Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 33/XXXI/14 - 20 Oktober 2002
   
Ekonomi dan Bisnis

Naga Bulat dari Malang

Buah naga dibudidayakan di Batu, Malang. Sebuah peluang bisnis yang seksi.

WARNANYA merah dan bersisik. Cocok dengan namanya: naga. Naga yang satu ini bisa dijumpai di gerai supermarket di kota-kota besar di bagian buah. Harganya di beberapa toko di Jakarta bisa mencapai 100 ribu rupiah untuk tiap kilonya. Buah naga (Hylocereus undatus) memang tak murah harganya karena diimpor dari Vietnam.

Di Vietnam, juga di habitat aslinya di dataran Cina, buah ini amat dihormati. Ia kerap disajikan untuk persembahan karena dianggap memberi berkah. Daging buahnya yang berwarna putih bertabur biji kecil berwarna hitam membuatnya mirip delima atau selasih. Selain rasanya manis, buah yang punya banyak julukan di berbagai negara ini (thanh long, clever dragon, pitahaya, melano, rhino fruit) dianggap punya khasiat menyeimbangkan kadar gula darah, pencegah kolesterol tinggi, kencing manis, dan kanker usus.

Dengan khasiat dan harga yang menarik seperti itu, tak mengherankan bila thanh long dikembangkan besar-besaran di Vietnam. Ratusan hektare tanah disulap untuk kebun. Bisnis seperti ini sebenarnya bukan mustahil dikembangkan di Indonesia dan menjadi peluang yang menarik pada saat krisis seperti sekarang.

Ini sudah dibuktikan oleh Boedijono Wirjoatmodjo. Direktur Magister Manajemen Agrobisnis Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Surabaya yang berusia 75 tahun ini semula hanya iseng membawa pulang biji buah naga ketika ia mendapat sajian buah tersebut saat berkunjung ke Vietnam pada 1995. Biji itu disemai di dalam pot dan ditanam di halaman rumahnya. Tumbuhan ini tidak manja, tak perlu disiram tiap hari. Ternyata si naga cocok dengan tanah Surabaya, dan dua tahun kemudian memberi hasil yang memuaskan. Satu pohon bisa memberi sampai 50 buah. Buah ini begitu produktif hingga dalam satu tahun Boedijono bisa panen tiga kali, padahal di Vietnam dan Taiwan hanya dua kali. Oleh Boedijono, buah ini lalu diberi nama tang lung, singkatan dari batang temelung (melengkung).

Keberhasilan Boedijono ini memicu insting bisnisnya. Jadilah ia bersama Soelaiman Sastrohamidjojo, pengusaha yang pensiunan pegawai PT Perkebunan Negara X, dan Wani Hadi Utomo, dosen Universitas Tribuwana Tunggadewi, mengembangkan kebun buah naga untuk pertama kalinya di atas tanah seluas dua hektare di Pasuruan, Jawa Timur. Menurut Soelaiman, dengan investasi sekitar Rp 50 juta, kebun tersebut sudah memberi hasil lumayan. Panen perdana bulan November 2001, dan Juni lalu mereka sudah panen yang ketiga.

Setiap rumpun tanaman menghasilkan 50 hingga 80 buah dengan berat tiap buah antara 400 dan 800 gram. Dengan harga sekitar Rp 25 ribu tiap kilogramnya, satu rumpun tanaman menghasilkan Rp 2,5 juta. Boedijono memperkirakan dalam setahun ia bisa menjala keuntungan Rp 1 miliar dari kebunnya.

Ini jelas prospek yang menawan. Apalagi, kata Boedijono, pasar domestik begitu besar, sementara pemasoknya didominasi Vietnam dan Jepang. Permintaan buah naga, apalagi menjelang Imlek, selalu melonjak. Sampai-sampai, "Kami belum bisa memenuhi permintaan yang sekarang," ujar Soelaiman. Mereka hanya bisa memasok beberapa supermarket di Surabaya.

Rintisan Boedijono dan kawan-kawan ini diberi acungan jempol oleh pakar agrobisnis dan Direktur Pusat Studi Pembangunan Institut Pertanian Bogor (IPB), Bayu Krisnamurti. Cuma, ia berpesan, bila bisnis ini akan dikembangkan besar-besaran, hendaknya perhitungannya dilakukan dengan cermat. Buah naga, katanya, adalah produk eksotis yang tidak dikonsumsi setiap hari. Selain itu, permintaannya pun bersifat musiman dan lebih bercorak cultural fruit—buah yang lebih diminati oleh etnis tertentu.

Bisnis tersebut kini dilirik Pemerintah Kota Batu, Malang. Dengan investasi Rp 2 miliar berpatungan dengan investor Taiwan, William Khoe, mereka mengembangkan kebun tang lung seluas empat hektare di Desa Beji, Kecamatan Junrejo. Saat ini, setengah kebun sudah ditumbuhi tanaman kaktus pemanjat ini. Maret tahun depan diharapkan panen pertama sudah bisa dilakukan. Buah ini diproyeksikan menjadi primadona agrobisnis baru di Kota Batu, selain apel.

Agus Hidayat, Abdi Purmono (Malang), Kukuh S. Wibowo, Sunudyantoro (Surabaya)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data