Resah Tertimpa Kecurigaan Aksi penggeledahan aparat intelijen masih menghantui kaum muslim Indonesia di Australia. |
SEGUMPAL keresahan masih mengganjal di hati Abdillah Husen. Selama 13 tahun tinggal di Australia, baru kali ini kenyamanannya terusik. Lelaki asal Jawa ini tak leluasa lagi pergi ke masjid untuk beribadah atau menghadiri pengajian. Bulan Ramadan pun dilaluinya dengan waswas. "Kami memang masih dicekam rasa takut dan cemas," kata Abdillah.
Rasa amannya terkoyak sejak sebulan silam. Suatu pagi, tiba-tiba meletup teror di rumahnya di Jalan Murray, Preston, Melbourne. Ketika hendak membuang hajat, pintu kamar mandinya diketuk keras-keras oleh istrinya. Begitu keluar, sebanyak 10 polisi bersenjata pistol telah menanti. Mata mereka amat tajam mengamati dirinya. Lalu, seorang di antaranya menanyakan apakah Abdillah menjadi anggota Jamaah Islamiyah. Di balik rasa takutnya, pegawai sebuah pabrik onderdil mobil ini tak bisa menyembunyikan keheranannya. "Saya tahu ada Jamaah Islamiyah itu dari berita di televisi dan koran-koran," jawabnya.
Ayah dua anak itu hanya bisa pasrah ketika petugas mengaduk-aduk isi rumahnya. Semua perkakas miliknya dipelototi. Barang-barang di dalam lemari pun mereka endus. Bahkan mereka sampai membongkar atap rumah. Akhirnya aparat intelijen dan polisi itu menyita komputer, buku agama terbitan Indonesia, dan telepon genggam milik Abdillah. "Kartu telepon yang saya jual pun ikut mereka sita," tuturnya. Dua pekan berselang semua barang itu dikembalikan utuh, tapi ketidaknyamanannya gara-gara "teror" itu belum hilang.
Abdillah bukanlah satu-satunya korban. Sejak akhir Oktober lalu sekitar 11 rumah warga muslim asal Indonesia telah digeledah oleh aparat ASIO (Australia Security and Intelligence Organisation). Penggerebekan petugas intelijen yang dilakukan bersama Polisi Federal ini merupakan bagian dari upaya pemerintah Australia untuk mencari biang peledakan bom di Bali, 12 Oktober silam. Pemerintahan John Howard amat berang karena 30 warganya tewas dalam tragedi itu.
Sasaran aparat intelijen dan polisi Australia cukup jelas. Dengan berbekal surat kewenangan dari kejaksaan, mereka mengincar orang-orang Indonesia yang diduga punya kaitan dengan Abu Bakar Ba'asyir. Selain menggerebek dan menyita, mereka juga berwenang menyadap pembicaraan lewat telepon. Kendati Direktur Jenderal ASIO, Dennis Richardson, menyangkal, faktanya semua pemilik rumah yang digeledah pernah menghadiri ceramah Ba'asyir. Pengasuh Pondok Pesantren Al-Mukmin, Solo, yang dianggap sebagai pemimpin spiritual Jamaah Islamiyah ini memang pernah berkunjung ke Australia sekitar tahun 1996.
Jangan heran jika para mahasiswa muslim, terutama asal Indonesia, di Negeri Kanguru sekarang amat waspada. Apalagi jika mereka cukup aktif mengikuti pengajian di komunitas muslim. Sekarang mereka rajin membuat back-up dokumen penting mereka di komputer, terutama bahan untuk skripsi. Mereka khawatir sewaktu-waktu aparat menyita komputer mereka. "Ya, berjaga-jaga, kali saja ketiban sial," kata Ronoor Noer, mahasiswa Melbourne University.
Saat menggelar acara keagamaan, kaum muslim asal Indonesia pun lebih berhati-hati. Kendati tidak ada kewajiban melapor, agar aman kini mereka mengirim surat pemberitahuan ke polisi. Kata Ridwan Thalib, seorang mahasiswa Monash University, langkah ini buat menghindari kesalahpahaman pihak keamanan. Dengan cara itu, mereka juga mendapat perlindungan dari gangguan tangan jahil kelompok yang tidak menyukai mereka.
Gangguan fisik memang belum ada, tapi teror sudah bermunculan. Konsul Jenderal Indonesia di Melbourne, Boedidojo, adalah salah satu korbannya. Dia menerima ancaman pembunuhan melalui e-mail dari seorang warga Australia. Karena cemas, akhirnya dia melapor ke polisi. "Alhamdulillah, menurut polisi pengirim surat itu sudah ditangkap," ujar Boedidojo.
Itulah dilema sebagai kaum minoritas. Kaum muslim boleh benci terhadap perlakuan aparat, tapi mereka juga memerlukan perlindungannya. Saat ini di Australia terdapat sekitar 50 ribu warga Indonesia. Sebanyak 18 ribu di antaranya berada di Melbourne. Hampir separuhnya adalah warga muslim. Dari 19 juta penduduk Australia, hanya sekitar 300 ribu yang muslim. Jumlah pemeluk Islam menempati urutan ketiga setelah Katolik dan Protestan.
