Perdamaian di Makam Tjik Di Tiro GAM dan TNI menyepakati kawasan Indrapuri sebagai zona aman. Bisakah perdamaian dipertahankan?
|
LIMA anggota TNI duduk di sebuah warung kopi dalam suasana "tak nyaman". Sambil menyeruput kopi panas, mereka bercanda dengan penduduk yang lalu-lalang. Tapi, yang membuat mereka kikuk, hari itu mereka tak bersenjata. "Kalau mau jujur, sebenarnya kami agak waswas. Tapi mau bagaimana lagi? Kami harus mengikuti perintah pimpinan," ujar Prajurit Satu Achmad Madon, salah satu anggota TNI itu.
Setelah 11 bulan bertugas di Kecamatan Indrapuri, Aceh Besar, inilah untuk pertama kalinya Madon menanggalkan senjata kala bertugas. Mulai 25 Januari lalu, Indrapuri ditetapkan sebagai zona damai. Semua tentara, baik dari Gerakan Aceh Merdeka (GAM) maupun TNI, tak diizinkan menenteng senapan ketika lalu-lalang.
Maka warga kampung yang terletak 25 kilometer di sebelah timur Banda Aceh itu bersorak-sorai. "Damai, damailah nanggroe (negara) kami," bunyi sebuah spanduk di depan lapangan Indrapuri. Sabtu siang dua pekan lalu, ribuan warga berkumpul di lapangan desa untuk merayakan kebahagiaan itu. Di sana telah ada sejumlah anggota Komite Keamanan Bersama (JSC), lembaga yang dibentuk berdasarkan kesepakatan damai Indonesia-GAM, 9 Desember 2002 lalu. Tampak hadir Thanongsuk Tuvinun (jenderal Thailand yang ikut memantau perdamaian), Brigadir Jenderal Safzen Noerdin (wakil Indonesia), Sofyan Ibrahim Tiba (GAM), dan Mark Knight (Henry Dunant Centre).
Zona damai adalah realisasi dari kesepakatan Jenewa. Tujuannya jelas: menciptakan daerah yang bebas kekerasan agar masyarakat dapat bergerak bebas tanpa takut. "Alhamdulillah, kami bisa hidup tanpa rasa cemas," kata Saiful, seorang buruh bangunan.
Indrapuri adalah kecamatan yang punya 52 desa. Penduduknya 16.846 jiwa dan sebagian besar hidup dari bertani. Sebelumnya, wilayah ini dikenal rawan konflik. Tentara kedua belah pihak sering baku tembak di sini. Menurut salah seorang warga, tak jarang aparat TNI mengejar orang yang diduga sebagai anggota GAM hingga masuk ke desa-desa.
Selama konflik, sedikitnya 67 orang dilaporkan tewas di Indrapuri. Hampir setiap hari pasukan TNI dan Brimob melakukan patroli. Maklum, daerah seluas 146 kilometer persegi itu merupakan salah satu basis militer GAM.
Salah satu desa yang dikenal rawan kekerasan adalah Meureu. Di desa inilah terdapat makam pahlawan nasional Teuku Tjik Di Tiro?leluhur Hasan Tiro, petinggi GAM yang kini tinggal di Swedia.
Menurut Saiful, di desa ini pernah ditemukan kuburan massal anggota GAM. Meureu memang basis GAM. Itulah sebabnya aparat TNI kerap menginterogasi penduduk untuk mencari anggota gerakan. "Jika ditanyai TNI, kita tak pernah benar. Dijawab salah, tak dijawab apalagi," kata Saiful.
Menurut Safzen Noerdin, Indrapuri dipilih menjadi zona damai karena dekat dengan ibu kota provinsi. Sumber lain menyebutkan kecamatan ini dipilih karena merupakan basis GAM. Dengan dijadikannya Indrapuri sebagai zona damai, GAM merasa terlindung dari serbuan TNI, sementara tentara Indonesia bisa mengeliminasi penetrasi GAM di sana.
Persoalannya, bisakah kawasan damai ini dikembangkan? Tak ada yang bisa memastikan. Berdasarkan kesepakatan Jenewa, mulai 9 Februari 2003 nanti kedua belah pihak mesti menggudangkan senjata khususnya di zona aman. Tapi hal ini ditolak oleh GAM. Menurut Sofyan Ibrahim Tiba, "Zona aman tidak otomatis menjadi tempat peletakan senjata GAM."
Hal lain yang bisa menjadi sengketa adalah soal perluasan zona aman. GAM menghendaki zona ini diberlakukan di sejumlah kawasan lain seperti Kecamatan Tiro dan Mutiara (Pidie), Peudada dan Peusangan (Bireuen), Tanah Luas dan Matangkuli (Aceh Utara), Idi Rayeuk dan Peurelak (Aceh Timur), Krueng Sabee dan Kaway XVI (Aceh Barat), serta Sawang dan Kluet Utara (Aceh Selatan). TNI masih pikir-pikir, apakah jika kawasan itu dijadikan zona damai GAM akan diuntungkan. Sebelum 9 Februari, kawasan baru itu sudah harus disepakati.
Perjalanan memang masih panjang. Di Indrapuri, Senin pekan lalu, seorang warga Desa Lampanah dipukul aparat TNI gara-gara tidak bersedia meminjamkan sepeda motor. Anggota Komite Keamanan Bersama langsung menginvestigasinya. "Saya pikir itu hanya masalah kecil antara dua orang," kata Thanongsuk. Mencapai damai memang bukan membalik telapak tangan.
AZ, Fajar W.H., Yuswardi A. Suud (Banda Aceh)
|