Makin Berbahaya, Makin Mahal Para penggila mobil jip mengadu gagah dan tebal-tebalan kocek di jalur off-road. |
MOKO Karsono tidak tertarik adu kencang mobil di jalan aspal yang mulus. Hormon adrenalin dalam tubuhnya hanya menggejolak jika dia sukses membawa jip four-wheel drive memanjat bukit, mengatasi jalan berlumpur, dan mengarungi rawa-rawa.
Moko adalah salah satu peserta Java Challenge, kompetisi adu keterampilan bermobil di jalur luar aspal (off-road), yang diluncurkan pekan lalu.
Di lapangan parkir Hotel Indonesia, Jakarta, para penggila mobil jenis jip hutan seperti Moko memamerkan betapa liar tunggangan mereka sebelum kompetisi dimulai. Beberapa mobil jenis jip 4x4 (four-wheel drive) berjajar gagah, dengan ban radial ukuran ekstra yang mampu melintasi lumpur dan memanjat batuan cadas. Siapa pun segera tahu mobil-mobil itu tidak dimaksudkan meluncur di jalan hot-mix, yang kini kian panjang dan luas di Jakarta.
Para peserta melengkapi diri dengan kumparan baja lentur yang tergulung pada winch di moncong mobilmereka membutuhkannya untuk menderek mobil jika lumpur terlalu dalam. Mereka juga memasang snorkel, yang membantu mobil mampu menyelam di air sungai atau rawa, dan lampu atas antikabut. Tak lupa pula mereka mengusung berbagai peralatan bertualang di alam, seperti tenda, pacul, dan lampu senter, serta kebutuhan logistik. Dan mereka siap tempur.
Moko dan kawan-kawan mencoba menaklukkan rute berbentuk tapal kuda dari Subang di pedalaman Jawa Barat menuju Anyer, kota pelabuhan di Banten. Berjarak total 800 kilometer, sekitar 200 kilometer di antaranya merupakan jalur yang dikenal sebagai salah satu medan paling menantang di Jawa: banyak rintangan berlumpur, jalan berbukit-bukit, melintasi sungai, dan bertikungan tajam.
Menurut Hendrik Badu, ketua kompetisi Java Challenge, petualangan akhir tahun kali ini adalah yang terberat dibandingkan dengan medan lain yang pernah digelar sebelumnya. Kompetisi kian menantang karena panitia penyelenggara juga menerapkan peraturan World 4x4 Council, peraturan ketat berstandar internasional. Jika peserta lolos dari kompetisi ini, mereka bisa menyandang gelar off-roader sejati kelas dunia.
Melalui jalur itu, para peserta antara lain harus menaklukkan "ladang pembantaian" antara Malingping dan Benuangen di wilayah Banten Selatan. Mereka ditantang melintasi tiga sungaiMentiung, Ciluluk, dan Cipinangsebuah rawa, dan beberapa tanjakan maut. Ada tak kurang dari tujuh lintasan berbentuk V dengan bagian dasarnya menyimpan jebakan lumpur tebal. Kawat pengerek pada winch bisa dipastikan menjadi alat penyelamat yang sering digunakan di medan seperti itu.
Selain kemampuan pengemudi dan navigator harus prima, peralatan serba canggih dan mahal pun menjadi keniscayaan. Itulah sebabnya kegilaan pada petualangan bermobil di luar aspal ini menjadi hobi yang eksklusif karena mahalnya.
Mobil lama Toyota Hardtop yang biasa dipakai para petualang medan berat memang harganya hanya sekitar Rp 30 juta-Rp 50 juta. Tapi itu bukan lagi mode sekarang. Para petualang alam ini belakangan memilih jip model baru, yang sering langsung diimpor dari luar negeri, seperti Ford Ranger, Wrangler, Cherokee, dan Mercy G Class, yang harganya bisa mencapai Rp 500 juta.
Belum lagi memperhitungkan peralatan yang membuat mobil-mobil itu siap tempur di hutan. Menurut Hotje Prakarsa, yang serius terjun dalam kegilaan ini sejak 1997, biaya modifikasi mobil paling sedikit bisa menghabiskan Rp 50 juta.
Untuk mengganti mesin standar menjadi mesin yang siap di medan beringas, pemilik mobil bisa mengeluarkan uang antara Rp 100 juta dan Rp 200 juta. Harga sebuah ban khusus yang bisa mengarungi lumpur dan mendaki tebing bisa mencapai Rp 2 juta. Dan itu belum termasuk peredam (shock-breaker) serta per. Seseorang harus mengeluarkan sekitar Rp 15 juta untuk memperoleh winch.
Ini memang bukan sekadar adu ketangkasan, tapi juga adu tebal kocek. Untuk bisa ikut kompetisi internasional seperti Rain Forest Challenge di Malaysia, menembus hutan tropis Borneo, seorang peserta harus membayar ongkos pendaftaran US$ 2.000 atau sekitar Rp 18 juta. Sedangkan biaya akomodasi dan kebutuhan mobil, termasuk montir, bisa mencapai Rp 200 juta.
