Menangguk Rupiah di Hari Kurban Bisnis hewan kurban jangan dianggap usaha recehan. Potensi keuntungan di bidang ini bisa amat besar. |
Sudah sepuluh hari terakhir Jaya, 45 tahun, menanggalkan seragam dinasnya. Setelan baju dan celana cokelat krem yang dikenakan tiap pagi selama hampir 20 tahun itu dibiarkan menggantung di lemari. Pegawai Dinas Kebersihan DKI Jakarta ini mengganti "seragam kerjanya" dengan kaus, celana jins, dan sandal jepit.
Tepat pukul tujuh pagi, ia sudah siap di balik kemudi mobil Suzuki Carry berwarna hijau. Kendaraan roda empat itu mengantarnya ke sebuah lokasi di daerah Cibubur, Jakarta Timur, yang berjarak sekitar 500 meter dari kediamannya. Di sana, tepat di tepi jalan raya, Jaya bersama puluhan pedagang kagetan lainnya menggelar dagangannya. Di situ ada sekitar 50 domba dan kambing yang dijejer dalam kandang bambu, siap menanti pembeli.
Tentu bukan tanpa alasan jika lelaki yang sejak tahun 1979 telah berdagang kambing ini rela menanggalkan status pegawai negerinya selama dua minggu. Meski cuma sekali dalam setahun, menurut Jaya, saat-saat menjelang hari raya Idul Adha adalah saat menangguk rezeki berlipat. Dengan modal Rp 110 juta, ia berhasil membawa pulang sekitar 200 ekor kambing dan domba yang berasal dari Banjarsari, Jawa Barat. Berarti rata-rata sekitar Rp 550 ribu per ekor.
Menjelang hari raya, harga kambing akan naik berkali lipat. Yang paling kecil ia lego Rp 600 ribu hingga Rp 700 ribu per ekor. Sedangkan untuk kambing atau domba yang postur tubuhnya besar serta berasal dari bibit unggulan, harga jualnya mencapai sekitar Rp 1,1 juta. Dan biasanya seluruh dagangannya tiap tahun selalu tandas tak bersisa. Setelah dipotong ongkos dan macam-macam biaya, dalam tempo kurang-lebih dua minggu ia bisa mengantongi keuntungan bersih sekitar Rp 20 juta hingga Rp 30 juta. "Lumayan, buat menambah belanja dapur," katanya sambil terkekeh.
Itu baru di tingkat eceran. Untuk partai besar, ada Dompet Dhuafa—satu lembaga nirlaba yang aktif menyalurkan hewan kurban dari dan untuk masyarakat sejak tahun 1994. Meski menyandang misi sosial, Direktur Dompet Dhuafa, Jamil Azzaini, tak menampik bahwa peluang bisnis di sektor ini amat menggiurkan.
Pada tahun lalu, misalnya, lembaga yang dipimpinnya ini menyalurkan sekitar 6.000 ekor kambing dan domba serta 160 ekor sapi ke pelosok Indonesia. Seluruh kebutuhan Dompet Dhuafa dipasok para peternak yang merupakan binaan yayasan ini.
Enam bulan sebelum hari raya, kambing, domba, ataupun sapi dititipkan kepada para peternak untuk digemukkan. Modal untuk setiap kambing ataupun domba kurang-lebih Rp 350 ribu. Sedangkan untuk sapi, ongkosnya mencapai sekitar Rp 3 juta.
Sampai di tingkat masyarakat, setiap kambing atau domba dilepas dengan harga sekitar Rp 685 ribu. Sedangkan sapi sekitar Rp 5,2 juta. Ini berarti, pada tahun lalu saja rupiah yang dapat dihimpun dari selisih harga adalah sekitar Rp 2,5 miliar.
Berbeda dengan pedagang, angka ini tidak langsung bersemayam di kocek Dompet Dhuafa. "Pendapatan ini diputar kembali untuk mendanai berbagai kegiatan sosial," ujar Jamil. Dalam kegiatan itu termasuk layanan kesehatan cuma-cuma dengan memberi pengobatan gratis kepada masyarakat tidak mampu, membantu korban bencana alam, beasiswa, serta menggerakkan berbagai kegiatan ekonomi skala kecil dan menengah. Selain itu, sejak tahun 2001 lalu lembaga ini membudidayakan domba tropis asal Garut, Ovies aries.
Bisnis hewan kurban memang gurih. Keuntungan bisa didapat dalam waktu cepat. Apalagi, satu atau dua hari menjelang hari-H, permintaan meningkat pesat. Selain itu, pedagang juga diuntungkan oleh perilaku pembeli yang biasanya enggan menawar harga.
Menurut Heru Dinawan, salah satu pemasok hewan kurban di Jakarta, peluangnya juga masih terbuka lebar. Kebutuhan hewan kurban khusus di Jakarta saja setiap tahun mencapai sekitar 40 ribu ekor kambing dan domba. Sedangkan sapi mencapai sekitar 3.000 ekor.
Tapi, seperti dua sisi mata uang, selain untung, bisnis ini juga berpeluang merugi. Heru, insinyur pertanian dari Institut Pertanian Bogor yang telah menekuni bidang ini sejak masih duduk di bangku kuliah, mengatakan harga hewan kurban akan langsung terbanting begitu hari raya usai. Padahal besarnya modal yang dikeluarkan bisa tiga kali lipat dibanding hari-hari biasa. Berdasarkan pengalaman itu, Heru berpetuah agar jangan keburu nafsu menghitung untung. Sebab, potensi rugi pun harus ikut dikalkulasi.
Dewi Rina Cahyani
|