Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 51/XXXI/17 - 23 Februari 2003
   
Ekonomi dan Bisnis

Jejak Langkah Tiga Nama

ADA tiga kandidat yang menurut sumber TEMPO telah disorongkan Presiden Megawati ke parlemen, Jumat malam kemarin. Berikut riwayat mereka.

Miranda Swaray Goeltom

DENGAN kelir rambut yang acap berganti sesuai dengan warna busana yang dia kenakan, sosoknya tergolong populer. Miranda, doktor ekonomi politik dari Universitas Boston, diangkat sebagai Direktur BI sudah sejak 24 Desember 1997. Sebelumnya, ia pernah menjabat Deputi Asisten Menteri Koordinator Pengawasan Pembangunan di era Soeharto.

Belakangan, pada November 2002, Miranda dan empat anggota dewan gubernur lain ramai-ramai mengundurkan diri. Santer dikabarkan, langkah itu mereka ambil setelah "ditekan" Rizal Ramli dan Marzuki Darusman, Menteri Koordinator Perekonomian dan Jaksa Agung ketika itu. Presiden Abdurrahman Wahid lalu meneken keputusan yang meminta mereka tetap bekerja sampai pejabat baru dilantik. Namun, sampai saat ini Miranda masih terus bertahan di kursinya.

Wanita kelahiran Jakarta 54 tahun silam ini dikenal sebagai orang kepercayaan Gubernur BI saat ini, Syahril Sabirin. Ketika Syahril dikenai status terdakwa, Mirandalah yang kerap ditunjuk menggantikannya pada setiap perjalanan dinas luar negeri. Ia bahkan disebut-sebut sebagai putri mahkota yang disiapkan Syahril. Ditanya soal pencalonannya, ibu dua anak ini tak mau berkomentar, "Enggak ah, nanti saya dipikir mengejar-ngejar jabatan."

Cyrillus Harinowo

DIA menyebut dirinya sebagai pengamat ekonomi di Washington selama cuti setahun dari segala kegiatannya sebagai salah satu direktur di Bank Indonesia. Tapi tinggal di Amerika tak menghilangkan minatnya pada perekonomian Indonesia. Secara rutin ia menuangkan hasil pengamatannya dalam berbagai kolom dan artikel di media massa.

Selain sebagai birokrat, sarjana akuntasi lulusan Universitas Gadjah Mada dan doktor ekonomi internasional dari Universitas Vanderbilt, Tennessee, Amerika, ini pun menjadi dosen di Program Magister Manajemen Prasetya Mulya dan beberapa universitas lain. Harinowo juga telah menulis cukup banyak buku dan kajian ilmiah tentang ekonomi dan moneter.

Sumber TEMPO di Istana mengatakan kans lelaki kelahiran Yogyakarta, 9 Februari 1953, ini cukup besar. Ia dinilai memenuhi syarat yang diajukan Presiden Megawati: tak pernah bersangkut-paut dengan masalah dana bantuan likuiditas BI dan mengetahui seluk-beluk bank sentral. Dia pun dinilai punya hubungan baik dengan IMF dan Bank Dunia. Yang juga penting, Harinowo ternyata punya pertalian batin dengan PDIP. Tak lain, dia adalah menantu seorang anggota parlemen dari Fraksi Banteng Bulat.

Burhanudin Abdullah

DIBANDING kandidat lain, barangkali dialah yang paling kurang terdengar. Namanya hanya pernah sebentar menghiasi halaman muka koran ketika diangkat sebagai Menteri Koordinator Perekonomian pada Juni 2001 silam, di penghujung kekuasaan Presiden Wahid.

Burhanudin sejatinya adalah orang lama di bank sentral. Ia meniti karier dari bawah sejak tahun 1981 sebagai staf di urusan kredit. Tapi kariernya cepat menanjak. Ia pernah menduduki posisi Direktur Luar Negeri, sebelum pada 2 Agustus 2000 lampau diangkat sebagai Deputi Gubernur BI. Selama empat tahun, dia juga sempat bekerja di kantor IMF di Washington, Amerika Serikat.

Santer dikabarkan, nama lelaki kelahiran Garut, 10 Juni 1947, ini masuk daftar karena kuat diusung Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Tapi, saat ditanya ihwal pencalonannya, Burhanudin cuma berkata, "Alhamdulillah. Paling saya dicalonkan oleh media. Sejujurnya saya tak tahu apa benar saya dicalonkan." Ia juga menyatakan sampai detik ini tak berafiliasi dengan partai politik mana pun, termasuk PPP. Kendati demikian, ia tak menam- pik kedekatannya dengan Hamzah Haz, wakil presiden sekaligus Ketua Umum Partai Ka'bah. Ia bertutur sambil tertawa: "Saya kenal baik tak hanya dengan Pak Hamzah, tapi juga Pak Kwik, bahkan Bu Mega. Memang ada yang bilang saya terlalu hijau. Tapi, yang benar, saya ini seperti semangka. Luarnya hijau, tapi dalamnya sih merah."

Febrina Siahaan, Iwan Setiawan


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data