Pro Kontra di Bawah Beringin |
DUA kalimat yang saling menyerang tertoreh di lingkungan Candi Borobudur, Jawa Tengah. "Kemarahan warga tergusur akan menjadi api dalam setiap butir nasi yang kau makan," kata yang satu. Yang diserang tak kalah garang melawan: "Yang tidak setuju Jagat Jawa pethug (goblok)."
Kalimat pertama disampaikan penyair Afrizal Malna dalam sebuah petisi seniman dan aktivis lembaga swadaya masyarakat menentang Pasar Seni Jagat Jawa, sebuah kompleks niaga yang rencananya akan dibangun tak jauh dari Borobudur. Kalimat kedua adalah grafiti dari penduduk di sekeliling candi yang mendukung proyek itu karena berharap mendapat cipratan untung.
Inilah ekses dari rencana Pemerintah Provinsi Jawa Tengah membangun Jagat Jawa: "pertempuran" dimulai jauh sebelum proyek itu dilaksanakan.
Sejauh ini para penentang lebih banyak daripada kaum pendukung. Mereka yang menentang dimotori oleh kalangan LSM pusat maupun lokal. Dari Jakarta, dalam sebuah aksi bersama yang digelar di Penginapan Lotus, Magelang, 23 Desember 2002, datang Wardah Hafidz dari Urban Poor Consortium dan tokoh dari 21 LSM lainnya. Marco Kusumawijaya dari Forum Arsitek Muda Indonesia mengumpulkan tanda tangan menolak Jagat Jawa. Hingga awal Januari lalu ia telah berhasil mengumpulkan 400 tanda tangan.
Di tingkat lokal ada seniman seperti Romo Kirjito, Sutanto Mendut, dan pengusaha hotel Ariswara Sutomo. Dalam aksi 12 Januari 2003 lalu hadir Gunoto Saparie, Timur S. Supradana, dan Djawahir Muhammad?semuanya seniman setempat?serta budayawan Darmanto Jatman. Di bawah pohon beringin tak jauh dari candi mereka menggelar orasi dan pertunjukan seni. "Jagat Jawa adalah proyek prematur," kata Darmanto.
Yang dipersoalkan seniman dan penggiat LSM itu adalah rencana menggusur dan memindahkan pedagang asongan yang biasanya mangkal tak jauh dari candi. Pemerintah daerah sebagai pengelola Borobudur dianggap berniat membunuh kehidupan orang kecil dengan melokalisasi para pedagang di Pasar Seni, yang jaraknya 1,5 kilometer dari bangunan candi. "Kami bersedia menata diri, tapi kami menolak Jagat Jawa," kata Sucoro, seorang pedagang.
Kalangan yang pro berpendapat sebaliknya. Mereka menilai pemindahan pedagang asongan bisa menjaga kelestarian Borobudur, selain juga menyejahterakan warga. Kelompok ini disokong oleh Gubernur Jawa Tengah Mardiyanto plus peneliti kampus yang diorder untuk membuat studi kelayakan Jagat Jawa. "Konsep yang dirancang dalam Jagat Jawa ini adalah mengeluarkan kegiatan komersial dari zona II. Kata Wiendu Nuryati, seorang peneliti dari UGM. Zona II adalah kawasan di sekeliling candi yang kini ditempati para pengasong.
Warga Desa Kujon yang lahannya bakal digunakan sebagai lokasi Jagat Jawa juga menyokong proyek ini. Mereka mengharapkan rezeki nomplok melalui pembebasan tanah. "Lebih cepat dibangun, akan lebih baik," kata Atun, seorang warga Kujon. Hingga kini memang belum ada kesepakatan harga?pemerintah menawarkan Rp 150 ribu per meter, penduduk bertahan pada harga Rp 500 ribu. Namun, ketika ada aksi menentang Jagat Jawa, mereka berontak. Ketika penentang proyek membuat atraksi di bawah beringin, warga Kujon juga berdemo di lapangan desa.
Dialog sudah pernah dilakukan, tapi titik temu belum sepenuhnya diperoleh. Pohon beringin di dekat Borobudur akan tetap menyaksikan bagaimana pro kontra akan terus berlanjut.
AZ, Heru C. Nugroho
|