Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 46/XXXI/13 - 19 Januari 2003
   
Ilmu dan Teknologi

Kereta Ekspres tanpa Roda

Inilah alternatif angkutan massal masa depan yang cepat, aman, dan ramah lingkungan.

WARGA Shanghai, Republik Rakyat Cina, mendapat suguhan langka menjelang malam pergantian tahun baru lalu. Dipayungi temaram senja yang romantis, mereka menyaksikan demonstrasi perjalanan perdana kereta supercepat maglev buatan Transrapid Internasional Jerman. Di antara penumpang, terlihat Perdana Menteri Cina Zhu Rongji dan Kanselir Jerman Gerhard Schroeder duduk berdampingan.

Melesat seperti peluru, maglev ngebut membelah angin, hampir tanpa suara. Speedometer menunjukkan angka 430 kilometer per jam. Jarak antara Bandar Udara Internasional Pudong dan pusat kota Shanghai sejauh 30 kilometer, yang biasanya ditempuh dalam waktu sejam dengan mobil, cuma dicapai dalam tempo delapan menit.

Maglev memang masih kalah dari pesawat komersial Boeing-777, yang kecepatannya sekitar 789 kilometer per jam, tapi jelas lebih cepat dari mobil Ferrari Formula-1 milik Michael Schumacher, yang cuma mampu digeber 350 kilometer per jam. Dengan laju secepat itu, maglev mampu menempuh jarak Jakarta-Yogyakarta hanya dalam satu setengah jam dan Jakarta-Surabaya sekitar dua jam.

Maglev (magnetic levitation vehicle), yang sudah lama dikembangkan di Jerman dan Jepang, adalah kereta yang direncanakan sebagai alternatif angkutan massal masa depan. Cina akan menjadi negara pertama di dunia yang mengoperasikannya secara komersial pada awal 2004. Sekali naik, tarifnya US$ 6 atau sekitar Rp 50 ribu. Konsorsium Transrapid, yang terdiri atas dua perusahaan Jerman, Siemens dan ThyssenKrupp, digandeng untuk mewujudkan rencana tersebut. Proyeknya dimulai dua tahun lalu, menelan anggaran tak kurang dari US$ 1,2 miliar (sekitar Rp 11 triliun). Bila berhasil, proyek ini kemungkinan bakal diperluas dengan rute Shanghai-Hangzhou sejauh 200 kilometer dan Shanghai-Beijing sejauh 1.250 kilometer.

Pemerintah Cina berharap pada 2004 nanti maglev mampu mengangkut 10 juta penumpang dan meningkat menjadi 20 juta pada 2010. Semua penumpangnya dilayani oleh satu armada yang terdiri atas tiga wahana. Setiap kereta berkapasitas 574 penumpang.

Maglev pada dasarnya adalah kereta tanpa roda yang berjalan dengan cara melayang di atas rel. Kereta ini memanfaatkan prinsip dasar magnet untuk menggantikan roda: kutub yang sama akan tolak-menolak, sedangkan kutub yang berbeda akan tarik-menarik. Pada maglev, medan magnetik diciptakan dari aliran listrik?disebut elektromagnet.

Elektromagnet mirip obyek bermagnet lain, yakni mampu menarik benda-benda dari metal. Tapi daya tarik magnetik ini bersifat sementara dan bakal hilang bila aliran listrik dihentikan. Prinsip dasar inilah yang dipakai dalam pengembangan kereta maglev.

Ada tiga komponen utama yang menopang sistem maglev: tersedianya sumber listrik dalam jumlah besar, kumparan metal di sepanjang rel, dan magnet pengarah yang ditempelkan di bawah kereta.

Berbeda dari kereta konvensional, maglev tak punya mesin bakar agar dapat berjalan dan bertahan di atas rel. Mesin maglev melaju berkat adanya daya dorong magnet yang melekat di sepanjang jalur rel. Kereta ini juga tak mengkonsumsi batu bara atau solar seperti kebanyakan kereta api. Sebagai gantinya, maglev memanfaatkan medan magnet yang tercipta dari kumparan-kumparan yang mengandung listrik di dinding rel.

