Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 50/XXXI/10 - 16 Februari 2003
   
Gaya Hidup

Terpikat karena Cokelat

Kudapan cokelat ternyata menjadi salah satu primadona pada hari Valentine.

Kehebohan itu sudah setahun lewat. Tapi, menjelang tibanya hari Valentine pada pekan ini, Ermey Trisniaty suka terkenang-kenang kembali. Peristiwa tersebut terjadi di Dapur Cokelat, gerai cokelat milik Ermey di kawasan Mayestik, Jakarta Selatan.

Ketika itu pembeli tengah berjejal, memborong aneka macam kudapan yang dirancang khusus untuk Hari Kasih Sayang. Tiba-tiba anak buah Ermey melihat mobil patroli polisi menepi. Seorang polisi turun, menyeruak ke dalam kedai. Sontak, para pegawai berlari menjemput Ermey. Mereka menanti dengan berdebar ada keonaran apa yang membuat si polisi meluncur ke Dapur Cokelat. Suasana tegang meleleh ketika si polisi—seorang letnan dua—berkata dengan malu-malu: "Saya ingin membeli cokelat. Hadiah Valentine untuk pacar saya, seorang mahasiswi," Ermey tergelak sembari menirukan kembali kata-kata si letnan.

Cokelat dan Valentine? Mengapa tidak? Bunga, kartu, makan malam di bawah cahaya lilin, atau sebentuk cincin pertunangan adalah hadiah yang sudah lazim diberikan sebagai tanda kasih sayang. Dan cokelat, walau mulanya barangkali tidak sefavorit bunga atau kartu, kian populer sebagai tanda cinta pada Hari Kasih Sayang—sebuah tradisi urban yang dirayakan di seluruh belahan bumi pada setiap 14 Februari.

Dari mal-mal besar hingga cokelat "buatan rumah"—semuanya dirancang untuk menyambut 14 Februari. Di Bandung, Flamboyant Bakery di kawasan Sukajadi kebanjiran pesanan sejak 1 Februari lalu. "Penjualan meningkat 400 persen dibanding hari biasa," ujar Handri, supervisor bakery tersebut, kepada wartawan TEMPO Rinny Srihartini. Di Yogyakarta, toko swalayan Mirota tetap menyediakan kado-kado cokelat untuk Hari Kasih Sayang, walau dari pengalaman mereka cokelat bukanlah kudapan yang laku keras. "Kami menyediakan paket seharga Rp 10.000-an. Ini jenis yang paling laku."

Alhasil, gairah para pemuja cokelat bisa tersalur dengan mudah karena rata-rata gerai cokelat di Jakarta dan beberapa kota besar lain memang sudah menyiapkan diri untuk diserbu konsumen. Mari kita jalan-jalan ke Tunjungan Plaza di Surabaya. Sepasang muda-mudi masuk ke gerai cokelat Be Blessed. Sembari menggelayut mesra di bahu pacarnya, sang nona memilih hadiah Valentine-nya: cokelat-cokelat mungil dalam keranjang berhiaskan pita merah muda, boneka, dan balon kecil berbentuk hati seharga Rp 50 ribu.

Para juragan cokelat rupanya sadar betul, kudapan ini harus ikut "menyesuaikan diri" dengan suasana pesta. Dalam hal warna, misalnya. Merah muda adalah warna stereotipe Valentine. Maka, gerai-gerai cokelat segera memermak diri agar selaras dengan suasana pesta kasih sayang. Dapur Cokelat juga mendekor ruangannya yang tak seberapa luas itu dengan nuansa merah jambu.

Balon-balon bergelantungan, lilin, lampu meja, boneka, bahkan pohon berbuah cokelat. Semuanya berbentuk hati. Di sudut lain, boks-boks kertas berbentuk hati disusun rapi. Pengunjung yang kebanyakan remaja pun berdesakan pada sebuah meja penuh cokelat khusus Valentine. Semuanya siap membuka dompet dan memboyong cokelat bagi para kekasih, orang tua, anak, bahkan,… bekas pacar.

Fadillah Purworetno, 17 tahun, memilih sekotak cokelat berbentuk hati untuk mantan pacar yang masih melengket di hatinya. "Semoga kami bisa segera berbaikan," dia berbisik kepada TEMPO sembari membayar hadiah tersebut. Artis Cornelia Agatha sering mendapat hadiah cokelat dari Sony, pacarnya. Sony tahu Lia amat suka cokelat. Jangankan Valentine, pada hari-hari biasa pun Sony kerap menyelipkan hadiah cokelat untuk kekasihnya. Hadiah apa yang akan saling diberikan Lia dan Sony pada 14 Februari ini? Keduanya belum memutuskan. "Tapi, rasanya hadiah cokelat sudah cukup untuk hari Valentine," ujar Lia kepada Bernarda Rurit dari Tempo News Room.

