|
TEROR mengguncang Jakarta. Tiga peristiwa meletus di tiga lokasi dalam waktu yang hampir beruntun. Roket ditembakkan ke kantor kedutaan besar Amerika Serikat dan Jepang. Bom waktu meledak pula di halaman parkir kedutaan Kanada.
Sembilan jam setelah peristiwa ini, sebuah kelompok yang mengaku bernama Brigade Internasional Anti-Imperialis menelepon media dan mengaku sebagai pelakunya.
Aksi 13 Mei 1986 itu berkaitan dengan hasil Konferensi Tingkat Tinggi Tokyo yang diselenggarakan tujuh negara industri terkemuka sepekan sebelumnya. Dalam deklarasinya, konferensi itu mengecam terorisme internasional dan dengan tegas menyebut Libya sebagai satu-satunya negara peneror. Mereka juga bersepakat menghentikan penjualan senjata ke Libya dan menciutkan ruang gerak diplomatnya. Konferensi itu pun tak luput dari hujan teror. Lima buah roket terbang melintas di atas atap Istana Akasaka, Tokyo, tempat tamu negara menginap. Untung tidak ada korban.
Siapa tersangka teror di Jakarta? Aparat militer di Indonesia berhasil mengidentifikasi seorang tersangka bernama Shunsuke Kikuchi, 30 tahun, yang diduga warga negara Jepang. Cuma, ketika ditanya TEMPO, Shunsuke membantah tudingan itu. Dia mengaku berada di rumahnya di Yokohama, Jepang, pada saat kejadian.
Pada 12 Oktober lalu, teror menghantam lagi Indonesia. Sebuah bom meluluh-lantakkan Sari Club dan beberapa bangunan di sekitarnya di Jalan Legian, Kuta, Bali. Kali ini orang-orang dalam jaringan Jamaah Islamiyah yang diduga sebagai pelakunya.
|