Sebuah Pertanyaan tentang Pahlawan K-19, The Widowmaker, film yang menggentarkan tentang orang yang berani memilih tidak berperang. |
K-19, THE WIDOWMAKER
Sutradara : Kathryn Bigelow
Pemain : Harrison Ford, Liam Neeson, Peter Sarsgaard
Produksi : Paramount Pictures
Laut Antartika, awal Juli 1961. Sebuah pertanyaan menggedor kedalaman samudra berlapis salju tebal ini. Makhluk apakah pahlawan itu? Akankah ia seorang yang tak gentar berjibaku di medan perang? Atau, mungkin dia komandan yang memilih menyelamatkan nyawa prajuritnya?
Sutradara Kathryn Bigelow menampilkan pergulatan tersebut dalam film berdurasi 2,5 jam bertajuk K-19, The Widowmaker. Sebuah film yang menggentarkan tentang orang yang berani tidak berperang; keberanian yang membuat dunia terhindar dari bencana nuklir. Film ini diangkat berdasar kisah nyata. Kala itu dunia sangat tegang dibekap propaganda Perang Dingin. Dua raksasa, AS dan Uni Soviet, sibuk mengejar senjata yang paling mematikan. Di tengah perlombaan inilah Soviet mencuri start dengan meluncurkan kapal selam bermisil nuklir yang pertama kali di dunia.
Namun, sesungguhnya kapal bernomor seri 901 itu belum layak berlayar. Kapten Nikolai Polenin (Liam Neeson) menilai K-19 masih memiliki segudang kekurangan, terutama sistem keamanan reaktor nuklir yang belum beres. Polenin tak mau membahayakan hidup anak buahnya untuk uji coba kapal yang dijuluki "The Widowmaker" itu, kapal yang "melahirkan" para janda.
Persoalannya, Perang Dingin sedang mendidih. Presiden Uni Soviet Nikita Kruschev ngotot mengungguli Amerika dengan kapal selam nuklir. Polenin harus dicopot dan digantikan oleh seorang kader Politbiro yang sedang bersinar, Alexei Vostrikov (Harrison Ford).
Ketegangan pun perlahan memuncak dalam perjalanan kapal bernakhoda dua ini. Vostrikov bergaya angkuh dengan patriotisme militer yang kaku, sedangkan Polenin tampil dengan sikap simpatik dan luwes.
Tak dinyana, di tengah pergulatan dualisme nakhoda, muncul problem yang jauh lebih serius. Katup pengaman reaktor misil nuklir bocor. Suhu reaktor diperkirakan segera melambung melampaui 1.000 derajat Celsius. Ledakan yang dahsyat pun menanti. "Bom Hiroshima tak ada apa-apanya," kata Vadim Radtchenko (Peter Sarsgaard), operator reaktor.
Misi penyelamatan yang mustahil segera digelar. Delapan prajurit bergantian masuk ke bilik reaktor dan mengelas katup yang bocor. Sungguh sebuah tindakan yang nekat dan konyol. Bayangkan saja, para prajurit hanya berbekal masker ala kadarnya untuk masuk ke jantung reaktor. Kontan, tak sampai 10 menit, tubuh mereka melepuh dan sekujur badan seperti direbus sampai ke sumsum tulang.
Krisis makin mencekam karena K-19 berlayar di dekat wilayah NATO. Andai reaktor meledak, otomatis pangkalan NATO turut ambruk berantakan. Perang Dunia III sudah di ambang pintu.
Vostrikov, syukurlah, memilih menyerah dengan menyudahi perjalanan K-19. Sebuah pilihan yang membuat petinggi Politbiro marah besar. Karir Vostrikov pun tamat, bahkan ia terancam hukuman kerja paksa di kamp Gulag.
Dengan jalinan konflik ruwet itu, harus diakui membuat film K-19 bukan kerja gampang.
Tahun 1989, saat komunis runtuh dan Soviet tercabik-cabik, Bigelow mengawali riset yang panjang. Ini tidak mudah karena sebagian besar kru kapal yang telah gering digerus efek radiasi menolak bekerja sama. Mereka merasa wajib mengunci mulut dan menjaga kewibawaan Soviet. Sikap penolakan ini memaksa Bigelow berkompromi. Semua nama kru kapal diganti nama samaran. Bigelow pun hanya menyebut film ini sebagai film yang inspired by (diilhami oleh), dan bukan based on true story (berdasar kisah nyata).
Namun, biarpun bukan 100 persen kisah nyata, K-19 layak jadi tontonan yang memperkaya batin. Bukan karena sajian efek visual yang dahsyat, tetapi lebih lantaran suara humanisme yang diusung Bigelow, yang pernah mendapat pujian melalui film horor puitik Near Dark.
Memang, sebagian masyarakat Rusia tetap berkeberatan dan menilai Bigelow kelewat ekstrem menonjolkan kecerobohan tentara Soviet. Tapi, secara keseluruhan, K-19 sukses meramu persaingan, patriotisme, kemanusiaan, dan rasa gentar akan kematian tanpa kesan hitam-putih. Alunan musik orkestra yang menyayat, gambar yang dominan hitam-putih, juga dialog para pemain bahasa Inggris dengan logat Rusia yang terdengar aneh turut menambah pekat kepedihan K-19. "Ini film yang subtil dan pintar," kata Andrew O 'Hehir, kritikus film Salon.com.
Pujian juga perlu dialamatkan kepada Liam Neeson dan jagoan Indiana Jones, Harrison Ford. Keduanya berhasil menyuguhkan dualisme nakhoda yang menghidupkan seluruh film. Mantan navigator K-19, Valentin Sabanov, bahkan mengira Ford betul-betul Kapten Vostrikov yang asli. Hanya, kata Sabanov, "Kapten kami tak setinggi dia."
Mardiyah Chamim
|