Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 49/XXXI/03 - 9 Februari 2003
   
Nasional

Mengapa Tentara Pada Kabur?

Hingga tahun lalu, tak kurang dari 400 anggota TNI melakukan desersi. Benarkah minimnya kesejahteraan menjadi penyebab utama?

SERSAN Satu Dudung menarik kerah jaketnya lebih tinggi. Betapapun ritsluiting ditariknya hingga menutupi pangkal leher, hawa dingin Lembang masih saja menyelusup ke jaket parasut pembagian kesatuannya itu. Dingin sudah menusuk tulang, padahal baru seorang penumpang yang ia antar dengan Yamaha RXS-nya malam itu.

Hampir saja Dudung menyentak kick starter untuk pulang ketika seorang ibu mendatanginya. "Ke Parongpong," kata si ibu sambil segera duduk di sadel motor. Kegembiraan terpancar di mata Dudung yang lelah. Setidaknya Rp 10 ribu akan menambah jumlah uang di saku jaketnya sebagai ongkos. Setelah itu, biarpun masih jauh dari pukul 10 malam sebagaimana biasanya ia meninggalkan pangkalan ojek itu, Dudung akan pulang. Piket dua malam berturut-turut di kesatuannya, Penerangan Kodam Siliwangi, ditambah tekadnya memaksakan diri mengojek sejak magrib tadi tak hanya membuat Dudung kebelet untuk segera tidur. Tubuhnya pun menuntut istirahat.

Dudung bukanlah satu-satunya tentara yang nyambi mengojek untuk menambah penghasilan. Di kesatuannya yang beranggotakan sekitar 20 orang tentara itu, setidaknya seperlimanya mengojek. Itu tak berarti yang lain berkonsentrasi penuh pada kerja rutin mereka?tapi lebih pada melakukan pekerjaan sambilan yang lain. Ada yang rela menambah kekuatan melek mereka dengan menjadi penjaga malam di pabrik-pabrik, atau menjadi penjaga keamanan, sopir angkutan kota, dan sebagainya.

Sementara Dudung mangkal di pangkalan ojek Lembang selepas tugas, rekannya satu kantor, Sersan Satu Suwarto, Sersan Kepala Asrori, dan Sersan Dua Juhri, akan bersatu dengan para pengojek lain di kawasan Ujung Berung, Kiara Condong, dan Rancaekek. "Lumayan untuk penambah setoran ke orang rumah," kata Dudung dengan nada bercanda.

Untunglah Dudung bisa menghadapi kesulitan itu dengan canda. Bagaimana yang lain? Tak kurang-kurang tentara yang gagal menghadapi kesulitan tersebut dan akhirnya menempuh jalan salah: melakukan pelanggaran hingga berujung pemecatan atau bahkan kabur. Jumlah mereka ini dari tahun 2001 lalu, menurut Komandan Pusat Polisi Militer Mayjen CPM Sulaiman A.B., melonjak cepat. "Jumlahnya mencapai 400 orang anggota," kata Sulaiman.

Jumlah itu merupakan hasil kumulatif beberapa tahun terakhir. Itu juga merupakan angka terakhir mereka yang belum kembali ke kesatuan atau belum tertangkap.

Mengapa mereka kabur? Menurut Sulaiman, setidaknya ada tiga hal yang menjadi penyebab terjadinya desersi. Yang dominan adalah gaji yang dirasa terlalu kecil, lalu persoalan rumah tangga karena kehadiran wanita lain, serta kondisi kerja dalam kesatuan yang tidak menyenangkan. Berdasarkan pengecekannya, cukup banyak anggota TNI yang hanya bergaji sekitar Rp 600 ribu, padahal mereka harus menghidupi rata-rata dua anak. "Jadi, tak aneh kalau banyak yang berutang, bahkan untuk makan di kantin," kata Sulaiman.

Hal itu tak kunjung terbantu, misalnya, oleh kenaikan gaji anggota TNI sebesar 10 persen tahun ini. Gaji Dudung dan kawan-kawan sebagai sersan saat ini hanya berada di kisaran Rp 700 ribu. Untunglah ada tunjangan yang disebut uang lauk-pauk. Persoalannya, tak jarang tunjangan ini juga disunat. "Tahun lalu, dari seharusnya Rp 12.500 sehari, baru dibayar sekitar Rp 7.000," kata pengamat militer Kusnanto Anggoro. Menurut Kusnanto, standar gaji TNI memang termasuk yang terendah di Asia. "Namun, semua tahu, duit kita memang cekak," ujar Kusnanto.

Namun tak semua sependapat dengan Sulaiman dan Kusnanto. Kepala Dinas Penerangan Umum TNI, Letnan Kolonel Nachrowi, memandang gaji sebagai hal yang nisbi, yang besar-kecilnya tergantung pengeluaran seseorang. Gaji tentara, menurut dia, secara standar sudah memenuhi kecukupan. "Sepanjang bisa mengaturnya, insya Allah cukup," katanya. Ia mencontohkan, untuk 23 tahun pengabdiannya di TNI, negara menggajinya sekitar Rp 2 juta per bulan. Tentu saja itu di luar fasilitas mobil yang diterima untuk jabatannya saat ini.

Dan tentu saja tak semua tentara sesadar Nachrowi. Mereka yang pendek akal akan melakukan cara buruk untuk menutupi kebutuhan. "Dengan menjadi beking atau malah kriminal," kata Sulaiman. Susahnya, banyak di antara desertir itu yang membawa serta senjata mereka. "Itu yang membuat mereka cepat atau lambat memilih jalan kejahatan," kata kriminolog Adrianus Meliala. Dan di jalan itu tentu saja sudah tak ada lagi canda.

Darmawan Sepriyossa, Budi Riza


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data