|
BISNIS pencetakan uang rupanya bisa bikin mata jadi berkilau. Tak aneh bila bank sentral pun ingin mengakuisisi Perusahaan Umum Percetakan Uang RI (Perum Peruri). Dengan alasan bahwa Bank Indonesia bisa meningkatkan efisiensi dan kualitas pengadaan uang, institusi itu sudah menyiapkan diri dengan konsep pengadaan uang yang efisien, dari perencanaan, pengadaan bahan kertas uang, pencetakan, sampai distribusi.
Direktur Utama Peruri Kusnan Martono menawarkan solusi untuk memecahkan masalah tersebut. Caranya dengan mengubah status Peruri dari perum menjadi perseroan terbatas. "Kalau status perseroan disetujui, Bank Indonesia bisa menjadi salah satu pemegang sahamnya. Ini menguntungkan kerja sama Bank Indonesia dan kami," katanya seusai rapat dengan DPR, Rabu pekan lalu. Kusnan juga mengingatkan BI agar berfokus pada pekerjaan intinya.
Anggota Komisi Keuangan DPR, M.S. Ka'ban, menilai keinginan Bank Indonesia mengakuisisi Peruri tidak lepas dari kepentingan bisnis bank sentral. Usul itu, katanya, penuh konflik kepentingan. Ada indikasi oknum-oknum BI ingin membangun kerja sama dengan perusahaan swasta atau melakukan kolusi pemasokan uang.
Belum ada keputusan soal ini. Dari Kantor Menteri Negara BUMN terdengar kabar bahwa Laksamana Sukardi hanya setuju bila BI punya saham 6 persen di Peruri, bukan mayoritas. Soal apakah statusnya akan diubah? Ini baru akan dibahas Komisi Keuangan DPR dengan Menteri Keuangan, Menteri Negara BUMN, dan BI, Senin ini.
|