Berburu Laba dari Asia Klub-klub Eropa berebut pemain Asia untuk menuai keuntungan. Jutaan dolar bisa diraup meski si pemain hanya dipasang beberapa menit. |
BANGKU-BANGKU penonton di Stadion Goodison Park, Liverpool, hanya terisi separuh. Senja itu, tuan rumah Everton menjamu Manchester City. Pertarungan antartim papan tengah Liga Utama Inggris ini berlangsung dalam tempo sedang. Ujungnya, pertandingan ini berakhir dengan skor imbang, masing-masing melesakkan dua gol.
Sepintas pertarungan pada awal Januari silam itu kurang menarik. Tapi ternyata sebanyak 350 juta pasang mata memelototinya lewat televisi. Angka ini merupakan yang terbesar sepanjang sejarah Liga Inggris. Penonton dari mana? Bukankah penduduk Inggris hanya sekitar 12,5 juta jiwa? Sebagian besar penonton televisi itu justru berasal dari Cina, negeri di seberang benua.
Semua itu gara-gara dua bintang sepak bola Cina, Li Tie dan Sun Jihai, yang merumput di Liga Inggris, diturunkan pada pertandingan tersebut. Li Tie membela tim Everton, sementara Sun Jihai bergabung dengan pasukan Manchester City. Itu bukan berarti mereka benar-benar menjadi andalan bagi timnya. Pertimbangannya lebih karena hitung-hitungan bisnis. Produsen telepon genggam dari Cina, Kejian, telah menjadi sponsor utama Everton. Sejumlah perusahaan yang menjual produknya ke Cina pun ikut menabur iklan di pertandingan ini.
Asia telah menjadi pasar industri sepak bola yang subur. Jangan heran jika klub-klub Eropa kini makin rakus mengejar pemain dari benua ini. Di musim kompetisi 2002-2003, ada sepuluh pemain baru yang diboyong ke "Benua Biru". Tiga di antaranya baru diangkut dalam musim transfer terakhir, yang berlangsung sebulan dan berakhir Jumat pekan lalu. Mereka adalah penyerang Jepang, Naohiro Takahara, yang bergabung dengan Hamburg SV, Jerman, dan dua pemain Korea Selatan, Park Ji-sung dan Lee Young-pyo, yang dibawa pelatih Guus Hiddink ke PSV Eindhoven, Belanda.
Kebetulan klub-klub di Eropa sekarang tengah mengalami paceklik keuangan. Karena itu, perhitungan bisnis dalam merekrut pemain semakin menonjol dibandingkan dengan pertimbangan prestasi. Mereka yakin, dengan membeli seorang pemain Asia, mereka bisa mengeruk uang dari televisi dan dari berbagai penjualan barang, dari kaus hingga tisu kamar mandi.
Apalagi kemampuan pemain Asia tak terlalu jauh dibandingkan dengan pemain dari Eropa sendiri atau dari Amerika Latin. Bahkan, pada 1977, telah ada pemain asal Jepang yang mampu merumput di Liga Jerman. Namanya Yasuhiko Okudera. Tapi saat itu pertimbangannya lebih karena prestasi pemain ini, bukan hitung-hitungan bisnis.
Seusai Piala Dunia 1998, semakin banyak pemain Jepang dan Korea Selatan yang menjajal kemampuan di liga Eropa. Salah satunya pemain nasional Jepang, Hidetoshi Nakata, yang bermain di klub Perugia, Italia. Ia dibeli dari tim Bellmare Hiratsuka, Jepang, dengan harga murah, hanya Rp 30 miliar. Angka ini cuma seperempat dari harga pemain Eropa umumnya.
Ternyata penampilan Nakata lumayan. Pemain tengah ini beberapa kali membikin gol. Dari segi bisnis pun dia menguntungkan. Sosok Nakata bisa "dijual" di televisi. Sekitar 50 wartawan Jepang menguntit ke mana pun Nakata pergi. Publikasi tentang klub Perugia tidak pernah berhenti di Jepang. Kaus merah tim Perugia dengan nama Nakata di punggung meledak penjualannya. Rata-rata setiap pertandingan Perugia ditonton langsung oleh 1.500 turis Jepang di Italia. Toko-toko olahraga di Kota Milan dan Roma ikut menjual kaus Nakata untuk menyedot uang dari turis Jepang.
