Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 50/XXXI/10 - 16 Februari 2003
   
Seni Rupa

Pesan Adjektif pada Tubuh

Seni-rupawan Putu Sutawijaya menuangkan inspirasi yang dipetik dari seni tari ke dalam karyanya.

Pameran tunggal karya terbaru Putu Sutawijaya, 32 tahun, di Galeri Komaneka, Ubud, Bali, yang berlangsung hingga 5 Februari 2002, menimbulkan beberapa pertanyaan. Apa arti Bali bagi Putu? Apa arti seni rupanya bagi tradisi yang sebagian telah mengilhami seni lukis itu? Yang pertama ihwal ranah representasi, yang kedua menyangkut peran sosial yang dapat dimainkan. Selama ini keduanya telah melahirkan diskusi yang kusut di kalangan para pelukis sambil berpaling dari contoh-contoh seni rupa yang ada.

Karya Putu menggali sebuah tema tunggal yang terus digeluti dalam seni lukisnya selama beberapa tahun terakhir. Judulnya menunjukkan hal itu, Metafor Tubuh. Judul ini pun terdengar klise. Lihatlah, begitu banyak pameran mendekatkan wacananya sekitar tajuk itu—mengikuti jargon dalam filsafat—tanpa suatu penjelajahan yang cukup berarti. Namun, penggambaran tema atau tesis tubuh yang ajek dalam lukisan Putu adalah jenis figurasi yang berbeda dalam seni lukis modern Bali. Perkecualian dari itu, misalnya, adalah psikografi pengalaman tubuh personal yang menggemparkan—berbau erotik— pada karya Murniasih. Juga rekayasa "tubuh-tubuh balon" yang ganjil pada karya Nyoman Masriadi seakan sebagai representasi ledakan budaya konsumen.

Para perupa modern Bali rata-rata terlihat terlampau mudah membuat alih visual pernik-pernik dari suatu elemen atau simbol dalam tradisi atau budaya Bali. Dalam hal ini Putu sangat hemat: memilih mengosongkan dan menepis elemen visual semacam itu pada karyanya.

Karya Putu tampak mereguk sumbernya pada figurasi tubuh yang diamati dalam rumpun seni yang lain, yakni (gerakan di dalam) tari. Hal itu menunjukkan bahwa perhatian utamanya tidak saja pada tradisi dan banjir visual yang sudah ada. Seakan ia kembali pada dasar seni Bali yang lebih kukuh: seni yang tak lengkap tanpa suatu elemen "pertunjukan". Tetapi, yang mencolok pada figurasi tubuh ala Putu adalah pesan-pesan adjektif melalui lambaian tubuh yang dilukiskan.

Tubuh selalu tampak meregang, menahankan sesuatu dari dalam. Simbol penderitaan universalkah seperti yang ingin ditampakkan pada tubuh tersalib (Kontemplasi—70 x 70 cm, 2002), atau suatu upaya tubuh melawan kekuatan alam, seakan tubuh berjalan dan menari di atas bara api (Di Atas Arus—160 x 145 cm, 2002)? Tubuh pun membatu pada lukisan Mimpi (2002).

Aliran blabar (kontur) hitam yang kuat, dengan bermacam tekanan seperti dalam seni lukis Cina, terasa memancarkan kembali dinamika lambaian tubuh yang dilukis. Itulah kode-kode tubuh untuk menyampaikan pesan adjektif: ambang, ambruk, bangkit, roboh, ajal, dan luruh. Pesan adjektif melampaui fakta tertentu pada lukisan Putu Sutawijaya. Tetapi melampaui tidak berarti meremehkan pokok tertentu yang dilukis. Karena itu, wujud visual dalam karya Putu masih bernilai. Bukankah banyak pelukis telah meremehkan kekuatan visualnya demi wacana atau pesannya?

Memang sosok yang dilukis selalu menyarankan tubuh gempal laki-laki, tetapi itu pun dapat dilihat dengan kacamata sedikit kabur. Bukankah yang dianggap paling maskulin pada tubuh laki-laki dapat mirip sosok feminin, dan sebaliknya? Karena itu, identitas gender mungkin tak merisaukan Putu.

Kalau kita percaya bahwa di dalam bentukan alam pun akhirnya terasa ada wajah sosial, pada penggambaran tubuh yang tampak natural pun mungkin saja muncul suatu metafora sosial. Namun, Putu tidak melukiskan sebuah tema sosial-politik yang melahirkan bermacam figurasi aneh untuk menanggapi bom 12 Oktober 2002 di Kuta, Bali. Ia lebih bersahaja dalam hal itu: tubuh yang diam ataupun bergerak bagaimanapun mempunyai bermacam bahasa. Dalam hal ini, Putu dapat diumpamakan "sang penari" dalam lukisan.

Pada langit-langit galeri, Putu menggantung sembilan patung dari kerangka besi dan kawat. Terasa sekali lagi ada kekosongan dan esensi sekaligus pada tubuh. Setiap lekuk atau relung dalam patung itu membayangkan kepedihan tubuh yang dianyam dengan jalinan kawat duri. Apakah ini sebuah tanda teror yang terlampau verbal, sejajar dengan leleran cat pada kanvas?

Kecuali hanya sangat sedikit lukisan yang menunjukkan sebuah konteks yang lebih tegas pada seni pertunjukan Bali (misalnya Energi 1 dan Energi 2, 2002) dengan menampilkan figur dan topeng-topeng barong, Putu menarik karena caranya membersihkan kanvasnya dari elemen visual tradisi. Memang, tidak semua lukisan Putu bermutu pada pameran ini. Di sana-sini ia juga mengulang suatu "tarian" yang dangkal. Namun, agaknya Putu sadar tak memajang kartu pos Bali di toko suvenir di saat melukis, semata-mata demi memuaskan dahaga pada mata.

Hendro Wiyanto, kurator independen


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data