Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 51/XXXI/17 - 23 Februari 2003
   
Hiburan

Ketika Cokelat Melompat Tinggi

Grup musik Cokelat menggaet MTV Asia Award mengalahkan para seniornya. Apa istimewanya?

SUARA Kikan, penyanyi grup Cokelat, seakan bergerak dari sebuah lembah ke satu ketinggian di sebuah bukit dalam hitungan detik. Penyanyi seperti Kikan tidak melihat lebarnya interval (jarak antara dua nada yang berurutan) sebagai "lubang jebakan" yang patut ditakuti. Sebaliknya, ia mengarungi jarak itu dengan satu lompatan ringan, sangat ringan, tapi dengan akibat istimewa. Suara Kikan menyerupai lengkingan Dolores O'Riordan, vokalis The Cranberries.

Terus terang, Kikan memang membuntut O'Riordan, tapi justru karena itulah grup Cokelat meraih penghargaan dalam MTV Asia Awards di Singapura, 24 Januari lalu. Orisinalitas suara tak masuk hitungan. Cokelat meraih penghargaan grup "terfavorit" Indonesia 2002, menaklukkan empat kandidat lain—Dewa, Sheila on 7, Iwan Fals, dan Slank—yang punya "jam terbang" lebih tinggi, tingkat penjualan album lebih melesat, dan pengalaman bermusik lebih kaya.

Serta-merta Cokelat menjadi menu pembicaraan hangat sepanjang pekan. Siapakah mereka yang berhasil menyingkirkan para seniornya di panggung MTV itu? Semua berawal pada 1995 saat Robert (gitar), Namara Surtikanti atau Kikan (vokal), Bernard (gitar), Febriyanto Nugroho (bas), dan Deden (drum)—semuanya mahasiswa Sekolah Tinggi Seni Rupa dan Desain Indonesia, Bandung—bersatu padu membentuk sebuah band.

Awalnya, mereka cuma hinggap dari kampus ke kampus mendendangkan lagu-lagu Alanis Morissette dan The Cranberries, yang terbukti pas dengan karakter suara Kikan, sang vokalis. Mereka lalu membuat lagu sendiri dan diputar di radio di Bandung. Judulnya Bunga Tidur dan Rasa. Pada 1998, Sony Music langsung jatuh cinta dan menerbitkan lagu itu dalam album kompilasi Indie Ten bersama Padi, Caffeine, Wong, dan Gen. Hanya dalam setahun, perusahaan rekaman itu memutuskan untuk merilis album Cokelat yang pertama, Untuk Bintang.

"Lirik lagu dan musik yang mudah dicerna pendengar," kata Jan N. Djuhana, direktur senior artis dan repertoar. Itu sebabnya, meski album pertama itu tidak terlalu bergema—cuma berkisar di angka 50 ribu kopi—Sony tetap percaya menerbitkan album kedua, Rasa Baru, pada 2000. Dalam tempo tak terlalu lama, album ini berhasil menembus angka 500 ribu kopi. Itu angka yang sangat bagus untuk sebuah band baru. Bandingkan dengan pemain lama, Gigi, yang menjual album Terbang hanya 150 ribu kopi, dan album berikutnya, Baik-baik, malah terjerembap di bawah angka itu.

O ya, saat ini, Cokelat sudah tampil dengan susunan baru: Kikan (vokal), Ronny (bas), Ervin Syam Ilyas (drum), dan Edwin Marshal Sjarif (gitar). Videoklip Cokelat pun mengingar-bingar di layar televisi, mulai lagu Karma, Jauh, Luka Lama, hingga Bendera garapan Eross Sheila on 7, yang menjadi soundtrack film dengan judul sama tahun lalu. Mereka pun kian rajin mengadakan tur ke aneka kota di hampir seluruh penjuru Tanah Air. Dari kampus, kafe, lapangan bola, hingga stadion, semua dijajal.

Tapi adakah kemampuan musikal Kikan dan kawan-kawan lebih besar dibandingkan dengan kekuatan promosi di belakang grup ini? Pengamat musik Denny Sakrie memuji karakter suara Kikan dan lirik lagunya: khas dan langsung, tak banyak bermain pada "sampiran". Simaklah lirik lagu Karma: "Selamat tinggal sayang. Bila umurku panjang, kelak ku kan datang tuk buktikan satu balas kan kau jelang." "To the point dan tak terlalu banyak pengandaian," kata Denny.

Sebetulnya, lagu dengan lirik yang lugas ini juga dipakai oleh Slank dan Jamrud. Namun Cokelat menjadi berbeda karena vokalisnya adalah seorang wanita dengan lekuk suara yang berbeda dari penyanyi pop lain. Memang, di Indonesia, sebelumnya sudah ada "Alanis-Alanis" lain, seperti Oppie Andaresta atau Cindy Fatika ketika menjadi vokalis Galeri, band yang sudah tutup buku. Namun, saat ini, Cokelatlah yang sedang hangat dinikmati penggemar musik.

MTV Asia Awards memang bukan satu-satunya ukuran sukses. Menurut Jan Djuhana, MTV tidak mengutak-atik kualitas atau tingkat penjualan album untuk menetapkan penerima penghargaan ini. Mereka menilai berdasarkan pilihan pemirsa MTV lewat SMS dan e-mail. Ada faktor keberuntungan lain, seperti yang diduga Jan, misalnya penggemar Iwan Fals dan Slank (kandidat yang lain—Red.) tidak begitu akrab dengan internet, atau videoklip Sheila on 7 dan Dewa sedang surut, sementara Cokelat begitu gencar "menjajah" MTV.

Terlepas dari berbagai praduga, kata Denny, prestasi di MTV Asia Awards ini membuktikan nama Cokelat memang dikenal oleh penggemar musik. Bahkan lagu mereka yang "serius" dan berbau nasionalis, Bendera, tetap bisa dinikmati dengan santai. Merah Putih teruslah kau berkibar….

Andari Karina Anom


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data