Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 33/XXXI/14 - 20 Oktober 2002
   
Buku

Penindasan Tiada Henti

Aku Bangga Jadi Anak PKI
Pengarang : dr. Ribka Tjiptaning Proletariyati
Penerbit : Jakarta: Cipta Lestari, Oktober 2002

Membaca buku ini kita seperti sadar bahwa slogan "hidup adalah untuk berjuang" menjadi ucapan klise. Sebab, bagi dr. Tjiptaning, "berjuang adalah untuk hidup". Tanpa itu, sulit dibayangkan anak seorang tahanan politik PKI bisa tetap bertahan dari penindasan politik, kemiskinan ekonomi, dan berbagai stigma oleh penguasa Orde Baru terhadap anak cucu korban Gerakan 1 Oktober 1965.

Peristiwa Gestok 1965 masih menyisakan misteri politik yang akan terus jadi perdebatan. Namun tragedi kemanusiaan yang diciptakan bukanlah sebuah misteri tapi kehidupan nyata dari jutaan orang. Dari buku ini dapat kita lihat bagaimana sang penulis melalui masa kecil dengan perjuangan mencari uang, sekolah, hidup berpindah, dan diasingkan dari masyarakat dan kerabat.

Dari sekian juta korban yang terkait dengan Gestok 1965, buku ini boleh dikatakan buku pertama yang ditulis dari perspektif anak korban. Sebelum buku ini terbit, sebuah tulisan yang cukup bagus ditulis oleh seorang anak korban, Pipit Rochiyat, di jurnal Indonesia terbitan Universitas Cornell, Amerika Serikat, pada pertengahan tahun 1980-an, dengan judul "Am I PKI or non-PKI?".

Baik Pipit maupun dr. Tjiptaning sama-sama mempunyai sudut pandang dari anak para korban. Keduanya juga mempunyai kesamaan, yaitu aktif dalam gerakan oposisi terhadap rezim Soeharto. Pipit, yang tinggal di Berlin, melakukan perlawanan di negeri yang relatif demokratis. Jadi, risiko dan keberanian yang dibutuhkan mungkin tidak sebesar yang dialami oleh dr. Tjiptaning, yang ditahan berkali-kali, dituduh komunis, kliniknya ditutup, dijadikan buron, dan digagalkan dari daftar calon anggota legislatif PDIP.

Judul buku ini mungkin terdengar agak provokatif bagi para pembaca, tapi isinya lebih merupakan biografi singkat dari seseorang yang terus berjuang dalam hidupnya. Namun esensi paling dalam dari buku ini mirip pesan arif Nelson Mandela, bahwa dari sebuah tragedi kemanusiaan yang mahahebat akan lahir sebuah kualitas masyarakat yang lebih baik dan beradab. Semoga pesan ini betul bertuah.

Wilson, staf di Lembaga Pengembangan Inisiatif Strategis untuk Transformasi (LPIST)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data