Biru yang Masih Kelabu Kendati Toba Pulp diyakini telah aman buat lingkungan, sebagian masyarakat tetap menolak. Kenapa? |
BUKAN main senangnya hati Boru Manurung. Petani perempuan berumur 60 tahun ini tak henti memperhatikan ikan-ikan mas yang berenang ke sana kemari dan tumbuh membesar di kolam miliknya di Desa Patane I, Kecamatan Porsea, Sumatera Utara. "Dulu tak ada ikan yang bisa hidup sebesar lengan," ujarnya.
Keriangan ini, menurut Ketua Forum Bona Pasogit Martin Sirait, tak cuma dirasakan Boru seorang. Sudah empat tahun ini para petani lain di 17 desa Porsea juga bisa kembali tenang menggantungkan hidup mereka pada sawah, kebun, dan hewan ternak mereka.
Hidup tenteram itu dienyam setelah PT Inti Indorayon Utama, pabrik pulp milik konglomerat Sukanto Tanoto yang kini beralih nama menjadi PT Toba Pulp Lestari, ditutup pemerintah. Sejak itu, tak ada lagi udara dan air yang berbau busuk. Juga lenyap sudah deru truk raksasa yang membelah kampung, menebar debu, dan meremukkan jalan.
Menurut Kepala Desa Patane I, M. Sirait, produksi beras di kampungnya kini sudah mencapai 80-90 persen dari kondisi sebelum pabrik Indorayon dibuka. Dulu, dari lahan satu hektare, penduduk bisa memanen 400 kaleng padi (1 kaleng sekitar 11 kilogram). Tapi, setelah pabrik beroperasi di tahun 1989, produksi padi langsung anjlok menjadi 150 kaleng saja. Kini, setelah empat tahun Indorayon tutup, sawah mereka sudah mampu menghasilkan 250 kaleng untuk setiap hektarenya.
Karena itulah, ketika pada 14 Januari lalu deru truk kembali terdengar dan mesin-mesin pabrik mulai menggeram, masyarakat kembali menjadi resah. Masih lekat di ingatan mereka ketika pada November 1993 terjadi kebocoran gas klorin di Indorayon. Juga belum pupus di benak mereka bagaimana padi, ikan, dan ternak mereka ketika itu terkapar mati diterpa hujan asam. Semua itulah, kata Martin, yang memicu aksi penentangan warga—antara lain dengan menghadang setiap truk yang keluar-masuk wilayah pabrik.
Tapi, kekhawatiran itu dianggap berlebihan oleh Direktur Utama Toba Pulp, Wagimin Wongso. Menurut dia, sejak kebocoran klorin di tahun 1993 itu, perusahaannya telah berbenah diri. Antara lain dengan menggelar audit lingkungan pada periode 1994-1995 yang dilakukan oleh sebuah konsultan internasional, Labat Anderson.
Hasilnya, secara umum Labat Anderson menyimpulkan tak melihat adanya pengaruh yang berbahaya pada operasi Toba Pulp. Meski begitu, mereka menyatakan perlu dilakukan sejumlah langkah perbaikan, terutama menyangkut teknologi proses produksi. Salah satunya, rekomendasi agar pabrik menggunakan teknologi yang mampu mengurangi emisi gas buang karbon disulfida (CS2). Selain itu juga disarankan agar Toba Pulp meningkatkan teknologi penanganan limbah cair, gas, dan padat dan sistem pendingin, serta melakukan perbaikan dalam pengelolaan hutan, termasuk melakukan penghutanan kembali (reforestasi).
"Semua rekomendasi itu sudah kami laksanakan," kata Wongso. Bahkan, menurut dia, secara internal pun pihaknya telah rutin melakukan pengecekan peralatan tiap enam bulan sekali dan standardisasi ulang tiap tahun oleh Sucofindo.
Reforestasi pun telah mereka lakukan. Masih kata Wongso, pihaknya telah me-nanam eukaliptus di lahan seluas 45 ribu hektare dan 9.000 hektare melalui pola Perkebunan Inti Rakyat. Menurut Firman Purba, salah satu Direktur Toba Pulp, ini cukup buat menutup kebutuhan kayu untuk produksi, yang rata-rata menghabiskan 1,080 juta meter kubik dengan luas tebangan 5.000-6.000 hektare tiap tahun.
Berbagai upaya ini rupanya berhasil melunakkan hati Jakarta. Menteri Negara Lingkungan Hidup, Nabiel Makarim, mengatakan hasil audit Labat Anderson menunjukkan pabrik pulp ini "telah berada di jalur yang benar". Bahkan, pada tahun 1996-1998, Toba Pulp diberi label biru oleh Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedal) dan kemudian juga sertifikat ISO 9002 dan ISO 14001 sebagai tanda tak punya masalah dengan kelestarian lingkungan.
Toh, langkah perbaikan itu tak kuasa meyakinkan sebagian masyarakat. Aksi penolakan tetap saja berkecamuk di Porsea, seperti yang dengan gigih digelar Pastor Silaen bersama 5.000-an orang pada 3 Februari lalu. Dalam aksinya, mereka kukuh menjadikan isu lingkungan sebagai pokok keberatan—seperti soal pencemaran udara dan air ataupun hujan asam. Beberapa minggu setelah mesin Toba Pulp kembali dinyalakan, Forum Bona Pasogit bahkan kembali melaporkan ada belasan kerbau yang mati dengan mulut berbusa.
Tapi temuan itu kontan ditepis Wongso. Argumentasinya sederhana. Menurut dia, bagaimana mau meracuni, pabriknya ketika itu bahkan belum lagi beroperasi.
Agus Hidayat, Bambang Soed (Porsea)
|