Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 32/XXXI/07 - 13 Oktober 2002
   
Ekonomi dan Bisnis

Kontrak Exxon Tak Diperpanjang

PERTAMINA akhirnya memilih solusi win-win untuk menyelesaikan kontrak ladang minyak dan gas Cepu. Mereka menolak memperpanjang kontrak bantuan teknis (technical assistance contract/TAC) ExxonMobil Oil Indonesia di sana, yang akan berakhir pada tahun 2010. Sebelumnya, ExxonMobil minta agar kontrak itu diulur hingga 2030. Menurut Deputi Direktur Hulu Pertamina, Eteng A. Salam, secara komersial kontrak bantuan teknis tidak menguntungkan Pertamina dan pemerintah. Dengan kontrak tersebut, pemerintah hanya mendapat bagian 65 persen, sisanya dibagi dua antara ExxonMobil (25 persen) dan Pertamina (10 persen). "Tahun depan Pertamina akan berubah menjadi persero. Kita mesti menghitung untung ruginya memperpanjang atau tidak memperpanjang kontrak ExxonMobil," kata Eteng kepada pers Rabu pekan lalu.

Kendati demikian, Pertamina tak akan mengoperasikan ladang itu sendiri, ExxonMobil tak akan ditinggalkan begitu saja. Salah satu alasannya karena pertimbangan komersial. "Kalau tidak diberikan kepada Exxon, pengembangan lapangan akan tertunda hingga 2010," ujar Eteng, yang membantah ada tekanan dari pemerintah dalam keputusan tersebut. Menurut Eteng, Pertamina dan ExxonMobil akan mengkaji kemungkinan menempuh model kerja sama yang lain seperti dengan membentuk perusahaan patungan dengan kepemilikan 50:50. Namun keputusan Pertamina untuk tidak memperpanjang kontrak Exxon itu diakui Eteng belum disetujui dewan komisaris pemerintah untuk Pertamina.

Sebelumnya, dewan komisaris itu sempat menyetujui perpanjangan kontrak, tapi ditolak oleh Menteri Negara Perencanaan Pembangunan, Kwik Kian Gie. Menurut Kwik—dan disetujui oleh Ketua MPR Amien Rais—dengan cadangan minyak sampai 735 juta barel dan gas 5,9 triliun kaki kubik, akan jauh lebih menguntungkan jika Pertamina sendiri yang mengelolanya. Dalam hitungan Kwik, nilai minyak mentah di Cepu mencapai US$ 15 miliar.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data