Saatnya Menorehkan Bukti Cina masih akan mendominasi perolehan medali Asian Games. Kehadiran atlet kelas dunia bakal mengoreksi sejumlah rekor.
|
PERHELATAN Asian Games baru dimulai, tapi hasilnya gampang diprediksi. Keperkasaan Cina tidak akan tertandingi. Negara ini hampir dipastikan bakal menjadi juara umum. Negara-negara Asia lainnya seolah hanya boleh berebut tempat kedua di ajang bergengsi ini.
Kenapa? Sejak dua dasawarsa lalu, Cina sudah kekal di posisi puncak dengan mengoleksi lima kali gelar juara umum. Tiga langkah lagi Negeri Tirai Bambu akan menyaingi rekor delapan kali juara umum Asian Games yang digenggam Jepang. Motivasi ini yang membuat kontingen Cina bakal tampil menggebu. Apalagi negara ini memang punya segudang atlet kelas dunia.
Dalam Asian Games XIV di Busan, Korea Selatan, yang dimulai Minggu lalu, Cina mengerahkan 946 atletnya untuk bertanding di 38 cabang olahraga. Mereka akan bersaing memburu medali dengan sekitar 10 ribu atlet dari negara-negara lain. Asian Games kali ini memang terbesar sepanjang sejarah. Semua anggota Dewan Olimpiade Asia (OCA), yang berjumlah 43 negara, mengirim kontingennya. Negara yang beberapa kali absen, seperti Arab Saudi, Irak, dan Afganistan, tidak mau tertinggal. Bahkan Timor Timur yang baru merdeka pun mengirimkan atletnya.
Di ajang akbar itu, Cina yakin bisa membawa pulang sepertiga dari 402 medali emas yang tersedia. Target ini pun justru dianggap terlalu rendah oleh negara-negara lain. Soalnya Cina memiliki kekuatan berlebih. Lihat saja, dalam Olimpiade Sydney dua tahun lalu, mereka nangkring di posisi ketiga setelah Amerika Serikat dan Rusia, dengan 28 medali emas, 16 perak, dan 15 perunggu. Adapun pesaing terberat dari Asia, Korea Selatan dan Jepang, berada di posisi 12 dan 15 di ajang dunia itu.
Jangan heran jika dalam Asian Games rekor-rekor baru bakal diukir. Bahkan kemungkinan rekor teranyar Asia sudah tertoreh di arena renang pada pekan pertama. Perenang putri Qi Hui dari Cina akan mengejar rekor dunia 200 meter gaya dada yang dibuatnya dalam kejuaraan Grand Prix di Spanyol, Juni lalu. Gadis 17 tahun ini juga menjadi pemegang rekor dunia 200 meter gaya ganti perseorangan. Kalau saja Qi mampu menyamai rekornya di tingkat dunia, sudah dipastikan dia mencatat rekor teranyar buat Asian Games.
Perenang Cina lainnya, Luo Xuejuan, juga menempati peringkat tertinggi dunia untuk nomor 50 meter. Selain itu, masih ada Yang Yu dan Chen Hua, peringkat dua dunia untuk gaya bebas, masing-masing nomor 200 dan 800 meter. Tidak mengherankan jika para putri duyung Cina yang rata-rata berusia di bawah 20 tahun ini merajai pula dalam kelas estafet. Para perenang pria Cina pun tidak bisa disepelekan. Di sana ada Yu Rui, yang bertanding di gaya punggung. Saat bertanding di Grand Prix Spanyol lalu dia berada di peringkat dua dunia.
Bukan cuma dari kolam renang, Cina diperkirakan juga bakal menggasak medali emas cabang angkat besi. Dalam Olimpiade Sydney, lifter putri Cina mengangkut semua medali emas dalam kategori yang mereka ikuti. Mereka juga menyapu semua medali emas di Asian Games Bangkok empat tahun lalu, sekaligus memecahkan 13 rekor dunia.
Tapi satu-satunya lifter peraih emas yang dibawa Cina ke Busan kali ini hanyalah Ding Meiyuan di kelas 75 kilogram. Enam atlet lainnya merupakan darah segar yang baru keluar dari pusat pelatihan. Kendati begitu, Cina berani memasang target lima emas dari tujuh yang tersedia. "Sasaran kami sebenarnya Olimpiade 2004 di Athena," kata Li Shunzu, pelatih angkat besi Cina.
Berbeda dari lifter wanita, lifter putra Cina harus bekerja keras untuk melawan pesaing dari Iran dan Qatar. Karena itu, mereka hanya menargetkan separuh medali emas dari delapan yang diperebutkan. Indonesia sendiri mengirimkan lifter putra Erwin Abdullah, dan berharap bisa mencuri satu medali emas dari cabang ini.
