Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 51/XXXI/17 - 23 Februari 2003
   
Gaya Hidup

Jangan Remehkan Si Rok Mini

Bela diri instan kini digandrungi orang-orang sibuk, berduit, tapi enggan melakukan latihan berat.

Bergelas-gelas jus segar. Meja biliar. Musik new age mengalun pelan, sesekali mengentak dalam irama dinamis. Harum terapi aroma menebar dalam sebuah ruangan artistik bergaya Jepang. Penuh nuansa relaksasi, ruangan ini—percaya atau tidak—melahirkan pria dan wanita yang mahir meluncurkan jurus "buru, sergap, lumpuh". Jadi, jangan coba-coba mencolek nona manis yang baru saja melenggang dari situ—apalagi tertarik pada isi dompetnya. Bisa-bisa celaka yang dipetik. Si nona tak akan ragu-ragu menyambar jakun, selangkangan, atau ulu hati Anda dalam hitungan detik sebelum, barangkali, memberi bonus satu-dua tamparan keras. Astaga!

Tak perlu heran. Ini memang bukan spa untuk yang mau bercantik-cantik. Ini pusat latihan art of combat. Terletak di Plasa Karinda, Lebakbulus, Jakarta Selatan, "perguruan" ini mengajarkan teknik bela diri instan untuk menghadapi kejahatan khas perkotaan macam rampok dan penjambret. Bahasa kerennya, urban survival. Gerakan-gerakannya simpel, cepat, dan "mematikan". Sonny Lalwani, pendiri dan perancang art of combat—kini baru satu-satunya di Indonesia—menyebutkan bahwa berbagai jurus dalam bela diri ini betul-betul dirancang untuk kaum urban. "Gadis-gadis dengan rok mini sekalipun bisa mempraktekkannya tanpa kesulitan," ujarnya kepada TEMPO.

Tentu saja bukan hanya para pemilik rok mini yang minta dilatih Sonny. Kaum eksekutif, artis, dan para profesional juga berbondong-bondong belajar art of combat. Selain urusan bela diri, mereka juga bisa membentuk tubuh sekaligus menyegarkan diri. "Orang-orang sibuk dengan waktu terbatas yang rata-rata menjadi klien kami," ujar Sonny. Di bawah asuhan anak muda berusia 25 tahun itu, para anggota "perguruan" itu belajar seni bela diri, meditasi, serta menikmati relaksasi.

Kegandrungan para peminat art of combat tampaknya berpangkal pada simpel dan jitunya olahraga ini. Tidak perlu lari keliling lapangan 10 kali, push-up 100 kali, atau berjemur di panas terik. Dan dijamin buku-buku tangan tak akan berkapal karena kerasnya latihan. "Bela diri ini sengaja dirancang untuk mereka yang enggan latihan berat," Sonny menjelaskan. Alhasil, pusat latihan bela diri instan itu lebih mirip klub pribadi ketimbang sebuah markas bela diri.

Selama dua jam, tiga kali dalam sepekan, para murid itu diajari teknik "cegah-tangkal" terhadap berbagai kejahatan kota, terutama para copet dan garong. Berlangsung sepanjang tiga bulan, paket latihan pribadi makan ongkos sekitar Rp 2 juta. Teori dasar latihan ini adalah membekali diri dengan sedikit tendangan, tamparan, dan pukulan. Jika diluncurkan pada saat yang tepat pada titik-titik lemah tubuh, si penjahat bisa tak berdaya dalam waktu singkat.

Titik-titik lemah yang perlu disasar adalah jakun, selangkangan, paha belakang dekat sendi lutut, dan ulu hati. "Jika bisa menyerang titik-titik itu dengan cepat dan refleks, selamatlah kita," Sonny menjelaskan sambil memperagakan berbagai gerakan. Coba bayangkan adegan berikut. Anda keluar dari ATM, dan tas mendadak dijambret. Nah, secepat mungkin gunakan tangan yang bebas untuk beraksi. Dengan telapak terbuka, tohoklah mata si penjambret. Atau gunakan kaki yang lebih leluasa untuk menendang selangkangan si maling sekeras mungkin. Dijamin, dia akan keok dalam hitungan detik.

