Selamat Jalan, Oxana Miss Universe 2002 dipecat karena dinilai tak sanggup memenuhi tugas. Sebuah potret industri kecantikan yang dijajakan dengan sangat agresif.
|
Kecantikan, konon, cuma setipis kulit. Beauty is skin deep. Namun urusan yang tipis inilah yang sedang mengacaukan dunia Oxana Fedorova. Empat bulan lalu di San Juan, Puerto Riko, gadis Rusia ini dinobatkan menjadi Miss Universe. Mahkota berlian senilai US$ 250 ribu atau sekitar Rp 2,25 miliar bertengger di rambut panjangnya yang legam.
Tiba-tiba, dua pekan lalu, Miss Universe Corporation, milik konglomerat kelas wahid Donald Trump, melansir pengumuman mengejutkan. Oxana Fedorova atau Oksana Fyodorova dipecat. Gelar Miss Universe 2002, Selasa pekan lalu, beralih ke Justine Pasek, gadis Panama yang menempati posisi runner up.
Resminya, Donald Trump menyebut alasan pemecatan Oxana cukup sederhana. Gadis 24 tahun ini dinilai tidak mampu memikul tanggung jawab sebagai ratu. Oxana tak sanggup menghadiri ribuan kunjungan amal maupun komersial yang sudah dijadwalkan. "Tak ada jalan lain," kata Trump. Oxana mesti dipecat.
Namun, keterangan Trump belum cukup memuaskan. Maklum, sepanjang sejarah Miss Universe yang sudah 52 tahun, baru kali ini ada ratu yang dipecat dengan alasan tak sanggup memenuhi tugas.
Sebelumnya, memang ada kasus ratu ayu yang diberhentikan di tengah jalan. Tapi pemecatan yang lalu lebih berlatar belakang moralitas. Amparo Munoz dari Spanyol, Miss Universe 1974, misalnya, dipecat lantaran membintangi film porno. Pihak penyelenggara kompetisi kala itu merilis pernyataan resmi: "Miss Munoz tak sanggup menjalankan tugas keratuan sampai tuntas".
Kemudian, ada Helen Morgan, yang menggegerkan kontes Miss World 1974, ratu sejagat versi Inggris. Nona Morgan hanya empat hari menikmati mahkota. Sebabnya, Morgan yang belum menikah kedapatan memiliki bayi yang berumur 18 bulan.
Lalu, tahun 1983, Vanessa Williams merekam skandal paling terkenal di jagat kontes ratu-ratuan. Williams, kini penyanyi beken, hanya beberapa hari menikmati gelar Miss America pertama yang berkulit hitam. Gelar itu dikembalikan setelah panitia mendapati Williams pernah berpose telanjang untuk majalah porno khusus lesbian—foto yang belakangan juga dimuat majalah Penthouse.
Tindak pemecatan ini langsung menyulut kontroversi hebat. Banyak pihak yang memprotes standar ganda industri kontes. Panitia dengan nyaman menuntut peserta kontes berlagak ekshibisionis, berbikini minim sampai nyaris telanjang, tetapi alergi terhadap pose komersial yang dilakukan ratunya.
Berbekal latar yang demikian, sulit untuk percaya bahwa si cantik Oxana dipecat hanya gara-gara tak sanggup mengikuti irama Miss Universe yang superketat. Tidak mustahil ada penyebab lain di balik layar. Kecurigaan bertambah karena bobot Oxana dikabarkan bertambah 15 pon atau 6,7 kilogram.
Jika benar, ini memang soal serius bagi seorang ratu ayu, simbol industri kecantikan yang dijajakan agresif dan kerap dibungkus acara amal. Tubuhnya tak lagi sempurna untuk gaun-gaun indah buatan perancang papan atas. Melarnya tubuh ini juga mencuatkan rumor bahwa sang ratu sedang hamil, bahkan nama Presiden Rusia Vladimir Putin disebut-sebut sebagai calon ayah si bayi.
Betulkah?
Dari Moskow, Rusia, Oxana menegaskan bahwa dirinya bukan pacar siapa pun, istri rahasia lelaki mana pun, dan juga tidak sedang hamil. Dia juga keberatan dituding sebagai ratu yang malas dan manja. "Saya sudah bekerja keras," katanya sambil melanjutkan, dia memang punya impian lain. Dengan pangkat letnan, gadis bertinggi 1,8 meter ini ingin tetap aktif bertugas sebagai polisi Rusia sembari kuliah hukum di Akademi Kepolisian St. Petersburg.
Oxana pun tak hendak menjadwal ulang mimpinya sampai akhir masa keratuan yang hanya tinggal delapan bulan. Apalagi saat ini ada kakeknya yang gering dan membutuhkan perawatan intensif. Oxana pun mundur sukarela dari takhta. Dia mengaku tidak kecewa dengan keputusan ini. "Saya cukup bahagia karena Justine Pasek, pengganti saya, juga punya darah Slavic dalam tubuhnya," katanya.
Bahagiakah Pasek? Tentu. Gadis 23 tahun ini mengaku senang berkesempatan tinggal di Manhattan, AS, dan sedikit melupakan krisis di tanah airnya. "Negeri saya sedang ribut," katanya. Dengan kondisi ini, Pasek tak keberatan hari-harinya bakal diganggu ribuan acara yang menguras tenaga. Dia pun tak segan berlapar-lapar, hanya dengan camilan pretzel pengganjal perut sepanjang siang hari, agar tubuhnya tetap langsing. Agar mahkota ratu ayu sejagat tetap awet bertengger di kepalanya.
Mardiyah Chamim (New York Post, Pravda, Salon.com)
|