Bagi para petualang bermobil di alam ini, mempergagah mobil dan ikut di ajang ketangkasan yang esktrem seperti lingkaran setan saja. Mobil dipercanggih agar si pemilik bisa ikut ke ajang yang lebih bergengsi dan berbahaya. Dan sebaliknya, bila ingin berlaga di kompetisi ekstrem, dia harus mengeluarkan dana ekstra untuk membangun mobilnya.
Pemuja kegilaan ini umumnya tak hanya fasih berkisah tentang petualangan mereka di alam, tapi juga tentang "petualangan" mereka memodifikasi mobil. Lihat saja, di rubrik modifikasi media tentang mobil, pasti ada cerita bongkar-pasang mempergagah mobil, seperti menyulap Mercy G Class 1991 menjadi seperti G Class keluaran 2000.
Bila tombol kalkulator dipencet-pencet untuk menghitung biaya yang harus dikeluarkan, kesimpulannya satu: para petualang itu datang dari kalangan mapan. Tengok saja nama-nama senior seperti Hotje, Hendrik, Moko Karsono, Yuma Wiranatakusumah, dan Wijaya Kusuma. Mereka adalah pengusaha atau orang kaya lama dan ada juga pejabat serta anaknya.
Tapi, menurut mereka, mobil hutan yang mahal itu bukan semata-mata soal hasrat konsumtif. Sportivitas, keuletan, dan kesabaran merupakan nilai-nilai yang diutamakan. Demikian pula kerja sama serta solidaritas. "Jika kita sedang di hutan atau mobil sedang terbenam lumpur, kaya-miskin tidak ada bedanya," kata Moko, yang mengaku sampai tidak memperhatikan keluarga selama setahun lalu karena terlalu sibuk bertualang dengan mobilnya.
Menurut Hendrik, masih ada aspek positif lain dari kompetisi ini: para peserta dituntut mencintai alam. "Mereka tidak boleh membuka hutan sembarangan atau merusak alam," katanya. Dalam peraturan World Council, semua hal itu diatur lengkap dengan sanksinya.
Off-roader biasanya memang pengendara mobil 4x4 tinggi sekaligus pencinta alam, sehingga tak mengherankan bila mereka tahan untuk tidur bermalam-malam di kolong mobil. Ada dari mereka yang sampai menelantarkan bisnis karena terlalu sibuk mengurus dan bertualang bersama four-wheel kesayangan. Sampai-sampai timbul istilah di kalangan off-roader bahwa mobildan sensasi petualangannyaibarat istri kedua, yang lebih banyak digauli ketimbang istri pertama dan keluarga.
Bagaimanapun, belakangan, tidak bisa lagi dipisahkan antara petualangan dan pameran kegagahan bermobil. Di kalangan anak muda, ada pula tren menambah aksesori mobil alat hutan itu untuk dikendarai di jalan mulus perkotaan.
Nuris Sarni, misalnya, adalah salah satu pemilik bengkel yang merintis modifikasi mobil biasa menjadi bercorak off-roadantara lain dengan ban radialnya yang tinggi. Sasaran eksperimennya adalah Toyota Kijang, sebuah mobil two-wheel drive yang dia ubah menjadi four-wheel. "Banyak trial and error sebelum akhirnya berhasil," katanya.
Dari Nuris berkembanglah komunitas baru off-road yang menggunakan mobil 2WD (two-wheel drive). Mereka rata-rata tumbuh dari orang yang menjadi pelanggan bengkel Nuris dan mereka kemudian menjadi teman. Dan di kalangan off-roader jalan tengah ini juga muncul kompetisi, baik jenis petualangan maupun kecepatan, meski tidak seserius off-roader sejati.
Mobil seperti itu kian banyak penggemarnya meski hanya berkeliaran di kota. Banyak aksesori khusus mobil hutan tulen memang dipasang, tapi hanya sekadar sebagai simbol kegagahan. Pengerek yang dipasang di bumper bull bar hanya tempelan. Snorkel juga bisa jadi hanya untuk pasang aksijika mobil masuk ke sungai, pasti mogok. "Untuk pasang snorkel beneran sangat sulit dan mahal karena harus melubangi dan membongkar mesin," kata Nuris.
Tapi, bagaimanapun, banyak anak muda memang ingin bergaya. Kebutuhan tampil beda itu tampaknya juga dipahami Nuris, sehingga dia biasanya akan maklum saja jika diminta memodifikasi mobil anak muda yang bermodal cekak. Di dunia off-road, kesempatan untuk memilih memang benar-benar terbuka: memilih tulen "makin ekstrem makin mahal" atau memilih asal gaya "biar tekor asal kesohor."
Bina Bektiati, Priandono
|