Kumparan magnet yang melekat di sepanjang rel?disebut guideway?akan menolak magnet yang terletak di bagian bawah kereta, membuat kereta terangkat setinggi 1-10 sentimeter di atas rel. Begitu kereta terangkat, kumparan dialiri listrik sehingga tercipta medan magnet yang mendorong dan menarik kereta sepanjang guideway. Listrik mengalir terus-menerus ke kumparan yang menempel di sepanjang rel dan mengubah-ubah polarisasi kumparan bermagnet. Perubahan polarisasi menyebabkan medan magnet di depan membuat kereta tertarik maju, sementara medan magnet di belakang menambah daya dorong.

Karena melayang?sebagai akibat adanya medan magnet di bagian bawah kereta?praktis kereta pun berjalan tanpa gesekan. Dan bentuknya yang aerodinamis membuat kereta sanggup ngebut lebih cepat ketimbang hampir semua kendaraan darat yang ada saat ini.

Kendati mampu melesat secepat kilat, maglev tergolong aman. Kereta ini tak mungkin anjlok dari relnya seperti yang biasa terjadi pada kereta konvensional. Maglev akan tetap "melekat" di rel karena efek magnetik. Yang perlu dijaga hanya jalur kereta agar tak dimasuki mereka yang tak berkepentingan.

Maglev juga hemat energi. Karena kereta ini memiliki bentuk yang sangat aerodinamis dan tak punya komponen yang bergesekan (non-contact technology), energi yang dikonsumsi pun cuma sepertiga dari kereta biasa. Berkat non-contact technology, maglev pun tak menimbulkan suara berisik meski berlari cepat menembus hambatan udara, membuatnya cocok untuk kondisi perkotaan yang padat.

Bermula dari riset tentang elektromagnet yang dilakukan Oleg V. Tozoni, ilmuwan Rusia yang berimigrasi ke Amerika, kini teknologi maglev dikembangkan terus oleh ahli kereta di Jerman dan Jepang. Kedua negara ini pula yang paling sukses menguji prototip masing-masing.

Kendati basis teknologinya sama, ada beberapa perbedaan antara maglev buatan Jerman dan buatan Jepang. Kereta Jerman dikembangkan dengan sistem suspensi elektromagnet (EMS)?disebut Transrapid. Pada sistem ini, bagian bawah kereta dirancang menutupi rel baja. Elektromagnet yang dilekatkan di bagian bawah diarahkan langsung ke rel, yang membuat kereta melayang setinggi 1 sentimeter di atas rel dan membuat kereta tetap mengambang kendati berhenti. Magnet lain yang berfungsi sebagai penuntun arah dipasangkan di tubuh kereta, membuatnya tetap stabil selama perjalanan. Ketika dites, maglev Jerman berhasil melaju dengan kecepatan 500 kilometer per jam.

Di Jepang, maglev dikembangkan dengan sistem suspensi elektrodinamis (EDS), yang berbasis pada daya tolak-menolak magnet. Perbedaan utamanya, versi Jepang menggunakan elektromagnet superkonduksi, ekstradingin. Jenis elektromagnet ini tetap mampu menyalurkan aliran listrik meskipun sumber daya utamanya sudah dimatikan. Pada sistem EMS, yang menggunakan elektromagnet standar, kumparan hanya dapat menyalurkan listrik bila ada pasokan dari power supply. Dengan mendinginkan kumparan pada suhu beku, sistem milik Jepang lebih unggul karena hemat energi.

Ada perbedaan lain. Kereta Jepang melayang setinggi hampir 10 sentimeter di atas rel. Karena itu, maglev Jepang mesti menggunakan roda karet sampai mencapai kecepatan 100 kilometer per jam. Insinyur Jepang mengatakan, fungsi roda adalah menopang kereta supaya tetap bisa meluncur bila listrik mendadak mati atau alirannya mengalami gangguan. Sedangkan maglev Jerman dilengkapi sumber daya (baterai) cadangan. Maglev siapa yang bakal lebih unggul dan lebih banyak dipesan?

Wicaksono


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data