Antara Lenso dan Warung Pinggir Jalan Gaya hidup mewah mewarnai pergaulan segelintir pejabat menjelang tragedi G30S. Tapi banyak juga pejabat yang tetap hidup sederhana. |
"Mari kita bergembira, suka ria bersama…."
Lagu pengiring tarian lenso itu seakan sudah menjadi lagu wajib pada pertengahan 1960-an. Dalam film Pengkhianatan G30S-PKI, yang kini tak lagi diputar, diperlihatkan bagaimana acara-acara dansa lenso itu dilangsungkan di tempat mewah seperti Istana atau Hotel Indonesia. Sedangkan di jalanan, lautan rakyat hidup dalam kemiskinan. Untuk membeli beras atau minyak tanah pun mereka harus antre.
Kontras kehidupan kaum elite dan rakyat jelata memang menjadi bumbu menjelang meletusnya tragedi G30S. Kesenjangan sosial tak cuma terjadi di kalangan sipil, tapi juga di lingkungan tentara. Tak aneh, selain kata "dewan jenderal" yang konon berniat mengudeta Presiden Sukarno, ada kata populer lain yang dipakai buat memotivasi prajurit untuk menculik para jenderal, yakni "kabir" alias kapitalis birokrat. Istilah itu lazim ditujukan pada kelompok pejabat negara yang hidup mewah layaknya pengusaha.
Dalam film Pengkhianatan G30S-PKI, seorang prajurit malah terdengar terang-terangan mengumpat, "Prajurit beli kaus singlet saja tak bisa, sedang jenderal jam dindingnya saja terbuat dari emas." Benarkah para jenderal hidup bergelimang kemewahan?
"Itu fitnah yang keterlaluan," kata Amelia Yani. Putri ketiga Jenderal Ahmad Yani itu bercerita betapa keluarga besar mereka dulu harus hidup berdesak-desakan di rumah dinas yang sempit di Jalan Lembang dan Surapati, Jakarta. "Rumah yang kami tempati itu tak ada artinya kalau dibandingkan dengan rumah dinas Menteri Panglima Angkatan Udara di Kebayoran dan Menteri Panglima Angkatan Laut, yang sekarang menjadi Wisma Elang, di Jalan Diponegoro."
Menu makan sehari-hari keluarga jenderal itu pun, menurut Amelia, biasa saja. "Cuma nasi dengan lauk sayur, tempe, dan kadang disertai ayam goreng," katanya. Bila ada anak yang berulang tahun, barulah Jenderal Yani mengajak mereka makan di luar. Biasanya mereka makan di restoran Cahaya Kota di dekat Tugu Tani. "Terkadang bila Bapak ingin tambah makan kerang di Pasar Baru tapi uangnya tak cukup, cuma Ibu dan Bapak yang masuk restoran. Anak-anak menunggu di mobil," ujarnya.
Namun Amelia tak membantah ayahnya sering bermain golf, olahraga yang saat itu tergolong sangat mewah. "Bapak biasanya main golf dengan Bob Hasan," ujarnya. Yani mengenal Bob sejak 1958. Ketika itu, Bob masih berusia 30-an tahun, tapi sudah menjadi pengusaha dan punya pabrik.
Bob pula yang kabarnya mengenalkan Yani kepada seorang perempuan bernama Heidi. Wanita blasteran Manado-Jerman tersebut cukup dikenal dalam pergaulan kalangan atas masa itu. Bahkan Presiden Sukarno kabarnya sangat mengaguminya dan keduanya sempat menjalin hubungan asmara.
Hadirnya perempuan lain itu membuat Ibu Yani marah. Pada malam penculikan, selain sedang tirakatan, Ibu Yani sebetulnya juga sedang ngambek dan, karena itu, memilih tidur di rumah di Jalan Surapati. "Saya rasa wajar saja kalau Bapak punya affair karena Bapak itu orangnya ganteng sekali," kata Amelia Yani.
Menurut Willem Syukur, salah satu penulis buku memoar anak-anak para Pahlawan Revolusi, Jenderal Yani memang tergolong paling kaya di antara para jenderal. Saat itu, misalnya, Yani sudah biasa bepergian naik helikopter. Di garasi rumahnya terparkir sebuah jip dan sedan Impala, yang ketika itu tergolong mewah. Bila berlibur, kata Willem, mereka sekeluarga kerap pergi ke Pacet di kawasan Puncak, Jawa Barat. "Di tempat itu Yani memiliki dua vila pribadi," ujarnya.
Namun Amelia berkukuh orang tuanya tak punya rumah pribadi. "Ketika meninggal, Bapak enggak meninggalkan apa-apa, hanya meninggalkan nama. Enggak ada deposito, enggak ada proyek," ujarnya.
Dibandingkan dengan keluarga Yani, keluarga Jenderal M.T. Harjono lebih bersahaja. Mereka tak punya televisi di rumah. "Yang ada cuma sebuah radio tua," kata Rianto Nurhadi, putra ketiga Jenderal Harjono. Perabot rumah pun inventaris dari Markas Besar Angkatan Darat.
