Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 51/XXXI/17 - 23 Februari 2003
   
Ekonomi dan Bisnis

'Happy Ending' buat Garuda

Semula nyaris gagal, akhirnya direksi Garuda Indonesia dan Asosiasi Pilot Garuda menyepakati kenaikan gaji 35 persen. Kedua belah pihak sempat "dikuliahi" oleh Menteri Jacob Nuwa Wea.

KEDUA pihak yang berseteru itu akhirnya menghirup pipa perdamaian. Plong juga kesudahannya. Setelah dua pekan bersitegang urat leher, siap-siap untuk mogok, sementara yang lain mengadu ke polisi, toh akhirnya direksi dan pilot Garuda Indonesia mencapai kesepakatan. Ketegangan yang selama ini menggayut di wajah para direktur Garuda pun sirna. Pancaran rasa lega juga terlihat pada wajah Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jacob Nuwa Wea dan Deputi Menteri Negara BUMN Ferdinand Nainggolan—keduanya bertindak sebagai penengah.

Dalam situasi serba sulit seperti sekarang, perseteruan di Garuda memang tak bisa dibiarkan berlama-lama. Hal itu, selain mencoreng reputasi perusahaan, secara bisnis merugikan. Untunglah kesepakatan bisa dicapai Jumat pekan lalu, lebih cepat dari target semula, yang dijadwalkan pada hari Minggu. Singkat cerita, perundingan bisa sukses karena kedua belah pihak bersedia mundur dari posisi mereka sebelumnya. Dalam hal ini, manajemen Garuda menyetujui sebagian besar tuntutan para pilot. Sebaliknya, Asosiasi Pilot Garuda berjanji tidak akan mogok.

Tapi, dua pekan lampau, tepatnya Senin, 3 Februari 2003, direksi Garuda masih belum bersedia menaikkan gaji pilot sebesar 39 persen dan gaji nonpilot sebesar 25 persen seperti yang dituntut pihak asosiasi. Manajemen Garuda hanya bersedia menaikkan gaji pilot 32 persen dan nonpilot 27 persen. Menurut juru bicara Garuda Indonesia, Pujobroto, manajemen tidak akan memenuhi permintaan pilot karena tambahan anggaran untuk gaji saja bisa mencapai Rp 500 miliar per tahun. "Tuntutan itu jelas tak mungkin kami penuhi karena tambahan gaji untuk tahun ini sudah kita anggarkan Rp 100 miliar," Pujo menegaskan.

Ferdinand juga berpendapat bahwa Garuda tak bisa menaikkan gaji pilot sampai setinggi itu karena perusahaan ini sedang dalam proses membereskan utangnya. Setiap tahun Garuda menganggarkan US$ 120 juta atau sekitar Rp 1,1 triliun untuk membayar utang ke kreditor. "Utang ini baru beres 8-10 tahun ke depan," ungkap Pujo. Sedangkan Ferdinand sempat merasa sangat jengkel sehingga menuding para pilot sebagai orang tak tahu diri. "Perusahaan sedang berdarah-darah, apa pantas mereka minta kenaikan gaji setinggi itu?" kata Ferdinand menyoal. Bahkan, menurut Ferdinand, pemerintah sampai tak pernah meminta dividen dari Garuda kendati perusahaan ini mampu meraih laba sejak 1999.

Sikap direksi yang tampaknya mau menang sendiri ini tidak membuat para pilot gentar. Mereka bergeming. Menurut Ketua Asosiasi Pilot Garuda, Ari Sapari, pihaknya tak cuma meminta kenaikan gaji, tapi lebih dari itu perbaikan sistem penggajian di perusahaan penerbangan terbesar di Indonesia ini. Dia menceritakan, saking amburadulnya sistem penggajian di Garuda, ada kopilot yang gajinya lebih tinggi dari pilot padahal kemampuan dan pengalamannya kalah jauh. Belum lagi jika perbandingannya diperluas sampai awak darat. "Masa, gaji letnan lebih tinggi dari kolonel?" begitu Ari menggambarkan betapa kacaunya sistem penggajian di Garuda.

Dia menambahkan, para pilot sebetulnya sudah sejak Oktober 2001 mengusulkan perbaikan ini, tapi tidak pernah digubris oleh manajemen. Ari juga menolak anggapan bahwa rekan-rekannya menuntut gaji yang disetarakan dengan maskapai penerbangan Malaysia (MAS) atau Singapura (SIA). "Kita tahu dirilah. Tuntutan kita tak sejauh itu," ujarnya. Dan dia menyayangkan sikap direksi yang menanggapi tuntutan para pilot secara berlebihan. Tak aneh jika asosiasi yang menghimpun para pilot Garuda ini akhirnya mematok target tinggi dalam tuntutannya, plus ancaman pemogokan.

