Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 31/XXXI/30 September - 06 Oktober 2002
   
Olahraga

Adu Nyali di Jalur Curam

Indonesia mengharapkan emas dari sepeda gunung. Tuan rumah mulai berulah?

ADA saja cara tuan rumah untuk meraih kemenangan. Gelagatnya sudah terasa di cabang sepeda gunung. Sampai pekan lalu Korea Selatan masih menutup separuh lintasan menjelang finish di Gijang Country Club. Tanpa alasan yang jelas, mereka baru akan membuka seluruh lintasan sehari menjelang seeding run atau penentuan posisi start. Artinya, hanya dua hari sebelum pertandingan yang direncanakan Kamis pekan depan.

Bagi pembalap tuan rumah, tentu tak ada masalah. Mereka sudah hafal di luar kepala liku-liku di jalur tersebut. Tapi pembalap negara lain? Mereka tidak bisa mencoba seluruh lintasan sepanjang 2,2 kilometer di Gunung Ilgwang itu. Ini jadi persoalan besar. Memacu sepeda di jalan sempit dengan kemiringan 45-60 derajat tanpa mengenal lika-likunya terlebih dahulu sama saja dengan bermain roller coaster.

Karena itulah pembalap sepeda gunung dari Indonesia, Sugianto "Hoho" Setiawan, cuma bisa mengandalkan nasib baik. "Faktor keberuntungan yang akan berperan," ujarnya ketika ditemui TEMPO di Busan, Korea Selatan. Menurut Hoho, meski sebagian jalurnya ditutup, sepintas ia bisa melihat tingkat kesulitan trek itu. Kemiringannya hampir sama dengan tempat latihan mereka di Jayagiri, Bandung. Bedanya, di Gijang jalannya lebih sempit dan mulus.

Di mata peraih dua emas dan satu perak dalam tiga SEA Games terakhir ini, lintasan tersebut membutuhkan lebih banyak genjotan. Jadi, siapa yang nekat terus menggenjot, dia bakal menang. "Di sini benar-benar adu nyali," katanya.

Selain Hoho, Indonesia mengirimkan pembalap putri Risa Suseanty. Panitia memang membatasi agar tiap negara hanya mengirim dua pembalapnya. Hoho dan Risa merupakan pembalap yang melejit di tengah booming olahraga sepeda gunung sepuluh tahun terakhir. Di pentas Asian Games, Hoho dan Risa masing-masing mendapat target emas dan perunggu.

Peluangnya? Cukup besar, kendati persaingan di nomor down hill atau turun bukit ini amat ketat. Di nomor putra, Tasaki Sukamoto dari Jepang merupakan jawara di kejuaraan Asia tahun ini. Belum lagi perlawanan para pembalap tuan rumah, yang sudah mengetahui medannya. Hoho sendiri merupakan juara Asia dua tahun berturut-turut sebelum gelarnya disalip Tasaki.

Prestasi Risa pun lumayan. Meraih medali emas di ajang SEA Games yang lalu, ia dikenal sebagai gadis penurun bukit paling gesit di Asia Tenggara. Lalu, dalam tiga kejuaraan Asia terakhir, gadis 22 tahun ini selalu meraih perunggu. Di Asian Games kali ini, ia harus melawan Mio Suemasa dari Jepang, juara dunia sepeda gunung tahun lalu.

Hanya, bagi dia, lawan terberatnya justru lintasan di Gijang, yang belum bisa dicobanya. Selain rutenya super-sempit, di sisi kanan-kiri jalan banyak pohon yang berdempetan. "Meleng sedikit bisa nabrak pohon," ujar Risa.

Semula Indonesia berniat tak mengirim Hoho dan Risa ke Busan. Gara-garanya, prestasi mereka sempat jeblok pada kejuaraan Mountain Bike Asia di Khun Ming, Taiwan, dua bulan silam. Target tiga besar yang diberikan induk organisasinya meleset. Namun, keputusan berubah menjelang batas akhir pemilihan kontingen. Soalnya, "Saya masih yakin pembalap kita bisa mendapat medali, minimal perunggu," kata manajer balap sepeda, Sofyan Ruzian, saat itu.

Persiapan mereka memang sudah matang. Risa dan Hoho telah menjalani pemusatan latihan sejak awal tahun ini. Tiga bulan lalu mereka memperoleh sepeda baru seharga masing-masing Rp 60 juta. Untuk melawan hawa dingin di Korea, dua pembalap itu pun telah dibekali balsem khusus buatan Belanda. Menjelang pertandingan, mereka tinggal melakukan pemanasan setiap harinya. Rem dan ban sepeda juga sudah mereka tuned-up sesuai dengan kondisi lintasan yang kering dan licin. "Sekarang yang kita butuhkan hanya pengenalan medan," kata Sugeng Tri Hartono, pelatihnya.

Sugeng enggan menuduh penutupan lintasan itu sebagai bagian dari strategi tuan rumah. "Saya tidak mau berprasangka," katanya. Pada hari Minggu lalu, dalam pertemuan panitia balap sepeda, dia sudah meminta agar seluruh lintasan dibuka jauh hari sebelum pertandingan. "Kalau sampai dekat perlombaan tidak juga dibuka, kami akan mengajukan surat protes," tuturnya.

Sportivitas memang harus disangga. Ambisi tuan rumah untuk memperoleh sekeping medali dari cabang ini jangan sampai membahayakan pembalap negara lain. Tanpa mengetahui dulu liku-liku medan, mereka bisa meluncur tak terkendali ke kaki bukit.

Agung Rulianto dan Sapto Yunus (Busan)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data