Terseok Terbebani Mimpi Di bawah asuhan pelatih asing, tim nasional tampil amat buruk pada kejuaraan Piala Tiger. Salah siapa? |
DENGAN langkah lesu, Agum Gumelar meninggalkan tempat duduknya. Pertandingan memang belum selesai, masih ada babak kedua, tapi tim Indonesia telah ketinggalan 1-2 dari Kamboja. Di segala lini, tim asuhan Ivan Kolev ini tampak rapuh. Dengan gampangnya barisan pertahanan mereka diterobos oleh penyerang Kamboja, Hok Sochetra. Kiper Hendro Kartiko pun tak berdaya menghadapi dua kali tendangan yang tak terlalu keras tapi akurat dari striker gaek itu.
Sebagai Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), Agum pantas terpukul. Yang dihadapi Tim Merah Putih bukanlah lawan berat. Sebelumnya Kamboja telah dihajar Vietnam—kekuatannya setingkat dengan Indonesia—dengan skor telak 9-2.
Lebih mengecewakan lagi karena, dua hari sebelumnya, Hendro Kartiko dan kawan-kawan juga tak berdaya melawan Myanmar. Mereka seperti baru belajar bermain bola. Para pemain tampak bingung, sering kehilangan bola, dan aliran dari lini ke lini macet. Hasilnya, pemain Myanmar yang bersorak. Kedudukan berakhir imbang 0-0. Padahal PSSI sudah memasang target tinggi, menjuarai Piala Tiger kali ini.
Masih beruntung, setelah Agum meninggalkan stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, keajaiban datang. Pada pertandingan babak kedua melawan Kamboja, tim Indonesia bisa membalikkan keadaan dengan hasil akhir 4-2. Penyerang Bambang Pamungkas, yang sebelumnya mandul, keluar sebagai penyelamat dengan mencetak hat trick. Buat sementara, kekecewaan yang menggumpal di dada para pendukung tim Merah Putih terobati. Paling tidak, teriakan penonton "Kolev mundur, Kolev tidak becus...", yang bergema pada pertandingan pertama, tak terdengar lagi.
Hanya, jika penampilan tim Indonesia cuma sebatas itu, tidak banyak yang bisa diharapkan. Jangankan bermimpi menjadi juara, lolos dari Grup A pun akan berat karena mesti bersaing dengan Vietnam dan Myanmar. Kalaupun muncul keajaiban lagi dan bisa lolos dari grup ini, Indonesia juga mesti menghadapi tim yang jauh lebih berat dari Grup B. Di sana ada Thailand, Singapura, dan Malaysia, yang tidak bisa dianggap enteng.
Apa yang sebenarnya terjadi? Ivan Kolev, yang dikontrak selama setahun oleh PSSI sejak Juli lalu, belum mau disalahkan. Pelatih 45 tahun asal Bulgaria ini menuding faktor ketegangan yang jadi biangnya. "Tuntutan untuk menjadi juara membuat mereka khawatir dan terlalu berhati-hati sehingga sering membuat kesalahan-kesalahan," katanya.
Ketegangan itu membuat hasil sentuhan Kolev selama lima bulan sama sekali tak kelihatan. Padahal dia sudah menggembleng para pemain dengan serius. Sang pelatih juga menerapkan disiplin yang amat ketat. Para pemain dilarang merokok dan mengkonsumsi obat-obatan di luar obat yang diberikan dokter tim nasional. Setiap hari mereka digembleng tiga kali, pagi, siang, dan sore, masing-masing selama 1-2 jam. "Jadi, tak ada yang salah dari pola latihan," tutur Mundari Karya, asisten pelatih tim nasional.
Menu latihannya pun amat bervariasi. Bukan cuma latihan fisik, tapi juga cara bermain dan kerja sama tim, baik dalam menyerang maupun bertahan. Dalam sehari para pemain terkadang hanya dilatih untuk menyerang. Esoknya, sehari penuh mereka baru disodori menu strategi bertahan. "Cara seperti itu biasa pula dilakukan oleh pelatih lain," ujar Ilham Jayakusuma, pemain Persita Tangerang yang akhirnya dicoret dari tim nasional.
Dalam urusan memilih pemain, Kolev memang tegas. Bukan cuma Ilham—ia menjadi pemain terbaik pada Liga Indonesia musim lalu—yang disingkirkan. Nova Arinto (Persebaya), Warsidi (Persija), bahkan bintang sekaliber Kurniawan Dwi Yulianto pun dicoret. Diperkirakan, permainan mereka dinilai tak sesuai dengan pola yang diterapkan pelatih. "Kami memang tak akan pandang bulu. Walaupun pemain bintang, jika dinilai perlu dipulangkan, ya kami lakukan," kata Kolev.
Tapi sang pelatih sempat maju-mundur dalam menerapkan pola permainan. Semula dia memakai pola permainan 4-4-2, yang dianggap lebih bagus untuk pemain Indonesia. Padahal Hendro Kartiko dan kawan-kawan sudah terbiasa dengan pola 3-5-2, yang oleh Kolev dianggap sudah ketinggalan zaman. Di mata dia, pola ini akan membuat pemain kurang leluasa berkreasi di lapangan. Mereka terlalu terpaku pada posisinya masing-masing, tidak ada pertukaran tugas yang dinamis. Akhirnya pola baru 4-4-2 memang sempat dicoba.
Hasilnya? Amburadul. Dalam beberapa partai uji coba, anak-anak asuhan Kolev begitu gampang ditaklukkan oleh tim lokal. Melawan Persebaya, mereka dipaksa menyerah 0-1. Sedangkan ketika menghadapi Petrokimia, tim Merah Putih dipermalukan dengan skor 1-2.
Kekalahan yang memalukan ini membuat Kolev berubah pikiran, kembali ke pola 3-5-2. "Daripada para pemain tegang dan bingung, akhirnya saya mengalah," tuturnya. Dan pada pertandingan melawan Kamboja dan Myanmar, tim Indonesia sudah memakai pola yang biasa mereka mainkan itu.
Mungkin karena sempat diubah polanya, permainan tim Indonesia belum matang dan padu benar. Tidak terjalin kerja sama yang rapi di antara para pemain. Apalagi Uston Nawawi, yang selama ini menjadi play maker, harus absen karena cedera. Seolah-olah tim Indonesia bermain tanpa irama, dan aliran bola sering terputus.
Hanya, bekas pemain nasional Ronny Pattinasarani menilai dari sisi lain. Kendati sudah digenjot habis, dia melihat fisik para pemain masih kedodoran. Ini tak cuma mempengaruhi konsentrasi, tapi juga membuat penampilan mereka kurang lincah dan agresif. "Mereka tidak dapat mengejar bola karena kelelahan," ujarnya.
Satu lagi yang perlu dibenahi, soal mental pemain. Kolev sendiri mengakui belum begitu mengenal psikologi para pemainnya. Dia tak menduga anak asuhannya tampil amat tegang, jauh berbeda dari saat menghadapi pertandingan uji coba.
Masih ada waktu untuk memperbaikinya, memang. Tapi, bila upaya pembenahan gagal, sudah sepantasnya mimpi untuk menjuarai Piala Tiger dibuang jauh hari.
Rian Suryalibrata
|