Belum Saatnya Berubah Schroeder kembali berkuasa di Jerman. Tapi ia bakal menghadapi ujian berat. |
Di hari terakhir masa kampanyenya dua pekan silam, Kanselir Gerhard Schroeder membuat pernyataan mengejutkan: Jerman menutup pintu terhadap serangan Amerika ke Irak. Intinya, Jerman tidak mau ikut dalam serangan penggulingan Presiden Saddam Hussein, sekalipun dengan mandat dari Perserikatan Bangsa-Bangsa.
"Kita akan menempuh cara kita sendiri, cara Jerman," kata Schroeder di depan para pendukungnya yang bersorak-sorai. Washington, yang sedang sibuk mencari dukungan dari negara-negara Timur Tengah dan Eropa, terkejut dan tampak terluka betul.
Tapi Schroeder, kandidat yang tengah berjuang menjual ide dan penampilannya di hadapan 88 juta warga Jerman, tidak terlalu peduli. Entah seberapa besar sentimen German way lawan American way itu mempengaruhi tingkat perolehan suara. Yang terang, Schroeder menang tipis. Dia membawa koalisi yang dipimpin oleh Partai Sosial Demokrat (SPD) kembali berkuasa di Jerman, kendati dengan selisih suara sangat tipis.
Pemilu itu merupakan yang terketat sejak Perang Dunia II. Dari penghitungan suara, tampaklah Sosial Demokrat yang berhaluan kiri-tengah itu tidak sepopuler penampilannya dalam Pemilu 1998. Bahkan secara keseluruhan tingkat pencapaiannya melorot 2,4 persen.
Hubungan antara tingkat perolehan suara dan kejadian-kejadian terakhir justru kelihatan jelas dalam penampilan Partai Hijau, mitra koalisi SPD. Partai pencinta lingkungan ini memperoleh 8,6 persen suara, prestasi terbesar dalam sepuluh tahun terakhir. Setelah banjir besar yang melanda Jerman bulan lalu, masyarakat semakin sadar akan lingkungan hidup. Kalau sudah begini, Schroeder harus mendengarkan lebih serius pendapat Partai Hijau, yang ternyata amat berjasa mengantarkan SPD sekali lagi ke pusat kekuasaan.
Posisi tawar Partai Hijau dalam koalisi memang tak dapat dianggap remeh. Dapat diperkirakan, pemerintahan Schroeder akan mendapat tekanan dari mitranya untuk mengegolkan, misalnya, pajak lingkungan. Inilah proyek kesayangan Partai Hijau yang tentu saja tidak disukai kalangan bisnis dan industrialis Jerman.
Bila kerja sama dengan Partai Hijau ternyata berlangsung mulus, Schroeder masih harus menghadapi tantangan dari kelompok oposisi. Partai Uni Kristen Demokrat, yang berhaluan konservatif, telah menunjukkan prestasi bagus dalam Pemilu 2002. Perolehan suara partai yang dipimpin Edmund Stoiber ini meningkat 3,5 persen (menjadi 38,5 persen) dari pemilu sebelumnya. Dengan begitu, Bundesrat (parlemen Jerman) akan didominasi partai-partai oposisi. Partai ini diperkirakan akan berusaha menggunakan setiap kesempatan buat merongrong pemerintah. Dalam satu pernyataannya, Stoiber bahkan berani sesumbar bahwa pemerintahan Schroeder tak akan berumur panjang.
Schroeder menang, tapi Jerman masih terimpit oleh bengkaknya angka pengangguran—empat juta warga menganggur. Juga oleh lemahnya tingkat pertumbuhan (0,6 persen)—laju pertumbuhan terendah di antara negara industri Uni Eropa.
Lantas, apa yang sebenarnya dicari pemilih Jerman dengan memilih wajah lama Schroeder? Jerman, yang berhasil muncul sebagai satu negara industri terhebat setelah kehancurannya dalam perang dunia, tak dapat disangkal mempunyai formula istimewa untuk mengatasi persoalan ekonominya. Negeri itu mengembangkan sistem sosial ekonomi dan politik khas Jerman, yang berlandaskan pada kemitraan tiga pilar: pemerintah, kaum industrialis, dan buruh. Hasilnya, sebuah negara dengan tingkat kesejahteraan yang bagus, yang membayar tenaga buruhnya dengan harga mahal, dengan serikat-serikat buruh yang kuat.
Ingatan tentang masa-masa kejayaan ini rupanya tertanam di memori warga Jerman. Tapi tak disadarinya dunia telah berubah. Dan Jerman, yang mengembangkan birokrasinya terlampau jauh, kehilangan kemampuan kompetitifnya. "Jerman membutuhkan banyak deregulasi," kata pengamat ekonomi Amerika, Roger Kubarych. Ekonom yang tinggal di New York ini menyalahkan mentalitas anti-perubahan yang lahir dan menguat setelah masa kejayaan itu.
Ada satu kesimpulan menarik. Setelah mengalami banyak pergolakan di abad ke-20 (dua perang dunia, satu perang dingin, dan proses reunifikasi dua Jerman), Jerman ingin hidup lebih tenang di abad sekarang. Dan Gerhard Schroeder tahu benar bahwa pengalaman sejarah Jerman berbeda dengan pengalaman negara-negara tetangganya di Eropa, apalagi Amerika. Dan di sinilah mungkin letak kesalahpahaman negara lain terhadap sikap Jerman, khususnya sikap Schroeder dan mitranya dari Partai Hijau, dalam menghadapi tekanan AS yang bernafsu menyerang Irak.
Idrus F. Shahab
|