Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 51/XXXI/17 - 23 Februari 2003
   
Ekonomi dan Bisnis

Syahril Sabirin:

BURSA calon Gubernur Bank Indonesia mulai marak. Nama Syahril Sabirin, gubernur sekarang, termasuk yang ikut disebut-sebut. Dan doktor ekonomi moneter lulusan Vanderbilt University, Amerika Serikat, ini telah secara terbuka menyatakan kesiapannya untuk dipilih kembali.

Namun, ia menyanggah berbagai suara miring yang menyatakan bahwa keinginannya untuk terus bertengger di pucuk bank sentral itu tak lain merupakan bagian dari upayanya untuk meloloskan diri dari jerat hukum. Maret lalu, sebagai terdakwa kasus korupsi Bank Bali, Syahril divonis tiga tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Belakangan ia dibebaskan pengadilan tinggi dan masih menunggu putusan berikutnya di tahap kasasi.

Syahril, lahir di Padang 60 tahun silam, pertama kali masuk Kebon Sirih—kantor pusat BI—pada 11 Februari 1998, di akhir kekuasaan Soeharto. Setahun kemudian, seiring dengan disahkannya Undang-Undang BI yang baru, ia pun kembali diangkat untuk periode empat tahun. Persis pada 17 Mei mendatang ia akan mengakhiri masa jabatannya. Selasa malam pekan lalu, sesaat sebelum ia meninggalkan Jakarta untuk sebuah perjalanan dinas ke Filipina, wartawan TEMPO Febriana Siahaan berkesempatan mewawancarainya. Berikut petikannya.

Kabarnya Anda bersedia jika dipilih kembali sebagai Gubernur BI?

Itu kan semua terserah Presiden. Tapi kalau untuk kepentingan pribadi, saya lebih baik mencari pekerjaan lain. Seperti dulu di Washington, di Bank Dunia, atau IMF. Gajinya tinggi, hidupnya tenang. Tapi, kalau memang di Bank Indonesia saya diperlukan…, ya, saya akan mengorbankan itu semua. Saya siap-siap saja untuk dipilih kembali.

Apa diperbolehkan menurut Undang-Undang BI?

Kalau menurut undang-undang dibolehkan untuk satu periode lagi. Pengertian saya sih begitu. Tidak tahu kalau menurut pengertian orang lain.

Perkara Anda dalam kasus Bank Bali masih di tahap kasasi. Ada kaitannya dengan kesediaan Anda dipilih kembali?

Tidak ada hubungannya. Kalau saya takut kalah di pengadilan dan masuk penjara, sudah dari dulu saya mengalah. Sudah sejak dulu saya terima tawaran Gus Dur (Presiden Abdurrahman Wahid) untuk mengundurkan diri. Tapi kan tidak saya terima. Kenapa sekarang saya harus takut?

Selain Anda, juga disebut-sebut nama Aulia Pohan, Miranda Goeltom, Harinowo, atau Neloe.

Saya tidak mau berkomentar soal itu. Itu wewenang Presiden.

Fungsi BI akan dipersempit hanya mengawasi sektor moneter. Apa tidak sebaiknya gubernur mendatang dipilih bukan dari kalangan bankir?

Biar presiden sajalah yang menentukan. Kalau saya berkomentar, jadi tidak enak nanti.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data