|
Di tengah goyangan yang ingin melengserkan dirinya, akankah Megawati bertahan hingga tahun 2004? (24 - 31 Januari 2003) | | Ya |  | | 62.5% | 587 | | Tidak |  | | 34.1% | 320 | | Tidak tahu |  | | 3,4% | 32 | | Total | 100% | 939 |
Sang Presiden murka. Megawati betul-betul geram dengan reaksi pendemo. Meski pemerintah sudah merevisi kebijakan soal kenaikan harga, aksi-aksi jalanan masih terus terjadi. Bahkan tuntutan para pendemo kian berani saja, yang berseru ?turunkan Mega-Hamzah!? Belum cukup, para pendemo melengkapi tuntutannya dengan aksi menginjak-injak dan membakar foto Mega dan Hamzah.
Goyangan terhadap Mega semakin komplet dengan munculnya sinyalemen Badan Intelijen Negara, yang menyebut empat tokoh nasional, yakni Wiranto, Eros Djarot, Fuad Bawazier, dan Adi Sasono, berada di balik aksi-aksi tersebut. Belakangan, sinyalemen itu dibantah ramai-ramai oleh keempat tokoh, juga oleh kalangan mahasiswa. Toh, aksi-aksi menggoyang Mega belum juga surut. Sejumlah politikus dan aktivis gerakan mendeklarasikan Koalisi Nasional segala.
Akankah goyangan-goyangan itu berhasil menjatuhkan Mega? Belum tentu! Maklum, sejumlah petinggi partai?yang notabene punya massa?seperti PDI Perjuangan, PAN, dan Golkar, tak setuju jika Mega dilengserkan. Alasannya, pergantian yang cepat tak menjamin penggantinya lebih solid. ?Kita harus bersabar!? ujar Ketua Partai Golkar, Slamet Effendy Yusuf.
Jadi, sudah sepantasnya Mega tak risau dengan posisinya sekarang. Ia aman. Para responden jajak pendapat pun yakin, dan menyampaikan pendapatnya melalui www.tempointeraktif.com. Mayoritas dari mereka, yakni 62,5 persen dari total 939 orang, percaya bahwa di tengah goyangan yang ingin melengserkan dirinya, Megawati akan bertahan hingga tahun 2004. Sedangkan responden lain, sebesar 34,1 persen, yakin akan terjadi sebaliknya.
Jajak Pendapat Pekan Depan: Telunjuk polisi kembali mengarah ke Abu Bakar Ba?asyir. Kali ini tudingan korps baju cokelat itu tak main-main: Ba?asyir selaku pemimpin tertinggi Jamaah Islamiyah terlibat kasus pengeboman di Bali. Dalam rapat kerja dengan Komisi Pertahanan dan Keamanan DPR, pekan lalu, Kepala Kepolisian RI, Jenderal Da?i Bachtiar, menyebut bahwa Ba?asyir merestui peledakan bom di Paddy?s Café dan Sari Club, Kuta, Bali, pada 12 Oktober 2002 lalu. Cuma, karena keterangan itu masih sepihak dari sejumlah tersangka lain yang dikurung polisi, ?Kami masih perlu melakukan cross check dengan Ba?asyir sendiri,? ujar Da?i.
Tentu saja Ba?asyir meradang dituding seperti itu. Ia menantang polisi untuk mengkonfrontasi dirinya dengan Ali Imron dan Amrozi, dua tersangka kasus bom Bali yang mengaku mendapat restu Ba?asyir dalam pertemuan di Solo, Jawa Tengah. Tantangan itu dilayangkan, ?Karena Ustad Ba?asyir mengaku tak pernah melakukan serangkaian pertemuan, baik sebelum maupun setelah pengeboman Bali,? kata Mohammad Assegaf, pengacara Ba?asyir.
Tantangan itu disambut dengan tangan terbuka oleh polisi. ?Itu cara yang paling bagus! Menurut undang-undang, itu bisa dibenarkan. Jadi, penyidik dapat melakukan itu,? ujar Da?i, usai salat Jumat di masjid Mabes Polri. Sembari menunggu kapan konfrontasi itu terlaksana, sebuah pertanyaan layak diajukan, ?Percayakah Anda bahwa Abu Bakar Ba?asyir merestui kasus pengeboman di Bali, seperti disampaikan Kapolri Da?i Bachtiar?? Apa pun jawabannya, sampaikan lewat www.tempointeraktif.com.
|
|
| |
|
|
| buatan Radja|endro |
Majalah
Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

|
|
| |
|
|
|
|