Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 31/XXXI/30 September - 06 Oktober 2002
   
Iqra

Satu Peristiwa, Banyak Ceritera

Berikut perbandingan beberapa fakta dari peristiwa 1965 yang dikemukakan dalam buku Amelia Yani dan kawan-kawan dengan buku-buku serta sejumlah artikel lain yang pernah diterbitkan.

Soal Kondisi Para Jenazah

Amelia Yani

Kunang-Kunang Kebenaran di Langit Malam (2002)

Secara umum, bisa dikatakan bahwa kondisi fisik para korban kekejaman G30S itu masih utuh, dalam arti tak ada satu bagian tubuh pun yang terlepas dari struktur keseluruhan, meskipun semuanya tampak menggembung dan lebam-lebam.

Soegiarso Soerojo
Siapa Menabur Angin Akan Menuai Badai (1988)

Mereka (Pemuda Rakyat dan Gerwani—Red.) yang sudah kehilangan sifat-sifat kemanusiaannya itu menusuk-nusukkan pisau ke tubuh para korban. Bahkan para korban yang sudah tak berpakaian itu dipotong kemaluannya dengan silet dan dimasukkan ke mulut.

Ben Anderson
"How Did the Generals Die?" (Jurnal Indonesia No. 43, April 1987)

Tak ada satu pun mata dari para jenderal ini yang dicungkil dan tak ada satu pun kemaluan para jenderal yang diputus. Hasil visum pula menunjukkan bahwa tak ada tanda-tanda penyiletan. Kebanyakan korban mati kena tembakan, di samping mengalami trauma berat.

Saskia Eleonora Wieringa
Penghancuran Gerakan Perempuan di Indonesia (1999)

Semua koran (Angkatan Bersenjata 5 November, Duta Masyarakat dan Sinar Harapan 6 November, Berita Yudha 7 November 1965) menyiarkan "pengakuan jujur" dari seorang perempuan lima belas tahun, hamil tiga bulan, bernama Jamilah, yang diberi julukan "Srikandi Lubang Buaya" (yang menuturkan pengalamannya):

"Hari itu dan hari berikutnya kami latihan… dan kira-kira jam tiga malam kami dibangunkan… diperintahkan untuk mengganyang kabir dan Nekolim. Ada sekitar 500 orang berkumpul di sana, 100 orang di antaranya wanita.

Kepada anggota wanita Gerwani, termasuk Jamilah, dibagikan pisau-pisau lipat dan silet…. Dan Ton pimpinan kami memberi perintah supaya kami menikam kemaluannya…. Kemudian kami juga ikut menyiksa orang itu.… Dan orang-orang Gerwani meneruskan seperti yang sudah, menikam dan memicis kemaluannya dan seluruh tubuhnya sampai ia mati." (Ini menjelaskan bagaimana dan kapan kampanye soal 'penyiletan' dan 'penyiksaan' itu mulai direkayasa.—Red.)

Penuturan Hendro Subroto (wartawan yang memotret pengangkatan jenazah para jenderal dari Lubang Buaya pada 4 Oktober 1965 Wawancara TEMPO, Maret 2001)

"Menurut saya, mereka (para jenderal—Red.) hanya luka tembak, tidak dianiaya atau disayat-sayat. Seperti yang saya katakan, orang mati karena penganiayaan dan penembakan menghasilkan kondisi jenazah yang berbeda.…

Pada ketujuh jenazah itu tidak ada pembengkakan…. (Hendro menunjukkan kepada TEMPO setumpuk foto hitam putih dan menunjukkan salah satunya—Red.) Alat kelamin jenderal ini tidak dipotong dan disayat-sayat. Coba Anda lihat. Masih utuh, kan? Tujuh jenazah itu memang telanjang saat diangkat.

Soal Identifikasi Pasukan Cakrabirawa

Amelia Yani

Kunang-Kunang Kebenaran di Langit Malam (2002)

Amelia menyatakan di malam penculikan tersebut, mereka bisa mengenali bahwa mayoritas pasukan itu "berseragam Cakrabirawa".

Amelia Yani
Ahmad Yani, Profil Seorang Prajurit TNI (1988)

Tak ada deskripsi dari si penulis bahwa pasukan yang menculik ayahnya dapat dikenali sebagai Cakrabirawa. Tentang penyerangan itu dia hanya menulis "... tiba-tiba kami terkejut oleh suara tembakan gencar dan suara lapangan tentara yang berlarian. Terdengar suasana hiruk-pikuk."

Soal Ibu Yani pada Malam Penyerangan

Amelia Yani

Kunang-Kunang Kebenaran di Langit Malam (2002)

Menurut Amelia, pada malam penculikan itu (30 September 1965) ibunya tidak berada di rumah keluarga mereka di Jalan Lembang. Saat itu Ibu Yani hendak tirakatan di rumah dinas Menteri Panglima Angkatan Darat di Jalan Taman Suropati 10. Nyonya Yani itu berulang tahun pada 1 Oktober. Dan dia ingin merayakannya dengan cara melek semalam suntuk. Dituliskan pula di situ bahwa hubungan antara Ahmad Yani dan istrinya sudah sedikit mendingin lantaran adanya orang ketiga dalam keluarga mereka. Pada pukul lima pagi (1 Oktober 1965), Ibu Yani kembali ke Jalan Lembang dan mendapati anak-anaknya sedang tercekam ketakutan.

Amelia Yani
Ahmad Yani, Profil Seorang Prajurit TNI (1988)

Penulis tak menggambarkan soal dinginnya hubungan kedua orang tuanya.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data