Adapun mobil dinasnya sedan Dodge berwarna hijau tentara. Sedangkan mobil pribadi sang Jenderal cuma sebuah Mazda kotak yang sudah tua. Terkadang mobil ini mogok di jalan. Dengan mobil inilah Harjono membawa seluruh keluarganya berekreasi di akhir minggu.
Riri, panggilan akrab Rianto, mengenang bahwa ia bersama keempat saudaranya harus berdesakan duduk di kursi belakang mobil yang sempit. Bila jalan-jalan, Jenderal Harjono hanya membawa keluarganya ke Pecenongan untuk makan mi di warung atau ke Cikini untuk minum es. Jarang sekali mereka makan di restoran.
Satu-satunya kemewahan yang amat dinikmati Jenderal Harjono, menurut Riri, adalah mendengarkan musik klasik dari piringan hitam tuanya sambil menyirami pohon anggrek kesayangannya di pagi hari. Kemewahan yang tak seberapa itu pun harus terusik karena Ibu Harjono diam-diam kerap menjual bunga anggrek suaminya untuk menutup kebutuhan keluarga. Jenderal Harjono sebetulnya tahu tindakan istrinya. Tapi ia diam saja dan tak mau menegur karena tahu istrinya terpaksa melakukan hal itu.
Kondisi ekonomi keluarga Jenderal Soetojo hampir sama dengan Jenderal Harjono. Mereka memang punya televisi, tapi tak punya kendaraan pribadi. "Bapak cuma punya mobil dinas buatan Inggris," kata Letnan Jenderal Agus Widjojo, putra tertua Jenderal Soetojo, yang kini Ketua Fraksi TNI/Polri di MPR.
Lain lagi kondisi keluarga Jenderal Nasution. Sehari-hari Pak Nas—panggilan akrab Nasution—cuma menggunakan kendaraan dinas berupa jip. Adapun mobil pribadinya sebuah sedan Dodge model lama pemberian seorang famili. Di rumah Menteri Koordinator Pertahanan dan Keamanan itu juga ada sebuah pesawat televisi dan sebuah penyejuk udara yang baru dipasang di kamar.
Dibandingkan dengan keluarga Harjono dan Soetojo, kehidupan keluarga Nasution jelas lebih mapan. Namun Yanti Nasution, putri sulung Pak Nas, mengakui kehidupan keluarga Yani lebih baik ketimbang keluarganya.
Nasution, yang gemar berolahraga tennis, dikenal sebagai jenderal yang jujur. Tiap kali pergi ke luar negeri untuk membeli senjata, ia tak penah mengambil uang komisi. Ia juga selalu mengembalikan sisa uang jalan saat melakukan kunjungan ke daerah. "Itu sebabnya Ayah enggak punya apa-apa sampai hari tua," ujar Yanti sambil terbahak. Jenderal Nasution juga tak suka pesta dan dansa-dansi lenso. "Kalau Mama ikut lenso, Ayah pasti marah," ujar Yanti.
Dari kalangan pejabat sipil, contoh kesederhanaan misalnya terlihat dari (almarhum) Oei Tjoe Tat. Dalam memoarnya, bekas Menteri Negara Diperbantukan kepada Presidium Kabinet ini menuturkan bahwa fasilitasnya sebagai menteri sangat terbatas. Ia hanya mendapat gaji bulanan serta mobil dinas menteri berikut sopir, bensin, dan biaya perawatan. Ada lagi sebuah mobil VW kodok yang digunakan untuk keperluan pribadi.
Semua fasilitas dan penghasilan sebagai menteri itu jauh lebih kecil ketimbang penghasilan Oei ketika masih aktif berpraktek sebagai advokat. Untuk mencegah agar keluarganya tidak terlalu kekurangan, Oei menjual mobil pribadi ditambah beberapa barang perhiasan istrinya. Uangnya kemudian dipinjamkan kepada teman dekat yang tepercaya untuk "diputarkan". Mereka menerima tambahan penghasilan sekian persen bunga dari uang titipan tersebut.
Tapi ada juga sosok Jusuf Muda Dalam, Menteri Negara Urusan Bank Sentral yang dikenal suka berfoya-foya. Jusuf adalah sobat kental Bung Karno dalam urusan pesta dan wanita. "Para istri pejabat tinggi tahu bahwa perempuan-perempuan cantik kalau butuh uang selalu minta kepada Jusuf," ujar istri Oei Tjoe Tat, Rika. Namun Rika menuturkan, kehidupan sehari-hari Jusuf sendiri sebetulnya biasa saja. Istrinya tidak bergaya glamor.
Kendati punya gaya berbeda-beda, semua tokoh itu akhirnya menemui nasib yang tragis. Yani dan para jenderal "kanan" lainnya—kecuali Nasution—menemui ajal di Lubang Buaya. Sedangkan Oei dan Jusuf, yang dituduh "kiri" dan pro-Sukarno, harus meringkuk di dalam penjara Orde Baru.
Nugroho Dewanto, Dwi Arjanto, Iwan Setiawan, Darmawan Sepriyossa
|