"Salah satu alasan saya belajar bela diri ini adalah karena sistem ini amat jitu dan efektif. Gerakannya sederhana, tapi 'mematikan'," ujar Cornelia Agatha, salah satu peserta. Artis film dan teater ini mengaku punya gerakan favorit: mencolok mata dengan jari. Ini salah satu teknik khusus bagi kaum wanita untuk menghadapi pelecehan seksual atau kekerasan rumah tangga. "Kita juga diajari bahwa barang-barang yang ada di sekitar kita bisa menjadi senjata yang ampuh, mulai dari credit card sampai garpu," tutur Lia.

Lain lagi alasan Noor Sidha, 38 tahun. Kepala Bagian Kerja Sama Luar Negeri Departemen Kelautan dan Perikanan ini sudah mengenal aneka macam bela diri sejak usia delapan tahun. Namun, dalam urban survival dia mengaku menemukan sesuatu yang berbeda: "Kita tidak hanya melatih. Aspek nonfisik juga mendapat porsi yang seimbang melalui meditasi," tuturnya kepada TEMPO.

Sidha menyodorkan pertimbangan lain. Pusat latihan bela diri ini dapat memenuhi kebutuhan gaya hidup. Setelah bekerja keras seharian, orang bisa menikmati relaksasi sekaligus melatih keterampilan gerak yang bermanfaat untuk melawan kejahatan. "Kalau diumpamakan sekolah, begitu kita lulus bisa langsung bekerja." Dengan lain kata, semua materi latihan bisa langsung dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Dua kali Sidha mengaku dipepet oleh penjahat. Dua kali pula dia mempraktekkan jurus-jurus "buru, sergap, lumpuh" dengan berhasil.

Fenomena kejahatan kota besar, siapa kira melahirkan sebuah sistem bela diri yang simpel, bermanfaat, dan dikemas dengan kebutuhan gaya hidup kelas menengah urban? Dan kegandrungan pada bela diri instan ini ternyata merebak. Pusat latihan art of combat di sebuah bangunan berlantai empat di Karinda Plaza, Lebakbulus, sudah tak cukup lagi menampung anggota klub sehingga harus dilebarkan ke Kemang, Jakarta Selatan.

Toh mempertahankan diri tidak mutlak menggunakan jurus "buru, sergap, lumpuh"—yang menjadi intisari art of combat. Taebo, jenis senam dinamis yang banyak mengandalkan tendangan dan tinju, merupakan salah satu cara juga. "Karena dengan latihan gerakan yang macho itu, orang bisa lebih percaya diri," kata Sonny.

Vena Melinda, mantan None Jakarta dan artis sinetron, misalnya, giat berlatih taebo dan pernah ikut kick boxing. Menurut Vena, ada unsur bela diri dalam taebo, yaitu taekwondo dan kick boxing. "Selain efektif untuk mengurangi lemak, latihan itu juga bisa dipakai untuk pertahanan diri," tuturnya.

Bahkan taebo bermanfaat untuk melepaskan beban batin—seperti yang pernah dipraktekkan Titi Dwi Jayanti, diva pop Indonesia. Titi mengaku belajar taebo untuk melampiaskan kekesalan hatinya setelah dia bercerai beberapa tahun lalu. Selain itu, dia juga merasa lebih percaya diri. "Waktu itu baru cerai, dan ada rasa minder apa bisa dapat jodoh lagi," ujarnya. Artis lawak Tika Panggabean punya cara unik dalam menjaga pertahanan dirinya: memanfaatkan postur tubuhnya sebagai "senjata". Caranya? Dia selalu memakai jaket berpenutup kepala bila harus keluar malam hari. Dengan penampilan ala preman itu, wanita yang berbadan tinggi besar ini tetap berani melancong di malam hari kendati pernah diancam celurit penjahat. "Saya tidak ada waktu belajar bela diri," tuturnya.

Satu hal, bagaimana jika penjahat yang dihadapi ternyata berkelompok dalam jumlah besar? "Ya, lari secepat-cepatnya. Lari termasuk bagian dari mempertahankan diri," kata Sonny. Mungkin "jurus lari" bisa jadi usulan baru bagi mereka yang ingin menghindari serangan penjahat. Daripada repot belajar tendangan, pukulan, apalagi segala jurus mencolok mata, mendingan berlatih lari cepat alias ngacir.

HYK, Bina Bektiati, Levi Silalahi, Suseno (Tempo News Room)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data