Karena pilot tak mau mundur, manajemen Garuda melaporkan mereka ke polisi. Direksi Garuda meminta perlindungan polisi jika Asosiasi Pilot Garuda benar-benar melaksanakan ancamannya untuk mogok. Ancaman ini memang menakutkan Garuda, yang melayani 20 kota di dalam negeri dan 15 kota di luar negeri. Di tengah persaingan bisnis penerbangan yang sangat ketat, pemogokan bisa menghancurkan Garuda. "Para pesaingnya tinggal menunggu. Begitu pilot mogok, penumpang akan lari ke maskapai lain," kata Ferdinand. Apalagi Garuda selama ini banyak melayani rute gemuk seperti Jakarta-Surabaya, Jakarta-Medan, dan Jakarta-Denpasar.

Namun jalan cerita berubah setelah Menteri Jacob turun tangan menjadi penengah. Secara maraton, Jacob bertemu dengan pilot dan manajemen Garuda. Menteri yang bertubuh dan bersuara besar ini juga sempat menyemprot direksi Garuda yang melapor ke polisi, tapi juga mengancam para pilot agar tidak mogok selama perundingan berlangsung. Meskipun sudah ada penengahnya, negosiasi gagal ketika tenggat Kamis pekan lalu terlampaui. Negosiasi lalu diperpanjang sampai hari Minggu. Akhirnya, perundingan bisa selesai dengan baik setelah para pilot bersedia mengikuti saran Jacob untuk menurunkan tuntutannya sampai 35 persen.

Memang, manajemen Garuda pada awalnya juga tak mau mengubah angka 32 persen. Menurut Pujobroto, jika angka itu dinaikkan, anggaran akan bertambah atau kenaikan gaji awak darat tidak bisa lagi sebesar 27 persen seperti yang diusulkan direksi. Jadi, ini bukan pilihan yang mudah, apalagi kemampuan keuangan Garuda memang terbatas. Sementara itu, jika angka 35 persen disetujui, selisih kenaikan gaji antara pilot dan awak darat makin besar. Dan ini bisa menimbulkan kecemburuan antarkaryawan. Akhirnya, direksi bersedia menaikkan gaji sebesar 35 persen setelah ada lampu hijau dari Serikat Pekerja Garuda—yang menghimpun karyawan darat Garuda—yang mengisyaratkan mereka bersedia naik hanya 25 persen. "Saya salut kepada awak darat," kata Ferdinand. Tanpa kesediaan mereka, negosiasi pasti gagal.

Dengan kenaikan ini, gaji pilot yang baru akan berkisar dari Rp 7,4 juta sampai Rp 27,35 juta—naik dari semula Rp 5,49 juta-Rp 20,26 juta. Sementara itu, gaji kopilot akan bergerak naik menjadi Rp 5,22 juta-Rp 19,3 juta. Namun itu baru perkiraan kasar karena pekan ini juga Garuda akan menunjuk konsultan untuk membuat sistem penggajian yang baru. Menurut Ferdinand, sistem yang baru nanti diharapkan bisa juga menjadi patokan (benchmarking) bagi perusahaan penerbangan lain. "Yang penting, sekarang semuanya beres dan tidak ada lagi ancaman pemogokan," tutur Ferdinand lega.

Urusan negosiasi gaji memang beres. Namun, bagi manajemen Garuda, kenaikan ini menambah berat beban yang sudah berat. Apalagi Garuda baru saja mendapatkan pukulan keras, setelah ledakan bom di Legian, Kuta, Bali, pertengahan Oktober tahun lalu. Menurut Pujo, pesawat-pesawat Garuda yang terbang ke Jepang dan Australia nyaris kosong. "Kita baru pulih gara-gara peristiwa 11 September 2001, tahu-tahu ada kejadian di Bali," kata Pujo. Tak aneh, tahun lalu, pendapatan Garuda turun sedikit dari Rp 10 triliun pada 2001 menjadi sekitar Rp 9,8 triliun. Bahkan laba bersih Garuda pada tahun 2002 turun hampir separuhnya dari Rp 800 miliar menjadi hanya Rp 417 miliar.

Mujur akhirnya pemogokan urung dilakukan. Menurut Ketua Indonesia National Air Carrier Association, Wahyu Hidayat, kalau para pilot sampai mogok, Garuda bakal habis. Wahyu mengungkapkan bahwa persaingan masih akan keras dalam beberapa tahun ke depan. Lagi pula sejumlah perusahaan baru mampu merebut pasar pemain lama. Salah satunya Lion Air, yang terus menambah pesawat dan rutenya. Nah, keuangan Garuda—yang kini menguasai pangsa pasar 40-50 persen—bisa terganggu jika perang tarif makin keras dan ongkos produksi Garuda membengkak. Karena itu, pilihannya cuma satu: selamatkan Garuda! Atau dengan kata lain, jangan bermimpi gaji besar tapi periuk nasi ditelungkupkan. Paling tidak, hirup saja dulu pipa perdamaian itu.

M. Taufiqurohman, Leanika Tanjung, Iwan Setiawan


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data