Desersi atawa 'Diamankan'? |
BADANNYA tidak tinggi, tapi kekar berotot. Sorot matanya tajam dengan bola mata dilindungi alis tebal. Dengan kumis melintang dan kulit cokelat terbakar matahari, lengkap sudah gambaran Letnan Kolonel Sudjono sebagai pribadi yang menyeramkan. Memang, di lingkungan kerjanya ketika menjadi Kepala Seksi Intelijen Komando Resor Militer Lilawangsa, Aceh, ia dikenal keras, jago berkelahi, dan andal bertempur.
Namun saat ini entah di mana pria berdarah Madura itu berada. Semenjak dirinya menjadi tersangka utama dalam kasus pembantaian Tengku Bantaqiah dan puluhan pengikutnya di Beutong Ateuh, Aceh, ia raib. Sudjono hanyalah salah satu contoh personel TNI yang desersi dalam tugas. Dan yang menyesakkan dada: ia kabur menghindari tanggung jawab di saat orang ingin mencari damai di bumi Aceh.
Peristiwa itu terjadi pada 23 Juli 1999. Dalam insiden yang menewaskan 32 orang tersebut, Sudjono adalah perwira yang memimpin penyerangan. Dalam penyelidikan Pusat Polisi Militer TNI, Sudjono beberapa kali didatangkan sebagai saksi. Tapi, saat proses bergulir ke gelar perkara, ia kabur.
Cara raibnya sederhana. Sudjono, yang sudah 22 tahun bertugas di Aceh itu, meminta izin berobat ke Cirebon dan Purwakarta, Jawa Barat. Ia diizinkan atasannya pergi antara tanggal 5 dan 17 Januari 2000. Namun ia tak pernah kembali.
Keruan saja semua pihak dibuatnya kalang-kabut. TNI dituding menyembunyikan Sudjono dengan tujuan agar tak "bernyanyi" di pengadilan. Tapi tudingan itu dibantah markas besar. "Tak ada upaya penghilangan Sudjono. Jika mau menutup-nutupi kasus ini, mestinya juga hilang 25 tersangka yang lain dong," kata Graito Usodo, Kepala Pusat Penerangan TNI kala itu.
Bekas prajurit lain yang raib karena desersi adalah Kopral Dua Ibrahim Hasan. Ia terlibat pengeboman Gedung Bursa Efek Jakarta, 13 September 2000 lalu. Ketika itu Ibrahim adalah prajurit di Divisi I Kostrad, Cilodong. Ketika divonis penjara seumur hidup, ia lolos dari tahanan Detasemen Polisi Militer Kodam Jaya. Saat itu, 16 Juli 2001, Ibrahim dikawal menuju Rumah Sakit Ridwan Meuraksa, Jakarta Pusat. Tatkala truk yang ditumpanginya mogok, ia melesat.
TNI jadi sorotan. Institusi militer itu dianggap menghilangkan Ibrahim untuk menutupi keterlibatan tentara yang lebih luas pada kasus BEJ.
Untunglah, setahun kemudian, tentara?secara tidak sengaja?berhasil menangkap Ibrahim dalam sebuah kontak senjata dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Jungka Gajah, Kecamatan Meurah Mulia, Aceh Utara. Ibrahim terluka karena tembakan dan dibawa kembali ke Jakarta.
Saat ini tinggal seorang prajurit TNI lain yang juga terlibat kasus BEJ yang kabur. Dia adalah Ibrahim Abdul Manaf Wahab alias Bram. Irwan Ibrahim bin Ilyas, seorang sersan dua Kopassus yang juga terlibat dalam kasus ini, kini mendekam di Penjara Cipinang. Menurut bekas Kepala Penerangan Kopassus, Mayor Herindra, Irwan telah lama meninggalkan tugas militer. "Ia dikenal bersimpati pada GAM," kata Herindra.
Kisah pelarian Abdul Manaf seperti cerita sinetron. Ketika ditahan di Cipinang, ia memanjat tembok setinggi empat meter dengan tali yang diikatkan pada batang pohon di luar penjara. Kaki Ibrahim sempat terluka oleh tembakan mantan Kepala Polwiltabes Bandung, Brigjen Pol. Alex Bambang Riatmodjo, yang melakukan pengejaran. Tapi ia luput.
Pelbagai peristiwa itu mencoreng wajah militer. Ada kesan mereka membiarkan Irwan, Hasan, dan oknum lainnya desersi. Sumber TEMPO di TNI menyebutkan dua tentara itu sedang mendapat izin cuti ketika aksi-aksi pengeboman itu terjadi. Agar TNI terbebas dari noda prajuritnya? Tudingan itu dibantah Komandan Pusat Polisi Militer, yang kala itu dijabat Mayor Jenderal Djasri Marin. "Apa kepentingan TNI melakukan itu?" katanya.
Darmawan Sepriyossa
|