Mereka yang belum punya kekasih tak ketinggalan berbelanja cokelat. Itu yang dilakukan artis remaja Agnes Monica. Pada hari Valentine ini dia berniat menghadiahkan cokelat kepada dua sahabatnya, Eunike dan Nadia. "Mungkin saya akan mencarinya di mal," kata Agnes. Jarang mengirim, Agnes malah kerap kebanjiran cokelat di saat-saat Valentine. Dan percaya atau tidak, ada juga yang membungkus cokelat sebagai hadiah dengan niat agar perkawinannya kian langgeng.

Tersebutlah Ria Sutomo, 32 tahun. Ibu dari seorang anak ini sudah bertahun-tahun setia memilih cokelat sebagai hadiah Valentine-nya. Siapa saja yang disasar oleh Ria? Biasanya para sahabat dan kerabat-kerabatnya. Baru tahun ini dia berniat memberi kado cokelat untuk Reza Surongan, yang sudah empat tahun menjadi suaminya. "Saya senang sekali mendapat cokelat," ujar Reza sembari memandang Ria dengan penuh rasa sayang.

Adalah Christopher Columbus yang mula-mula membawa biji cokelat keluar dari Amerika Serikat pada abad ke-15. Di Eropa, pengolahan dan industri cokelat berkembang pesat dan diproduksi dalam berbagai bentuk dan rasa. Dari cokelat praline, yang bentuknya kecil-kecil dengan rasa yang beragam, hingga yang dicetak menjadi bentuk hati berwarna jambon. Dan tradisi menghadiahkan cokelat sudah lama dikenal di mancanegara.

Menurut pengamat cokelat Diana Sutandya, kebiasaan ini sudah dimulai sejak abad ke-17 di Eropa. Saat itu para peraih hadiah Nobel biasanya diberi satu boks cokelat istimewa. Di Indonesia, tren ini mulai marak sekitar dua tahun terakhir. Diana—yang mengambil studi cokelat secara khusus di Prancis—mengatakan hadiah cokelat di hari Valentine bukan tanpa alasan. Efek aphrodisiac pada kandungan cokelat konon dapat meningkatkan gairah cinta. "Rasanya yang manis dan lembut dapat mewakili rasa cinta dan kasih sayang."

Diana membuka sebuah butik cokelat Prancis, L'atelier du Chocolat, di Kemang, Jakarta Selatan. Pelanggannya rata-rata kaum menengah ke atas dan para ekspatriat. "Kualitas kami terjaga karena kami mengimpor hampir semua bahan dari Prancis," ujar Diana. Sedangkan konsumen di Jakarta dengan kantong yang lebih pas-pasan biasanya menyerbu Dapur Cokelat. Artis Ulfa Dwiyanti kini juga ikut terjun berdagang cokelat.

Bisnis cokelat memang menggeliat menjelang Valentine. Flamboyant Bakery di Bandung, misalnya, sampai menggelar Collata Valentine Fair selama sepekan mulai 8 Februari. Acara ini akan menggelar demo pembuatan cokelat Hari Kasih Sayang dari berbagai bentuk, warna, dan rasa. Di Surabaya, ada Sandra Brail yang menjual cokelat lewat internet. Dan Sandra mengaku, pesanan biasanya meningkat pada hari-hari menjelang 14 Februari. Sedangkan Dapur Cokelat sudah cukup berpengalaman dalam menghadapi "serbuan Valentine".

Tahun silam, kedai itu kewalahan menerima 5.000 pesanan. Sehari sebelum Valentine, serombongan anak lelaki menerobos pintu kedai untuk membeli cokelat bagi pacar-pacarnya. Mereka melongo tak percaya ketika diberi tahu semua stok sudah ludes, padahal hari itu masih 13 Februari. Dapur Cokelat memutar akal dan jalan tengah pun ditemukan. "Akhirnya kami beri mereka enam kue brownies. Di atasnya diberi tulisan I love you dari cokelat berwarna pink," ujar Ermey.

Cokelat bukan saja manis, lembut, dan meleleh di atas lidah. Tapi bisa membuat hati terpikat. Dalam film Chocolat, tokoh Vianne (Juliette Binoche) memenangi cinta Roux (Johny Depp), seorang lelaki gipsi di Prancis, melalui cokelat. Dan astaga, kudapan ini bisa jadi jauh lebih populer daripada yang kita duga. Mengapa cokelat? Putri Miranti, seorang mahasiswi yang memburu cokelat di aneka mal menjelang Valentine, terperangah mendengar pertanyaan itu. Katanya: "Mengapa cokelat? Masa, memberi hadiah sepatu pada hari Valentine."

Endah W.S. (Jakarta), Adi Mawardi (Surabaya), L.N. Idayanie (Yogyakarta)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data