Jalan Martir Arafat Israel mengabaikan resolusi PBB yang memintanya berhenti mengepung Arafat.
|
Presiden Palestina Yasser Arafat hidup di antara puing-puing. Untuk kelima kalinya sejak Maret lalu, Israel menggempur dan mengepung kantornya di Ramallah, Tepi Barat. Tapi kali ini keterlaluan. Sudah lebih dari semingggu ini Arafat terisolasi. Ia hanya bisa bertahan di sebuah gedung berlantai dua, sementara bangunan di sebelah-sebelahnya telah rata tanah dibuldoser tank-tank Israel.
Dalam bangunan yang ia huni, pipa air dan pendingin tak lagi berfungsi. "Arafat, yang kini berusia 73 tahun, tidur di lantai dan makan dari makanan kaleng," demikian ditulis kantor berita AFP, yang hanya bisa menghubungi staf Arafat via telepon seluler.
Pasukan Israel tak mengizinkan siapa pun bertemu Arafat, bahkan juga Terie Larsen, Ketua Utusan PBB untuk Timur Tengah. "Sekarang ini kami tak berfungsi apa-apa," kata Larsen, "Situasi akan makin buruk dengan cepat, dan kedua pihak bisa tak terkontrol apabila tak ada yang menengahi." Larsen memperkirakan ada 200-450 orang yang terkurung bersama Arafat, termasuk Menteri Keuangan Salam Fayyad.
Pekan lalu, Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa telah mengeluarkan resolusi yang menuntut Israel berhenti mengisolasi Arafat. Tapi Israel mengabaikannya. "Kecuali Israel benar-benar terdesak dan terpojok," kata Dr. Qadry Hanafi, pakar strategi Israel dari Universitas Ayn el-Sam, Mesir, kepada TEMPO, "Saya pesimistis Israel akan segera menarik pasukannya dari kantor Arafat dan menaati resolusi itu."
Agresi Israel dan resolusi PBB itu ditelan oleh riuhnya genderang perang Presiden Amerika George W. Bush untuk menyerbu Irak. Alih-alih menaati resolusi bernomor 1435 itu, Israel malah memperluas serangan. Terakhir, helikopter Israel menembaki rumah Mohammad Deif, pemimpin kelompok Islam Hamas, melukai 35 orang, termasuk 15 anak kecil. Meski luka parah, Deif dikabarkan selamat.
Abdel Aziz Rantisi, pemimpin Hamas lain, bersumpah akan membalas serangan itu. "Kami akan menyerang Tel Aviv dari sudut mana pun," katanya kepada AFP. Hamas adalah kelompok yang menyatakan bertanggung jawab atas serangan bom bunuh diri ke Tel Aviv, yang menewaskan enam penduduk sipil Yahudi beberapa waktu lalu.
Sebaliknya, Perdana Menteri Israel Ariel Sharon berkeras tak akan menarik pasukannya sebelum Arafat menyerahkan 19 orang penjaganya. Terutama Kepala Intelijen Palestina, Tawfik Tirawi, serta petinggi militer Palestina seperti Abu Awwad, Aini Halloh, dan Khalid Abo Shawis.
Sharon menuduh mereka ikut memberi dana bagi para militan yang melakukan bom bunuh diri ke Tel Aviv itu. Menurut Sharon, sejalan dengan tekanan Amerika ke Irak, mereka ini merencanakan aksi sistematis menyerang Israel. Dalam sebuah wawancara panjang dengan koran Jerusalem Post pekan lalu, ia mengatakan secara militer pasukannya bisa menyelusup masuk ke kantor Arafat dan kemudian menangkap orang-orang tersebut. "Arafat bisa celaka," katanya, "Tapi saya telah berjanji kepada Bush untuk tidak melukainya secara fisik. Maka, operasi itu belum saya perintahkan."
Lewat pengepungan markas Arafat, Sharon ingin memukul Hamas lewat tangan Arafat, atau ingin mengesankan bahwa Arafat adalah juga fundamentalis seperti Hamas. Tapi taktik itu tak berhasil, dan itu membuat persoalan makin kompleks.
Sekalipun mendapat jaminan keselamatan, Arafat mencemooh tawaran Israel. Sikap keras Arafat ini mampu kembali mendongkrak karisma Arafat, yang sempat turun di mata warga Palestina lantaran beberapa waktu lalu ia melengserkan beberapa pejabat teras Palestina atas tekanan Amerika. Arafat kini mengundang pembicaraan damai Israel-Palestina yang luas dengan melibatkan Amerika, Uni Eropa, dan PBB.
Simpati datang dari berbagai penjuru dunia untuk Arafat. Perdana Menteri Denmark, Anders Fogh Rasmussen, yang menjadi tuan rumah Pertemuan Puncak Uni Eropa-Asia, menelepon khusus Arafat untuk menyatakan simpati atas nama negara-negara peserta pertemuan itu. Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad, yang hadir dalam pertemuan itu, mengatakan dalam pidatonya: "Kalau sampai Arafat meninggal dan menjadi martir, seluruh dunia Islam akan meledak."
Tapi, siapa peduli? Spiral kekerasan di Palestina sedang menuju puncak. Rencana serangan Amerika ke Irak membuat rumit soal dan membuat potensi banjir darah menuju derajat yang bakal sulit dikontrol lagi.
Seno Joko Suyono, Purwani Dyah Prabandari (Jakarta), Zuhaid El-Qudsy (Kairo)
|