Dalam sekejap Nakata telah menjadi mesin uang yang diperebutkan tim-tim Eropa. Hanya setahun setengah bersama Perugia, Nakata dibeli AS Roma dengan harga tiga kali lipat. Pemilik Perugia, Luciano Gaucci, bisa tersenyum lebar. Selain mendapat keuntungan bersih Rp 60 miliar dari penjualan Nakata, mereka menikmati keuntungan menjual dagangan berstempel Nakata dan hak siar televisi Jepang yang selalu menyiarkan pertandingan mereka.
Bermain bersama Roma, Nakata lebih banyak duduk di bangku cadangan karena kalah bersiang dengan Francesco Totti. Melihat aset yang menganggur ini, beberapa tim mulai melamar. Arsenal datang dengan tawaran Rp 168 miliar, tapi gagal mencapai sepakat. Padahal Arsenal mengaku sudah siap-siap membuat berbagai merchandise The Gunners untuk konsumen Asia. Juventus pun sempat meliriknya. Klub ini malah sudah menghitung bakal untung Rp 400 miliar jika berhasil menggaet Nakata. Tapi deal tak tercapai. Akhirnya, pemain ini jatuh ke tangan Parma, dua tahun lalu, yang setuju memberikan uang transfer Rp 230 miliar. Tim yang nyaris bangkrut ini langsung mencicipi hasilnya. Di hari penandatanganan kontrak, lebih dari 10 ribu kaus tim dengan cap Nakata ludes di Jepang.
Perebutan Nakata belum selesai. Tahun lalu, Atletico Madrid dari Spanyol mengajukan pinangannya. Atletico menyebut, latar belakang pembelian Nakata adalah untuk mendongkrak jumlah turis Jepang di kotanya. Gagal menggaet Nakata, saat ini Atletico sedang melirik pemain Korea Selatan, Ahn Jung-hwan. Atletico memberikan penawaran Rp 28 miliar, tapi belum mencapai sepakat.
Hanya, pemain Asia lainnya tak semujur Nakata. Kebanyakan dari mereka hanya bermain 10 atau 20 menit di setiap pertandingan dan lebih banyak duduk di bangku cadangan. Ini juga dialami striker Jepang, Junichi Inamoto, yang bergabung dengan Arsenal dua tahun lalu. Inamoto, yang dihargai kurang dari Rp 50 miliar, sempat membuat kaget pengelola klub Inggris ini. Sebab, pengunjung situs mereka langsung melonjak enam kali lipat. Sayangnya, Arsenal lebih banyak menempatkannya di bangku cadangan. Karena kecewa, setahun kemudian Inamoto pindah ke klub Fulham.
Pemain Asia cenderung menjadi sapi perahan dalam bisnis sepak bola. Secara tersirat ini tampak dari ucapan Harry Redknapp, bekas manajer West Ham United, Inggris. Dua tahun lalu, ia mengincar pemain Jepang, Tsuneyasu Miyamoto, tapi gagal. Tujuannya bukan untuk memperkuat timnya. Redknapp mengaku sejak awal dia membayangkan hasil penjualan kaus tim West Ham di Jepang bisa mencapai 200 ribu lembar. "Setelah penjualan beres, uangnya cukup untuk saya pakai membeli Rivaldo (penyerang asal Brasil)," katanya.
Hanya, ada pula klub yang cukup hati-hati merekrut pemain Asia. Bos klub Bayern Muenchen, Karl-Heinz Rummenigge, misalnya, mengatakan hanya akan membeli pemain Asia yang berkualitas prima dan menjadi idola. Tapi dia lebih menyukai pemain Korea Selatan dan Jepang ketimbang Cina. "Cina terlalu banyak pembajakannya," katanya. Dia khawatir penjualan merchandise di Cina bakal merugi.
Larisnya pemain asal Asia mendorong Sekretaris Jenderal Federasi Sepak Bola Asia, Peter Velappan, mengeluarkan seruan. Ia menganjurkan agar pemain memilih klub yang memiliki reputasi, integritas, dan pelatih yang bagus. Si pemain juga mesti yakin dirinya bakal diturunkan. "Mubazir bergabung dengan klub Eropa kalau hanya untuk menghangatkan kursi cadangan," kata Velappan.
Lima tahun silam, pemain Cina Sun Jihai telah memenuhi anjuran itu saat bergabung dengan Crystal Palace, klub Divisi Satu Inggris. Dia memilih klub yang memberikan banyak kesempatan bermain. Hasilnya tampak saat Jihai memperkuat klub Manchester City sekarang. Dengan segudang pengalamannya, ia tampil tak mengecewakan di ajang Liga Utama Inggris. Dan aksinya selalu ditunggu jutaan pemirsa dari negerinya.
Agung Rulianto
|