Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 31/XXXI/30 September - 06 Oktober 2002
   
Luar Negeri

Dr. Nabil Shaath: "Tidak Ada Kata Menyerah"

Kerja pemerintah Palestina kacau-balau. Di Ramallah, Presiden Yasser Arafat dan para pembantu terdekatnya yang tengah sibuk membentuk kabinet baru dan mempersiapkan pemilu justru terkepung bak dipenjara oleh pasukan Israel. Apartemennya yang sekaligus kantornya, yang hanya terdiri empat ruang, dipenuhi lebih dari 250 orang. Tanpa makanan, air, dan listrik yang memadai, mereka masih mencoba mengendalikan jalannya pemerintahan. Mereka berjuang dengan senjata telepon, faks, dan e-mail agar terbebas dari cengkeraman pasukan Israel.

Sementara itu, di Gaza, para pejabat negeri dalam pendudukan Israel juga tak kalah sibuknya. Selain harus menghadapi berbagai serangan pasukan Israel, mereka terus melakukan lobi ke masyarakat internasional.

Menteri Perencanaan dan Kerja Sama Internasional, Nabil Shaath, seolah tak henti bekerja, dari pertemuan ke pertemuan berikutnya, dari satu telepon ke telepon berikutnya. Dia terus mengontak para petinggi Amerika, negara Eropa dan Arab, serta Perserikatan Bangsa-Bangsa, agar mereka menekan Israel supaya menarik diri dari markas Arafat. Penasihat senior Arafat ini juga mendesak masyarakat internasional mengerahkan pasukan penjaga perdamaian untuk memaksa Israel mundur.

Di sela kesibukannya itu Jumat lalu, Shaath meluangkan waktu untuk wawancara telepon dengan wartawan TEMPO Purwani D. Prabandari. Berikut petikannya.


--------------------------------------------------------------------------------

Bagaimana pemerintah Palestina bekerja ketika presiden dan pembantu terdekatnya berada dalam kepungan?

Di Ramallah, mereka memiliki telepon genggam sehingga mereka bisa menghubungi kami di sini (Gaza) dan sebaliknya. Selain itu, mereka juga bisa berkomunikasi dengan para pemimpin dunia. Presiden Arafat hampir seperti berada di penjara, bersama 250 orang di apartemennya seluas 100 meter persegi, yang terbagi atas empat ruang. Ini benar-benar situasi yang sulit. Namun Arafat masih memegang kendali pemerintahan.

Tapi bukankah kini seharusnya Arafat membentuk kabinet baru, melakukan reformasi, dan melakukan persiapan pemilu?

Sekarang ini hampir tidak mungkin melakukan hal semacam itu, sampai Presiden dan para pembantu seniornya bebas. Pengepungan ini harus diakhiri dulu, barulah setelah itu kami bisa segera bekerja.

Apakah menurut Anda pengepungan ini justru bertentangan dengan keinginan Israel dan Amerika untuk mengganti Arafat?

Ya. Saya yakin itu. Sekarang ini rakyat justru bersatu menghadapi musuh asing yang menyerbu tanah Palestina. Dan saya yakin sebenarnya tak seorang pun di dunia ini mau di-dikte oleh negara lain, terutama oleh negara yang menduduki mereka. Dengan ini, rakyat Palestina menjadi lebih bersatu bersama Arafat. Arafat adalah simbol perlawanan kami terhadap pendudukan asing.

Sesungguhnya siapa saja yang diinginkan Israel, dan apakah mereka memang otak tindak kekerasan terhadap warga Israel?

Israel berbohong. Mereka tidak tahu siapa saja yang ada di dalam kompleks kantor dan apartemen Arafat. Mereka hanya mencoba menebak. Dan mereka ingin kami memberi tahu semua nama dan kemudian mereka memutuskan siapa saja yang harus diserahkan.

Apakah Arafat akan menyerahkan orang-orang yang diinginkan Israel?

Tidak ada kata menyerah. Dan kami tidak akan bernegosiasi dengan Israel. Israel harus menerima dan melaksanakan resolusi Dewan Keamanan PBB untuk menarik pasukannya, mengakhiri pengepungan.

Lalu apa yang akan dilakukan?

Kami mengimbau masyarakat internasional agar bersikap tegas. Israel tidak melaksanakan resolusi tetapi tidak satu negara pun yang berjuang keras untuk membuat mereka mematuhinya. Tidak seperti dalam kasus Irak, yang akan diserang Amerika.

Kami meminta PBB mengirim pasukan penjaga perdamaian ke wilayah kami untuk mengakhiri pendudukan Israel. Ada banyak tentara penjaga perdamaian di Mesir, Lebanon, Suriah, dan Dataran Tinggi Golan. Tetapi kenapa tidak ada pasukan penjaga perdamaian di sini, di Palestina, dan mengakhiri pendudukan Israel?

Apakah pengepungan ini akan berdampak pada meningkatnya kekerasan, baik oleh Palestina maupun Israel?

Ya. Kekerasan akan dibalas dengan kekerasan. Dan kita melihat adanya siklus kekerasan, dari satu kekerasan menuju kekerasan berikutnya. Dan ingat bahwa kekuatan kami tidak seimbang. Kami berada di bawah pendudukan. Mereka harus keluar dari negeri kami.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data