Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 50/XXXI/10 - 16 Februari 2003
   
Olahraga

Saat Sentul Meraung Lagi

Indonesia kembali menjadi tuan rumah kejuaraan gokart Asia. Ananda Mikola pun unjuk gigi.

MOBIL gokart oranye itu merapat ke pit stop. Sang pengemudi keluar dari kokpit dengan gusar. Dia mengeluhkan setelan mesin yang kurang pas sehingga kendaraannya tak bisa digeber habis. Dua orang mekanik segera membenahi mobil itu agar sang pengemudi, Ananda Mikola, tidak kehilangan muka di depan lawan-lawannya yang masih pemula.

Di antara para pembalap yang berlaga di Kejuaraan Karting Asia Terbuka putaran ketiga itu, yang berlangsung hari Minggu lalu di Sirkuit Sentul, Bogor, Ananda bisa dibilang senior. Pemuda 22 tahun yang biasa dipanggil Nanda ini sudah lama meninggalkan dunia gokart. Ia telah sering menjuarai beberapa seri Formula 3 Eropa, kendati gagal masuk ke Formula 1. Kini dia balik lagi ke gokart? Nanda menjawabnya dengan malu-malu. "Saya tidak mengejar prestasi, sekadar fun saja," katanya. Dalam kejuaraan gokart sebelumnya yang berlangsung di Filipina dan Malaysia, putra pembalap Tinton Suprapto ini memang tidak ikut.

Pertarungan di Sentul kali ini diikuti sekitar 70 pembalap dalam lima kelas yang dipertandingkan. Selain pembalap tuan rumah, kejuaraan diikuti juga pegokart Malaysia, Filipina, Thailand, dan Singapura. Ananda Mikola, yang turun di kelas Rotax Max, bersaing dengan juara dua seri sebelumnya, Ferhan Fauzy dari Malaysia. Di kelas Formula A, Indonesia diwakili antara lain oleh Zahir Ali, yang menempati peringkat dua di bawah Aaron Liem dari Malaysia.

Terpilihnya Sentul sebagai tuan rumah seri gokart Asia ini menjadi penawar rindu pencinta karting di negeri ini. Gara-gara krisis politik dan ekonomi, tiada kejuaraan gokart multinasional yang digelar di Indonesia dalam enam tahun terakhir. Kali ini pun Indonesia nyaris gagal sebagai tuan rumah karena terjadi peledakan bom Bali. Untunglah, Ikatan Motor Indonesia (IMI), penyelenggaranya, mampu meyakinkan bahwa Indonesia aman. Kejuaraan gokart Asia yang seharusnya diadakan November lalu pun bisa digelar bulan ini.

Bagi para pembalap Asia, Sirkuit Sentul dikenal angker. Menurut Ferhan Fauzy, sirkuit ini banyak menguras tenaga. "Di sini tikungannya banyak sekali," kata Ferhan. Beberapa pembalap memang tampak kelelahan setelah bertanding 12 putaran. Soalnya, di setiap tikungan mereka akan merasakan gaya tarik gravitasi hingga tiga kali lipat.

Buat mengasah keandalan pembalap, kondisi sirkuit seperti itu memang bagus. Saat terjun di Formula 1, mereka sudah terbiasa. Apalagi, di ajang bergengsi itu, daya betotnya lebih besar lagi, sekitar empat kali gaya tarik gravitasi.

Selama ini kejuaraan gokart memang dipakai sebagai tempat latihan sebelum tampil ke jenjang formula. Salah satunya juga karena putaran kemudi gokart persis dengan kemudi mobil formula. Berbeda dengan mobil biasa, pada mobil gokart dan formula, setirnya amat sensitif. Begitu kemudi diputar 30 derajat, rodanya akan berbelok sebesar 30 derajat pula.

Jangan heran jika pembalap Formula 1 umumnya telah malang-melintang di dunia gokart. Mereka antara lain Michael dan Ralf Schumacher, Mika Hakkinen, David Coulthard, Juan Pablo Montoya, Alain Prost, dan almarhum Ayrton Senna. Bahkan Michael Schumacher, yang telah lima kali menjuarai Formula 1, selalu menyempatkan diri mengikuti lomba gokart di Sirkuit Gokart Kerpen, 16 kilometer sebelah barat daya Kota Koln di Jerman. "Karting merupakan jalan terdekat mencapai Formula 1 dan melatih kegesitan pembalap selama libur kompetisi," kata Michael Schumacher.

Enaknya, biaya yang dikeluarkan untuk tampil di ajang gokart relatif murah dibanding berlaga di formula. Perawatan dan pemeliharaan mobilnya pun lebih murah dan mudah. Bahkan para pemula atau anak-anak bisa berlatih gokart dengan memakai mesin seadanya, termasuk mesin pemotong rumput (lihat Ngebut dengan Pemotong Rumput).

Kendati begitu, gokart termasuk jenis balapan baru di negeri ini. Indonesia pun baru menggelar kejuaraan gokart bertaraf internasional pada 1980-an di Sirkuit Ancol, Jakarta. Puncak keemasan gokart dimulai pada 1986 hingga 1988, dengan ditandai kehadiran tim-tim tangguh yang disponsori berbagai perusahaan besar. Tercatat nama Tim Gudang Garam, Tim Bentoel, dan Tim Baygon. Pembalapnya? Muncullah nama-nama seperti Adiguna Sutowo, Sinyo Haryanto, dan Ricardo Gelael. Kemudian, era 90-an melahirkan Ananda Mikola. Di usia 14 tahun, ia sudah menjuarai berbagai kejuaraan gokart nasional dan Asia.

Dengan meraungnya lagi mobil-mobil gokart di Sentul, bekas pembalap Tinton Suprapto berharap dunia gokart di Indonesia akan bangkit lagi. Apalagi di situ tampil juga Ananda Mikola, yang sudah lima tahun malang-melintang di ajang formula. Siapa tahu, dari kejuaraan di Sentul muncul pembalap gokart yang mampu mengikuti jejaknya.

Agung Rulianto dan Ryan Suryalibrata


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data