Geliat Relokasi ke Batam Investor asing ramai-ramai membuka pabrik di Batam. Mereka tertarik pada sewa gedung dan upah buruh yang rendah. |
Ada geliat yang menjanjikan di Pulau Batam. Puluhan investor asing pekan-pekan ini hijrah ke pulau itu dari Singapura. Mereka sibuk mendirikan bangunan pabrik dan melengkapi fasilitas. Di Tanjung Uncang, misalnya, sejumlah gedung tengah dibangun, kendati ada juga yang siap pakai.
Sejak awal Januari lalu, beberapa perusahaan asing mulai menggerakkan roda usahanya di Batam. Truk-truk yang masih kinclong terlihat keluar-masuk mengusung barang. Kawasan itu diberi nama Latrade Industrial Park dan penghuninya sebagian besar berasal dari Jepang. Selain di Tanjung Uncang, belasan kawasan industri lainnya di Batam juga diincar investor asing. Total pendatang baru mencapai sekitar 20 perusahaan dan kabarnya akan terus bertambah. Mereka umumnya bergerak dalam bidang elektronik dan furniture alias mebel.
Yang juga kebagian rezeki adalah Pulau Bintan, pulau terbesar di kawasan itu dan bertetangga dengan Pulau Batam. Dua pekan lalu, Menteri Perindustrian dan Perdagangan Rini Soewandi bersama Menteri Perdagangan dan Perindustrian Singapura, George Yeo, meresmikan beberapa perusahaan baru di Batam, di antaranya Nam Lee Pressed Metal Industrial dan Cheng Heng Paper Product. "Kekayaan alam di sini melimpah dan tenaga kerjanya banyak," kata George Yeo, menjelaskan alasan pendirian dua perusahaan itu.
Kini, ketika sejumlah investor asing angkat kaki dari negeri ini?karena situasi politik, perburuhan, dan kepastian hukum yang tak menentu?perkembangan di Batam itu jelas menggembirakan. Di samping mendirikan pabrik, investor dari negeri Lee Kuan Yew itu juga sibuk mencari puluhan ribu tenaga kerja baru. Nah, ini berita bagus untuk negeri yang jumlah penganggurnya mencapai 38 juta jiwa ini.
Perusahaan-perusahaan yang bermigrasi itu semula beroperasi di Singapura. Mereka hijrah ke Batam karena lahan di sana kian sempit, juga lantaran biaya operasionalnya melambung tinggi. Upah buruh di negeri kota itu jauh lebih mahal. Di Batam, sesuai dengan keputusan pemerintah, upah minimum regional (UMR) cuma dipatok pada angka Rp 625 ribu. Di Singapura, gaji buruh bisa tiga kali lipat jumlah itu.
Selain itu, harga pekerja menengah di Singapura juga selangit. Staf keuangan yang baru lulus dari perguruan tinggi harus digaji S$ 1.500 hingga S$ 2.000 per bulan?berarti sekitar Rp 7,5 juta hingga Rp 10 juta dengan kurs Rp 5.000. Dan itu belum termasuk tunjangan yang jumlahnya juga cukup besar.
Padahal, di Batam, pekerja dengan level yang sama cuma digaji Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta. Dengan tingkat upah di Batam, perusahaan asing itu bisa menghemat hingga 500 persen. Juga sewa gedung dan biaya listrik jelas lebih murah. Angka penghematan yang cukup besar ini tentu sangat besar daya tariknya bagi pengusaha asing.
Sejauh ini pemerintah Indonesia menyambut baik tanda-tanda pertambahan investasi di Batam itu. Agar para investor tak ragu-ragu, Badan Otorita Batam merangkul Organisasi Perdagangan Luar Negeri Jepang, JETRO, yang banyak "didengar" oleh para pengusaha Jepang. Kerja sama itu, kata Ketua Badan Otorita Batam, Ismeth Abdullah, bertujuan agar pengusaha Jepang tak ragu menanam uangnya di sana. Menteri Rini Soewandi juga bergerak aktif. "Dalam waktu dekat kami berangkat ke Jepang untuk membicarakan relokasi perusahaan-perusahaan itu," katanya menegaskan.
Walau begitu, para pendatang baru tersebut tetap mendesak pemerintah Indonesia agar serius memperhatikan masalah kepastian hukum seperti soal izin usaha, peraturan perburuhan, dan pungutan aneka jenis pajak. Bagi mereka, kepastian hukum menjadi taruhan untuk keberhasilan investasi di Indonesia, tak terkecuali Batam. "Law enforcement is very important," kata Sawada Shugo dari Senior Advisor Japan International Cooperation Agencies.
Sejumlah pengusaha di Batam juga berkeluh-kesah soal harga kebutuhan pokok yang terus melonjak. Lonjakan harga itu otomatis mendorong buruh menuntut kenaikan upah. Yang juga rawan adalah faktor keamanan. Seperti kota-kota lainnya di Indonesia, Batam terlilit persoalan kriminalitas jalanan. Apalagi kawasan itu pernah pula dihantam bom.
Karena alasan keamanan itu pula, para petinggi perusahaan lebih suka menetap di Singapura ketimbang hijrah bersama pabriknya ke Batam. Akibatnya, kantor pusat juga tetap berlokasi di Singapura. Dari sanalah mereka akan mengendalikan roda pabriknya yang terletak di Batam. Menetap di Singapura, kata Sawada Shugo, juga memudahkan pengusaha mengawasi lalu-lintas peredaran barang. Maklum, sebagian besar pabrik itu menjual barangnya ke mancanegara.
Wenseslaus Manggut, Rumbadi Dalle (Batam)
|