Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 31/XXXI/30 September - 06 Oktober 2002
   
Teater

Saijah-Adinda dari Yogya

Penata tari S. Kardjono menghadirkan drama tari Max Havelaar di Jakarta. Sebuah pentas yang menarik, tapi kurang gereget.Penata tari S. Kardjono menghadirkan drama tari Max Havelaar di Jakarta. Sebuah pentas yang menarik, tapi kurang gereget.

Lihatlah Saijah dan Adinda. Pandangan mata mereka menyorotkan hati yang saling memuja. Seluruh daya hidup remaja Karesidenan Lebak, Banten, dalam lakon Max Havelaar ini terpusat pada niat hendak hidup berdua serba bahagia. Sebuah niat tulus yang, apa hendak dikata, berujung pada kematian tragis.

Sungguh, Saijah-Adinda bukan romansa picisan. Pekan lalu di Gedung Kesenian Jakarta, roman itu melintas batas, diangkat ke pentas drama tari melalui Gitawerta Saijah dan Adinda. Penata tari senior S. Kardjono sengaja mengangkat sebuah tema yang relevan dengan kondisi mutakhir.

Multatuli, nama samaran Asisten Residen Lebak Edward Douwes Dekker, pada tahun 1860 menulis Max Havelaar atau Lelang Kopi Maskapai Dagang Belanda dengan sindiran yang pahit. Bukan cuma penjajah Belanda yang tak punya malu menyiksa bumiputra. Para pemimpin pribumi, mulai dari raja, bupati, sampai demang atau lurah pun tak kalah lihai menindas bangsa sendiri.

Bagi Kardjono, koreografer tari Jawa gaya Yogyakarta, sejarah memang berulang. Negeri yang merdeka ini masih sesak dengan rakyat tertindas. "Persis seperti zaman penjajahan," katanya. Setahun lalu, ia memasang Miroto untuk memerankan Saijah di Yogyakarta. Kali ini ia mengajak 30 penari dan 20 penabuh gamelan. Tanpa Miroto, tapi dengan panggung yang diyakininya lebih mengena.

Memang, setting asli pedesaan Lebak tidak diusung ke atas panggung. Kardjono memilih tafsir ala Jawa. Tembang macapat beragam versi memadati panggung. Ada Asmaradana yang membawa hati kasmaran, Megatruh yang mengharukan, Durma yang gagah, sampai Maskumambang yang sedih menyayat.

Adegan dibuka dengan tembang Megatruh, yang dialunkan Tuan Max (Kardjono) dan Nyonya Tine Havelaar (Cornelia). Mereka berbincang tentang kesewenangan dan kesombongan penguasa Belanda. "Malu saya menjadi orang Belanda, yang cuma bikin susah orang," kata Lia "Tine", yang cukup fasih berlogat ala Nyonya Belanda.

Kisah berlanjut pada adegan Demang Parangkujang, yang sok kuasa. Penduduk diperas kering-kerontang. "Kebo siji-sijine, yo, dijaluk (kerbau satu-satunya pun diminta)," keluh ayah Saijah dalam tembang menyayat.

Penindasan Demang plus penjajahan Belanda terus berlanjut. Luka rakyat makin bernanah dan berdarah. Sementara itu, Saijah dan Adinda terpisah oleh berbagai peristiwa. Saijah tiga tahun merantau ke Batavia. Sampai suatu ketika, pemberontakan rakyat Lebak meledak dan menelan banyak korban, termasuk Adinda. Pemuda Saijah, yang pulang dari rantau, menemukan gadis impiannya terbunuh. Hatinya remuk dan dia langsung menyongsong peluru Kompeni. Romansa pun berakhir.

Memang, secara umum Kardjono cukup menarik menampilkan Saijah-Adinda. Gerakan tari berkiblat pada gaya alusan, yang biasa dipakai untuk lakon langendriyan di kalangan keraton, yang mengutamakan harmoni. Cukup sedap dipandang.

Sayang, Kardjono kurang luas bereksperimen mengeksplorasi gerakan tari. Semua gerakan seperti terpaku pada pakem konvensional dan menjauhi polah tingkah yang kelewat ekspresif. Tampak pula konsentrasi penari yang terpecah antara gerak dan alunan vokal tembang. Walhasil, Saijah-Adinda di tangan Kardjono menjadi romansa heroik yang kehilangan gereget dan hambar.

Hambarnya drama tari ini makin diperburuk oleh tata cahaya dan efek panggung yang miskin. Riuhnya perang, pemberontakan, bencana kebakaran yang dahsyat tidak tegas nyata di atas panggung. Sebuah hal yang patut disayangkan untuk seorang koreografer sekelas S. Kardjono.

Tapi, betapapun, langkah S. Kardjono mengangkat karya klasik Multatuli ini layak kita acungi jempol. Maklum, setelah film Saijah-Adinda dilarang beredar di tahun 1980-an, lakon ini amat jarang tampil ke publik.

Padahal, dahulu di tahun 1930-an, Max Havelaar sempat kuat mempengaruhi perjuangan rakyat Indonesia melawan penjajahan. Kala itu, sesuai dengan catatan Pramoedya Ananta Toer, Saijah-Adinda dipentaskan dalam bentuk tonil di berbagai sekolah dan lingkaran kepemudaan. Para tokoh kemerdekaan berkenalan dengan semangat anti-kolonialisme melalui Saijah-Adinda. Pejuang perempuan Kartini, misalnya, jelas terilhami oleh kegigihan Multatuli.

Kini, gairah menampilkan Saijah-Adinda sudah meredup. Hari-hari yang riuh dengan semangat perjuangan pun sudah berlalu. Tapi, berkat orang seperti Kardjono, anak muda zaman sekarang masih mendengar, bercerita, dan menggambar Multatuli, yang memang telah menelurkan karya yang melintasi zamannya.

Mardiyah Chamim


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data