Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 31/XXXI/30 September - 06 Oktober 2002
   
Luar Negeri

Dukungan yang Tak Kunjung Tiba

Amerika siap menyerang. Tapi Bush belum berhasil mendapat restu untuk menggulingkan Saddam Hussein dengan kekerasan.

Irak sudah dikepung. Hingga pekan lalu, 9.000 personel pasukan Amerika Serikat dalam keadaan siaga di Kuwait dan siap melintas ke negara tetangganya, Irak. Tak jauh, 6.000 tentara AS dari kesatuan lain telah disiagakan di Arab Saudi, dan sewaktu-waktu siap terjun ke medan Irak. Di Bahrain, pasukan AS berkekuatan 4.200 personel menunggu perintah yang sama. Di Qatar, negeri Teluk Parsi lainnya, AS menempatkan 3.000 pasukannya dan menyetok aneka perlengkapan perang yang bakal mendukung segala macam taktik yang akan dipergunakan dalam aksi militer kelak.

AS tidak hanya menunggu. Beberapa kali pesawat tempur AS dan Inggris menyerang tempat-tempat yang diduga instalasi militer Irak. Bahkan pekan lalu mereka menyerang sebuah bandar udara sipil di Kota Basrah, Irak. Inilah bagian dari operasi penggulingan Presiden Saddam Hussein. Entah berapa besar kerusakan yang ditimbulkan, yang terang pada saat yang sama AS tengah menghadapi sebuah medan perang lain yang alot buat ditundukkan: medan diplomasi. Sejauh ini Presiden George W. Bush gagal memobilisasi dukungan, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Di badan internasional, kampanye Bush masih mentok. Padahal, dari London sana, Perdana Menteri Inggris Tony Blair telah memberikan beking khusus, seraya mengeluarkan daftar dosa Saddam untuk mendapat dukungan bagi penyerangan ke Irak. Sedangkan Rusia, Prancis, dan Cina masih menentang keinginan tersebut. Praktis, hanya Inggris seorang—dari empat anggota Dewan Keamanan PBB lain—yang setia dengan pandangan agresif Bush. Untuk mengatasi kemandekan ini, Bush mengirim Marc Grossman, Wakil Menteri Luar Negeri Urusan Politik, ke Prancis dan Rusia pada Jumat dan Sabtu lalu.

Dunia internasional juga menjadi sibuk. Sehari sebelum bertemu Grossman, Presiden Prancis Jacques Chirac mendiskusikan masalah penyerbuan Irak ini dengan Perdana Menteri Cina Zhu Rongji dan menelepon Presiden Rusia Vladimir Putin. Prancis berniat mengajukan dua langkah resolusi. Pertama, meminta agar Irak menerima kembalinya tim inspeksi senjata PBB dan mengancam akan menggunakan segala cara untuk memaksa Irak. Usul kedua adalah tindakan militer. Namun langkah ini sangat bergantung pada hasil kerja tim inspeksi senjata PBB setelah mereka melakukan tugasnya.

Pesimistis dengan suara dunia internasional, Bush kemudian mengalihkan persuasi dan lobi-lobinya ke dalam negeri: Kongres. Dia mengajukan rancangan resolusi penggunaan kekuatan militer untuk menyerang Baghdad dengan alasan melindungi kepentingan keamanan nasional. Namun upaya untuk mendapatkan "cek kosong" dari Kongres kali ini juga mendapat perlawanan sangat keras.

Kepada Menteri Colin Powell, beberapa senator Partai Demokrat mengatakan bahwa permintaan Gedung Putih terlalu berlebihan. Paul Sarbanes menyebut contoh-contoh menggelikan yang diusulkan Bush itu. Termasuk kewenangan AS menggunakan kekuatan militer kalau Saddam menolak mengembalikan tahanan Kuwait yang dipenjara sejak Perang Teluk 1990-1991. Bahkan usul Bush juga memungkinkan serangan ke kawasan lain di Timur Tengah kalau dianggap sebagai ancaman terhadap keamanan kepentingan Amerika. Seorang demokrat senior, Tom Daschle, menyatakan bahwa usul Bush itu tidak bisa diterima karena Bush hanya memolitisir isu Irak.

Satu lagi yang sedang diupayakan Bush di medan diplomasi ini adalah mengaitkan serangan ini dengan kampanye antiterorisme internasional. Sebuah isu yang sangat sensitif bagi kepentingan keamanan Amerika. Sejumlah kritik memang telah dilayangkan kepada pemerintahan Bush. Mereka mempertanyakan relevansi rencana serangan untuk menggulingkan rezim Saddam Hussein dengan perang global melawan terorisme.

Penasihat keamanan Bush, Condoleezza Rice, kebetulan mendapat tugas yang sulit ini. Terakhir, ia menyatakan orang-orang Al-Qaidah telah mengungsi ke Baghdad. Dia juga menuduh rezim Saddam membantu pengikut Usamah bin Ladin mengembangkan senjata kimia. Selain itu, Bush juga yakin bahwa kebencian pemimpin Irak ini jelas-jelas diarahkan ke Amerika. "Orang ini (Saddam Hussein) adalah orang yang mencoba membunuh ayah saya," ujar Bush dalam sebuah acara di Houston, tanah kelahiran Bush senior. Mungkin bagi Bush, ancaman bagi ayahnya sama dengan ancaman bagi negaranya. Dan perang pun bisa digelar.

Purwani D. Prabandari (AP, CNN, Reuters, The New York Times)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data