Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 31/XXXI/30 September - 06 Oktober 2002
   
Iqra

Amelia Yani: "Ada Upaya Melupakan Peristiwa G30S..."

SUARA dan kasak-kusuk satu-dua anggota panitia peringatan Hari Kesaktian Pancasila di Lubang Buaya, tahun lalu, membuat Amelia Yani bak disambar petir. Kata mereka, peringatan itu hanya buang-buang uang. "Kok, seperti itu penghargaan buat bapak kami," kata putri Jenderal Ahmad Yani, yang menyaksikan sendiri pembunuhan ayahnya di pagi buta 1 Oktober 1965 itu.

Lalu Amelia bersama putra-putri ketujuh pahlawan revolusi yang lain bersegera menyusun sebuah buku, yang kini terbit dengan judul Kunang-Kunang Kebenaran di Langit Malam. "Kami hanya ingin masyarakat tahu betapa traumatiknya pengalaman kami yang menyaksikan peristiwa itu," ujarnya.

Kepada H. Darmawan Sepriyossa dari TEMPO, Amelia, 54 tahun, mengurai pengalamannya pada dini hari terlaknat itu. Petikannya:


--------------------------------------------------------------------------------

Bagaimana awal ide pembuatan buku ini?

Spontan saja. Tanggal 5 Oktober 2001, putra-putri pahlawan revolusi berkumpul di Museum Sasmita Loka. Tiba-tiba Yanti Nasution merasa banyak berita kontroversial di televisi seputar G30S. Peristiwa itu sepertinya akan dihilangkan, sengaja dilupakan. Dua minggu kemudian, dalam konferensi pers kami menguraikan isi hati. Berita yang turun esoknya juga kami rasa kurang signifikan. Inilah pentingnya buku ini.

Mungkin hanya kesan Anda dan kawan-kawan?

Enggak juga. Misalnya suara-suara dari panitia di Lubang Buaya sendiri bahwa upacara 1 Oktober itu makan biaya. Itu membuat kita sakit hati. Kok, begitu penghargaan untuk bapak-bapak kita?

Prosesnya?

Satu tim meriset, mewawancarai kami, mengumpulkan dan mengolah data. Tapi drafnya tak memuaskan kami. Tidak fokus. Baru fokus setelah kami ganti penulis dan membatasi tulisan hanya pada peristiwa 30 September-5 Oktober.

Disebut-sebut "orang ketiga" yang merenggangkan hubungan Pak dan Bu Yani, justru saat 30 September itu?

Saya rasa normal saja kalau Bapak punya affair. Bapak kan ganteng sekali (tertawa). Ibu pernah bercerita, kalau Bapak pulang kantor, itu istri-istri perwira sudah duduk di karpet ruang tamu hanya untuk melihat Bapak lewat. Memang pada hari-hari menjelang 30 September itu hubungan Bapak-Ibu sedang agak renggang. Ibu pun minta izin menyendiri di rumah Jalan Suropati.

Begitu seriuskah keretakan ini?

Tidak. Ibu terbiasa tirakat setiap malam ulang tahun. Tak mau diganggu. Dua alasan mengapa waktu kejadian Ibu tak berada di tempat adalah karena Ibu tirakat dan hubungan Ibu-Bapak yang sedang dingin.

Benarkah Bob Hasan ada di baliknya, mengenalkan Bapak pada Ibu Heidi?

Enggak. Itu affair sepintas.

Mengapa Anda membuka rahasia ini?

Untuk menjawab keingintahuan orang banyak, kok waktu itu Ibu Yani tak ada di rumah. Tapi itu menjadi penyesalan Ibu sampai wafatnya.

Kabarnya, keluarga Pak Yani hidup mewah?

Tidak. Kalau mungkin sedikit lebih, itu karena bapak Menteri Panglima AD. PKI memang mengumbar fitnah.
Misalnya mengatakan bahwa prajurit beli singlet saja tak bisa, para jenderal memiliki jam dinding dari emas. Keterlaluan.

Pak Yani mendapat rumah dinas di Taman Suropati karena usul Bung Karno setelah melihat rumah dinas di Jalan Lembang kurang layak. Dibandingkan dengan rumah Menteri Panglima AU di Kebayoran, rumah Menteri Panglima AL (kini Wisma Elang) di Jalan Diponegoro, enggak ada apa-apanya. Dua rumah itu dulu seperti istana.

Anda menulis, ketujuh pahlawan disiksa sebelum dibunuh?

Banyak orang bilang di Lubang Buaya tak ada penyiksaan. Padahal di rumah pun kami melihat penyiksaan. Bapak-bapak kami diseret-seret, ditarik seperti binatang, dilempar ke truk. (Soal alat kelamin para jenderal yang kabarnya dipotong:) Saya lihat fotonya di Lubang Buaya, besar sekali dalam cahaya lampu. Kalau hanya karena pembusukan, alat kelamin itu tak akan tampak begitu. Ada semacam irisan yang rapi, ada semacam selang putih dalam penis yang terlihat keluar.

Cornel Paper menyatakan tidak seperti itu....

Dokter yang memeriksa mengatakan bola mata bapak kami juga keluar. Mengapa kita selalu percaya pada Cornel Paper? Mereka hanya orang asing yang juga tidak melihat sendiri.

Bisakah buku ini meluruskan persepsi masyarakat?

Saya yakin, soalnya kami menuliskan apa yang kami alami. Bukan orang lain yang hanya berteori.

Anda dan keluarga punya ganjalan pada Bung Karno tentang hal ini?

Dulu, ya. Sakit juga saat mendengar Bung Karno menyatakan bahwa kematian bapak-bapak kami hal yang biasa dalam revolusi. Tetapi setahun kemudian Bung Karno ziarah ke makam Bapak dan menangis.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data