya, benarkah sebuah reaktor nuklir yang berpotensi memproduksi senjata nuklir bisa dialihkan fungsinya untuk membangkitkan tenaga listrik. Menurut Deputi Bidang Pengembangan Teknologi Daur Bahan Nuklir dan Rekayasa Batan (Badan Tenaga Nuklir Nasional), Azhar Djaloeis, secara prinsip sebuah reaktor nuklir yang digunakan untuk pembangkit listrik termasuk dalam kategori yang disebut "reaktor daya".
Sebuah reaktor pembangkit listrik bertenaga nuklir (PLTN) memerlukan komponen subsistem seperti tungku penghasil panas (reactor vessel) dan bahan penghasil panas yang sering disebut bahan bakar nuklir (nuclear fuel). Komponen berikutnya, sistem transfer panas (heat transfer system), yaitu perangkat untuk memindahkan panas yang dihasilkan dalam reaktor, tempat panas dikonversi menjadi listrik. Komponen terakhir adalah sistem konversi panas (energy conversion system).
Satu hal yang dikhawatirkan Amerika adalah, reaktor Yongbyon ini memproduksi elemen plutonium sebagai bahan untuk senjata nuklir. Problemnya, menurut ahli fisika nuklir lulusan Jerman ini, sebuah reaktor nuklir berbasis uranium-235 sebagai bahan bakar seperti yang dipakai di Yongbyon ini selalu akan menghasilkan plutonium sebagai produk samping, "Tidak jadi soal apakah reaktor tersebut dipakai untuk pembangkit listrik atau tidak," ujarnya.
Dari segi kapasitasnya, reaktor nuklir eksperimental Korea Utara itu memang meragukan sebagai pembangkit listrik. Berkapasitas hanya 5 megawatt, reaktor ini juga disebut sebagai reaktor grafit, reaktor pendingin gas dengan tenaga panas bumi 20-25 MW. Pembangunannya dimulai tahun 1979, setelah British Calder Hall Gas Cooled Reactor pertama kali dibangun tahun 1956. Ada beberapa keuntungan bagi Korea Utara memilih reaktor model ini. Desain Calder Hall yang belum diklasifikasi secara ketat ini menggunakan uranium sebagai bahan bakar, sesuatu yang berlimpah di bumi Korea Utara. Keuntungan lainnya adalah sistem pendinginnya menggunakan karbon dioksida, sehingga tidak membutuhkan debit air yang banyak.
Reaktor ini mengalami saat-saat kritis pada 14 Agustus 1985 sebelum beroperasi tahun 1986. Operasinya pernah beberapa kali dihentikan selama tahun 1989-1991. Rupanya, periode tersebut digunakan pengelolanya untuk membuang dan memproses ulang sisa bahan bakar. Korea Utara kemudian melaporkan pada Badan Atom Dunia bahwa mereka telah melakukan pemrosesan ulang 90 gram plutonium dari sisa-sisa bahan bakar yang rusak dan sudah disingkirkan dari reaktor tersebut. Dengan laporan itu, Korea Utara ingin memberi kesan bahwa mereka sudah "jauh" dari bahan bakar nuklir.
Masalahnya, Korea Utara juga punya pelbagai badan lain yang memproduksi plutonium. Mereka, misalnya, punya Pusat Riset Nuklir Yongbyon, yang berlokasi di sepanjang Sungai Kuryong. Korea Utara juga membangun Pusat Pembangkit Tenaga Listrik, yang rampung tahun 1995. Korea Utara menggunakan model reaktor British Calder Hall dan reaktor French G-2 sebagai model reaktor dengan kapasitas 50 MW. Keduanya menggunakan pengaturan grafit, reaktor pendingin gas, dan merupakan sumber yang bagus untuk memproduksi plutonium. Reaktor ini dapat memproduksi 55 kg plutonium per tahun. Pusat Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir juga dibangun di Taechon-kun, Pyongyang Utara, dengan kapasitas 200 MW. Reaktor ini akhirnya ditutup pada Oktober 1994 karena berpotensi memproduksi 220 kg plutonium setiap tahun.
Dengan rentetan sejarah seperti itu, tak aneh bila sejumlah analis AS meragukan alasan produksi listrik di balik pengaktifan kembali reaktor-reaktor Korea Utara ini. Analis itu menunjuk reaktor 5 megawatt Yongbyon. Menurut dia, reaktor itu tidak mungkin digunakan untuk memproduksi tenaga listrik karena kapasitasnya terlalu kecil. Malah, menurut pusat studi Nuclear Threat Initiative yang berbasis di Washington, sebenarnya fasilitas tersebut lebih cocok dan bisa diandalkan untuk memproduksi plutonium bagi program nuklir Korea Utara.
Azhar sendiri menilai, permasalahan reaktor nuklir Korea Utara mestinya tidak dilihat dari kacamata negara maju, karena Korea Utara sendiri adalah sebuah negara yang baru berkembang dan juga sudah cukup lama diisolasi dunia. Kalau melihatnya dari cara pandang negara maju, jelas, "Akan menjadi sesuatu yang absurd. Sebab, reaktor 5 megawatt hanya cukup untuk membuat 'lilin'," ujarnya.
Memang, ia mengakui reaktor 5 megawatt amat tidak ekonomis. Tak ada sebuah reaktor pun sekecil itu di negara dalam kawasan Asia. Ia memberi gambaran, untuk Indonesia bagian timur saja setidaknya diperlukan sebuah reaktor yang memiliki kapasitas 100-200 MW guna menghasilkan energi listrik yang cukup besar. Reaktor BATAN di Serpong saja, yang hanya digunakan untuk riset, punya kapasitas 30 megawatt.
"Karena itu, dari segi keilmuan, lebih masuk akal reaktor itu berfungsi untuk memproduksi plutonium sebagai bahan bakar nuklir," katanya.
Selimut Yongbyon hingga kini belum terkuak. Apakah bunga-bunga azalea masih bermekaran di sana dan apakah di bawah taburan pesona itu tersimpan berbagai bahan untuk senjata yang bisa membinasakan banyak warga dunia itu?
Budi Putra
|