Yang tak kalah serunya, pertarungan di cabang atletik pada pekan-pekan berikutnya. Tiga negara, Cina, Jepang, dan Korea Selatan, bakal bersaing ketat. Jepang mengandalkan pelontar martil putranya, Koji Murofushi. Kini dia menempati peringkat dua dunia. Dengan lemparan 83,33 meter, lawan terberat Koji adalah catatan rekor Asia atas namanya sendiri.
Sebaliknya pada lompat galah putri, Cina tak tertandingi. Negara ini menjagokan Gao Shuying, yang mampu melontarkan tubuhnya setinggi 4,43 meter. Dengan peringkat 15 dunia, belum satu pun wanita Asia yang sanggup melewatinya. Begitu pula di lompat jangkit. Atlet Cina Huang Qiuyan, yang kini menempati peringkat empat dunia, akan sulit ditaklukkan oleh lawan-lawannya.
Selain di cabang olahraga terukur itu, persaingan ketat atlet dunia juga bisa dinikmati di cabang lain seperti bulu tangkis. Di olahraga ini Cina akan bersaing ketat dengan Korea Selatan dan Indonesia.
Sepak bola? Kalau dilihat dari prestasi dalam Piala Dunia lalu, tampaknya persaingan habis-habisan akan terjadi antara Korea Selatan dan Jepang. Tuan rumah Korea Selatan, yang menduduki tempat ketiga dalam Piala Dunia lalu, sudah mengincar gelar juara. Jepang, Arab Saudi, Korea Utara, dan Iran berharap bisa bertemu tuan rumah di partai final.
Selain dari cabang bulu tangkis, Indonesia juga akan berusaha memburu medali emas dari cabang layar. Oka Sulaksana, peraih Asian Games lalu, masih akan menjadi tumpuan. Lelaki 31 tahun ini yakin bisa mengatasi para pesaingnya.
Asia juga dikenal sebagai ibu dari beberapa olahraga bela diri. Dengan kembali akurnya Korea Selatan dan Korea Utara, penampilan atlet judo putri Korea Utara, Kye Soon-hui, ditunggu para penonton. Gadis berusia 22 tahun ini menjadi legenda setelah mengalahkan judoka kebanggaan Jepang, Ryoko Tamura, di final kelas 48 kilogram dalam Olimpiade Atlanta enam tahun lalu. Juli tahun lalu, Kye kembali menunjukkan kekuatannya ketika merebut gelar juara di pentas kejuaraan judo dunia di Munich, Jerman.
Indonesia pun punya harapan di cabang tersebut. Judoka putri Indonesia, Endang Sri Lestari, akan mencoba bantingannya di kelas 57 kilogram. Gadis berusia 26 tahun ini meraih emas dalam International Goodwill Judo Games di Korea Selatan, dua tahun lalu.
Hanya, di cabang gulat, tampaknya Korea Selatan akan unjuk gigi. Pegulat mereka, Shim Kwon-ho, yang memegang dua medali emas Olimpiade, akan berusaha mengakhiri karirnya di Busan dengan manis. Dia biasa bertanding di kelas Greco-Roman 48 kilogram.
Selain atlet-atlet yang sudah berpengalaman di Asian Games, sejumlah atlet muda bakal menjadi pesaing utama. Sebut saja pemain squash putra, Ong Beng Hee dari Malaysia. Ong, yang kini berusia 22 tahun, telah menunjukkan bakatnya dengan membawa gelar juara dunia squash junior empat tahun lalu di Amerika Serikat. Kini dia menempati peringkat tujuh dunia.
Indonesia juga punya atlet muda Angelique Widjaja, yang akan memburu emas di lapangan tenis. Pemegang gelar juara grand slam tenis junior di Wimbledon dan Prancis Terbuka ini sekarang menempati peringkat 61 dunia. Kali ini Angie diuntungkan karena petenis putri peringkat 21 dunia dari Jepang, Ai Sugiyama, mundur.
Selain Ai Sugiyama, sejumlah atlet dunia juga batal hadir di Asian Games. Misalnya peringkat sepuluh dunia yang memegang rekor Asia untuk lari 100 meter putra dari Jepang, Koji Ito. Pun Wang Zhizhi, pemain bola basket putra Cina yang tergabung dengan klub Maverick di kompetisi basket Amerika Serikat (NBA), juga urung pergi ke Busan.
Tentunya sajian Asian Games kali ini tidak bakal hambar hanya karena absennya mereka. Sekitar 3,6 miliar penonton berharap bahwa para atlet mampu mengkoreksi rekor Asia maupun dunia. Semakin banyak rekor dunia yang rontok, semakin banggalah warga Asia. Karena, hanya itulah bukti bahwa perhelatan olahraga terakbar di Asia itu benar-benar bergengsi.
Agung Rulianto
|