Kaum muslim Indonesia di Melbourne biasa berkumpul di Masjid Al-Munawar. Masjid ini dibangun oleh mereka sendiri. "Dari mulai pengadaan dana dan tanahnya sampai mengecat gedungnya dilakukan secara gotong-royong," ujar Mohamad Salman, salah satu pengurus masjid yang juga Sekretaris Komunitas Muslim Indonesia di Victoria. Nama masjid ini diberikan oleh Menteri Agama Said Agil Husin Al Munawar ketika berkunjung ke masjid tersebut, Juni silam. Saat itu ia berjanji akan memberi dana, tapi hingga kini belum diwujudkan.
Di tengah ancaman penggerebekan, sejauh ini aktivitas keagamaan masyarakat muslim Indonesia masih berjalan. Mereka masih mengadakan pengajian mingguan ataupun bulanan di masjid dan kampus. Tema ceramah yang mereka dengarkan biasa saja, sebatas bagaimana cara menjadi seorang muslim yang baik.
Selama ini pun kegiatan kaum muslim Indonesia di sana tak ada yang luar biasa. Penampilan mereka pun biasa saja. Tiada sorban melilit di kepala dan jenggot lebat di dagu. Pun orang-orang yang pernah digerebek aparat intelijen. Penampilan mereka juga tak aneh-aneh.
Walaupun mereka masih bisa beribadah dengan lancar, rasa cemas sulit dihilangkan. Saat diwawancarai, mereka umumnya selalu mewanti-wanti agar nama aslinya tak disebut. Pun Rudy, bukan nama sebenarnya, yang rumahnya pernah digerebek sebulan silam. Di mukanya yang bersih masih terbayang rasa ketakutan. Lelaki asal Bangil, Jawa Timur, ini sudah lebih dari 20 tahun tinggal di Australia dan sudah menjadi penduduk tetap. Biasanya Rudy tak pernah takut berbicara kepada pers, tapi kali ini dia meminta agar nama aslinya tak disebut.
Dia seorang muslim yang moderat. Tidak ada ciri-ciri yang menunjukkan Rudy penganut Islam garis keras. Jangankan poster Usamah bin Ladin, di rumahnya di Preston, Melbourne, pun tak ada gambar atau aksesori yang menunjukkan penghuninya seorang muslim. Pakaian dan gayanya sudah mirip bule, kecuali kulitnya. Karena itulah dia heran ketika polisi menggerebek rumahnya akhir Oktober silam.
Dulu Rudy pernah kawin dengan wanita bule non-muslim. Dari wanita itu ia memperoleh seorang anak laki-laki berkulit putih. Setelah cerai, dia kawin lagi dengan wanita Indonesia dan dikaruniai empat anak. Sehari-hari dia bekerja di sebuah perusahaan swasta dan mengurus anak-anaknya. Kendati demikian, di sela-sela aktivitas rutin ia masih menyempatkan diri mengikuti pengajian. Ketika Abu Bakar Ba'asyir berkunjung ke Melbourne beberapa tahun silam, dia pun menghadiri ceramahnya. "Saya senang saja sambil menambah wawasan keagamaan," ujarnya.
Kegiatan yang digelar komunitas muslim Indonesia memang jauh dari urusan politik, apalagi berkaitan dengan jaringan Al-Qaidah. Kaum muslim senang menghadiri ceramah atau pengajian karena banyak manfaatnya. Selain berpahala, mereka juga bisa berkumpul dengan kawan-kawannya satu agama dan bahasa.
Bukan cuma Abu Bakar Ba'asyir. Dai lain seperti K.H. Mawardi Labai, K.H. Michtah Farid, dan K.H. Abdullah Gymnastiar alias Aa Gym pun pernah mereka undang. Isi ceramah mereka, menurut Abdillah Husen, melulu berkisar soal keimanan. Kalaupun menyinggung politik, itu pun tentang kondisi di Indonesia. Makanya, dia sangat terkejut ketika dirinya dicurigai sebagai anggota Jamaah Islamiyah gara-gara menghadiri ceramah semacam itu.
Tidak salah jika Arief Budiman, pengamat politik yang kini bermukim di Australia, menyebut pemerintahan Howard paranoid. Aparat intelijen dan polisi di sana seenaknya saja menggeledah warga muslim kendati tidak ada alasan yang kuat. Yang ada cuma kecurigaan. Siapa pun yang pernah pergi ke pengajian bisa digerebek.
Kalau cara semacam itu dilestarikan, lama-lama sang Konsul Jenderal, Boedidojo, pun bisa digeledah. "Kalau sepuluh tahun mendatang, misalnya, Aa Gym jadi target polisi Australia, ya saya bisa kena juga karena pernah mengikuti ceramahnya," ujarnya sambil tertawa.
Johan Budi S.P. (Melbourne)
|