Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 50/XXXI/10 - 16 Februari 2003
   
Pendidikan

Robohnya Sekolah Kami

Bangunan sekolah dasar di Jakarta banyak yang rapuh?dan ada yang roboh. Puluhan ribu siswa belajar di bawah bayang-bayang maut.

ATAP sekolah itu runtuh hanya selang tujuh jam setelah para siswa meninggalkan bangku kelasnya. Pada tengah malam, kerangka atap bangunan Sekolah Dasar 02 Petang Kwitang, Jalan Kramat V, Jakarta Pusat itu terdengar berderak-derak, sebelum akhirnya roboh berdebum ke tanah. Pecahan genting berserakan di lantai yang retak. Paku-paku tajam mencuat dari patahan balok kayu yang bertumpuk menimpa kursi-kursi kecil di kelas itu.

Padahal tak ada badai bertiup, toh sekolah tua yang menyempil di sebuah gang sempit itu roboh juga. "Suaranya seperti bom jatuh," ujar Rebo Muhidin, 58 tahun, penjaga sekolah yang tinggal dalam kompleks bangunan sekolah. Suara dan entakan keras yang ikut menggoyang lantai rumahnya itu membuat ia terloncat ke luar. Tapi dia hanya terbengong menyaksikan langit menganga di atas ruang kelas itu, Kamis dua pekan silam.

Esoknya, sekitar 255 siswa dari SD 01 Pagi Kwitang dan SD 02 Petang Kwitang terpaksa belajar berdesakan di ruang yang masih utuh. Telah lama dua sekolah itu menempati bangunan yang sama. Pagi digunakan siswa kelas 4, dan siangnya jatah kelas 6. Karena takut bangunan lain turut roboh, Dinas Pendidikan Dasar DKI Jakarta telah memindahkan semua siswa sekolah yang terkena musibah ke SD Kenari, yang jaraknya hanya seratus meter.

Tak seluruh bangunan sekolah hancur, memang. Dari tiga unit bangunan, yang roboh cuma ruangan kelas yang dibangun pada 1978. Satu unit bangunan lain?buatan kolonial, berdiri sejak 1928?masih tegak meski kondisi atapnya mencemaskan. "Kerangka atapnya sudah lapuk dimakan rayap," ujar Rebo.

Sementara siswa SD di Kwitang beruntung terluput dari maut, dua bocah sekolah di Bekasi tewas tertimpa tembok pembatas sekolah mereka. Ridwan Ramdhan Siregar, siswa SD Bintara II, Bekasi Barat, Kota Madya Bekasi, tertimpa tembok pembatas antara sekolahnya dan sepetak kebun. Ridwan, yang sedang asyik bermain-main, tewas terkubur reruntuhan tembok. Lima rekannya luka berat dan harus menginap di Rumah Sakit Islam Jakarta Timur.

Tiga hari berselang, warga Bekasi kembali berduka. Umar bin Ujang, 10 tahun, dan Hendri Kurniawan, 9 tahun, dari SD Cikarang, Kabupaten Bekasi, tewas pada Minggu dua pekan silam. Mereka sedang memanjat dinding pembatas kebun, yang ternyata rapuh dan lalu roboh. Wahai, keduanya tewas.

Yang ironis adalah robohnya bangunan di jantung Ibu Kota itu. Menurut data, 118 gedung SD dan SLTP di DKI?kalau mau aman? harus dibongkar dan dibangun yang baru. Kalau dibiarkan tetap berdiri, ada sekitar 38 ribu anak sekolah harus belajar di bawah bayangan maut. "Sejumlah gedung telah dikosongkan," ujar Kepala Dinas Pendidikan Dasar DKI, Gito Purnomo.

Tahun ini, kata Gito, dia telah mengajukan dana perbaikan bagi 68 sekolah dasar yang rawan roboh. Sayangnya, yang disetujui hanya Rp 10 miliar untuk perbaikan 10 sekolah dasar. Padahal, buat membangun 68 sekolah dibutuhkan sekitar Rp 170 miliar?sekitar Rp 2,5 miliar per unit. Padahal, belum semua sekolah yang rawan roboh masuk daftar. Bahkan SD yang runtuh di Kwitang itu luput dari daftar resmi. Baru setelah atapnya tiarap, Gito mencoret sekolah lain dan menjatahkan dananya kepada SD Kwitang.

Tragedi robohnya sekolah dasar itu sangat ironis bagi DKI Jakarta, yang pendapatan daerahnya membengkak tiap tahun. Menurut Ketua Badan Perencanaan Pembangunan Daerah DKI, Ritola Tasamaya, tak banyak sekolah masuk daftar perbaikan. Alasannya klasik: anggaran Pemda DKI terbatas. Ironisnya, kalau untuk pagar Monas, dananya "tak terbatas".

Di Ibu Kota, cekaknya dana memang sangat terasa bagi sektor pendidikan. Dalam APBD 2003, dananya terus mengecil. Misalnya, anggota DPRD DKI memotong bantuan bagi sekolah dasar sebesar Rp 77 miliar. Alasannya, pemerintah pusat hanya mengucurkan Rp 186 miliar dari anggaran belanja nasional bagi sekolah-sekolah di Jakarta.

Kalau banjir makin rajin datang, akan lebih banyak sekolah bocor bahkan roboh. Nah, lebih utamakah membangun proyek megah ketimbang sekolah?

Nezar Patria


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data