Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 32/XXXI/07 - 13 Oktober 2002
   
Nasional

Tito Menjemput Maut

AIR mata Kolonel Riswardi Ridwan meluncur bebas. Kepala Peralatan Komando Daerah Militer Jaya ini tak menyangka bahwa telepon yang diterimanya pada subuh Senin pekan silam itu mengirimkan sebuah kabar duka. Kombes Polisi Kartiko, kepala satuan intel dari Medan, mengabarkan bahwa Tito Yudha Darma, anak keduanya, tewas karena tertembak.

Sejatinya, bagi seorang prajurit, kata "tertembak" merupakan risiko yang harus diterima. Di medan tempur, apa pun bisa terjadi. Namun kematian sang anak itu gara-gara pelor yang dilepaskan oleh prajurit Lintas Udara 100/Prajurit Setia. Bersama Bripka Mawin, Tito merupakan perwira polisi yang berasal dari keluarga tentara angkatan darat yang menjadi korban dalam bentrokan itu.

Kolonel Riswardi adalah lulusan Akademi Militer Nasional tahun 1975. Tapi ia membantah pernah menjadi Komandan Linud 100/PS. Satu hal yang pasti, ia marah atas kelakuan satuan tempur yang berada di lingkungan Kodam II/Bukit Barisan itu. "Saya kecewa pada mereka," kata Riswardi dengan nada tinggi. "Ada lima petunjuk dalam melaksanakan tugas itu, di antaranya disiplin dan loyalitas," katanya sambil menerawang, "Andai saja itu dilakukan…."

Kini Riswardi memang hanya bisa berandai-andai. Waktu tak mampu mengembalian putranya. Padahal banyak rencana yang akan mereka lakukan. Dalam pekan ini, rencananya Riswardi sekeluarga akan terbang ke Binjai untuk merayakan hari ulang tahun Tito yang ke-24, sekaligus selamatan diangkatnya Tito menjadi Wakil Komandan Kompi A Brimob.

Menjadi polisi memang telah menjadi pilihan pria kelahiran 6 Oktober 1978 itu sejak duduk di bangku SMU. Awalnya, Riswardi kurang srek. Namun hasil tes psikologi yang diikuti Tito menunjukkan bahwa ia lebih pas menjadi polisi. Selepas menamatkan pendidikan di Akademi Kepolisian, dua tahun silam, dia memilih karir di Brigade Mobil.

Karir Tito tidak bebas hambatan. Sejak polisi dipisahkan dari TNI, gesekan kedua angkatan bersenjata itu sering terjadi. Setiap kali mengalami konflik, Tito sering mencurahkan isi hatinya kepada sang ayah. Riswardi, yang paham betul seluk-beluk kehidupan tentara, hanya bisa mewanti-wantinya agar selalu hati-hati. Peraturan terkadang sulit dijalankan secara kaku, begitu antara lain nasihat Riswardi. "Apalagi di tingkat bawah. Kalau kita tak pandai-pandai, mungkin bisa salah langkah," kata Riswardi menirukan lagi nasihatnya.

Tito mungkin mengikuti nasihat bapaknya. Tapi ia juga polisi dengan rasa setia kawan yang tinggi. Pada saat markas Brigade Mobil diserbu, sebetulnya Tito tengah berada di Medan. Namun, ketika mendengar kabar tersebut, ia memutuskan untuk kembali ke markas. Dan itulah perjalanannya menjemput maut.

Di malam dingin itu Tito diberondong serentetan tembakan. Peluru berhamburan. Sebutir dari jumlah banyak itu menembus lehernya.

Irfan Budiman, Darmawan Sepriyossa, Bambang Soed (Medan)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data